Saling Tikam, Saling Sandera

Oleh: Hendri Chaniago
Kamis: (8/7/2027)

Ramai. Seru. Sekaligus bikin ngeri-ngeri sedap.

Itulah gambaran republik kita hari-hari ini. Panggungnya bukan di Senayan. Bukan juga di Istana. Tapi di seputar segitiga emas: Kejagung, Polri, dan TNI.

Tontonannya jelas. Saling intip. Saling sidik. Lalu, saling mengunci.

Semua bermula dari gebrakan Kejaksaan Agung. Melalui gedung bundar Jampidsus, mereka lagi galak-galaknya. Kasus korupsi Badan Gizi Nasional (BGN) dibongkar. Tidak tanggung-tanggung, dua jenderal polisi disikat. Satu sudah purnawirawan. Satunya lagi jenderal aktif. Masih segar. Masih punya pengaruh.

Gedung Trunojoyo tentu gerah. Marwah institusi seperti dicoreng di muka umum.

Polisi tidak tinggal diam. Hukum alam berlaku: ada aksi, ada reaksi. Dan reaksinya secepat kilat.

Tiba-tiba saja, berkas-berkas lama ditiup lagi debunya. Kasus korupsi bailout PLN terkait batu bara mendadak naik panggung. Belum cukup, kasus lama Asabri dan Krakatau Steel kembali diutak-atik. Publik paham betul ini bukan sekadar penegakan hukum biasa. Ini serangan balik.

Puncaknya terjadi di sebuah restoran. Suasananya mungkin lagi santai, aroma makanan masih mengepul. Tiba-tiba personel polisi datang. Restoran yang diduga jadi tempat transit atau pertemuan orang-orang Jampidsus itu digeledah.

Hasilnya mencengangkan. Uang tunai Rp 60 miliar disita. Angka yang bikin rakyat jelata melongo sambil menghitung berapa porsi bakso yang bisa dibeli.

Situasi makin panas. Jampidsus merasa terancam. Rumah dinasnya mulai diintai. Di sinilah plot twist-nya muncul. Siapa yang datang menjaga. TNI.

Kini, rumah sang jaksa agung muda dikawal ketat oleh tentara berseragam loreng. Kehadirannya sudah cukup mengirim pesan kuat bahwa di belakang jaksa ada kekuatan lain.

Lengkap sudah. Segitiga maut terbentuk. Polisi mengincar jaksa, jaksa menciduk polisi, tentara menjaga jaksa.

Kita yang di warung kopi ini cuma bisa menyeruput kopi hitam yang makin dingin, sambil geleng-geleng kepala.

Urusannya bukan lagi penegakan hukum yang tulus demi menyelamatkan uang rakyat. Ini sudah masuk ranah urusan saling senggol jenderal dan bongkar celengan.

Istilah kerennya: saling sandera.

Kalau semua lembaga punya “kartu mati” lawannya, ujungnya gampang ditebak. Mereka akan duduk bersama, ngopi-ngopi, lalu sepakat untuk sama-sama lupa. Kasus BGN menguap, kasus PLN masuk laci lagi. Damai itu dianggap lebih indah bagi mereka.

Tapi kalau mereka beneran tarung sampai titik darah penghabisan, publik bakal tahu seberapa bobroknya sistem di dalam sana.

Kita lihat saja kelanjutannya. Apakah ini perang bintang yang sesungguhnya, atau sekadar drama Korea versi lokal yang episodenya berakhir antiklimaks.

Sambil nunggu kelanjutannya, mas… tambah kopinya satu lagi. Agak manis ya, biar hidup gak sepahit berita hari ini. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp