Sisi Lain Rompi Oranye Bang Suhardiman

Oleh: Hendri Chaniago.
Rabu (1/7/226)

Perih. Benar-benar perih.
Sore tadi dada saya rasanya sesak sekali. Ada bongkahan batu besar yang tiba-tiba menyumbat tenggorokan. Saya melihat video itu. Berulang kali. Di layar ponsel.

Di video itu, saya melihat sosok yang sangat saya kenal. Namanya Bang Suhardiman Amby. Sore tadi, dia keluar dengan pakaian yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Rompi oranye. Mengkilat. Mencolok mata.

Tangannya diborgol. Besi dingin itu melingkar rapat di pergelangan tangannya. Lalu, terdengar sorakan. Riuh. Sekelompok orang meneriakinya saat dia digiring menuju mobil tahanan. Menembus sore yang mendung.

Saya tertegun. Air mata ini rasanya sudah di ujung kelopak. Mau tumpah, saya tahan. Hati saya ngilu. Serasa mau menangis saat itu juga. Sungguh tak disangka, hidup bisa berbalik secepat ini.

Kami berteman lama. Cukup lama.

Di dunia kita, pertemanan itu dinamis. Kami pun pernah mengalaminya. Kemarin, saat musim pilihan politik tiba, hubungan kami sempat renggang. Biasa. Beda pilihan. Ego masing-masing sempat naik. Kami menjauh sebentar. Gengsi-gengsian.

Tapi, dasar dasarnya memang kawan. Politik tidak bisa membunuh rasa kegengsian. Selesai hiruk-pikuk pesta demokrasi itu, kami bersalaman lagi. Kami baikan. Duduk bersama lagi. Dan, tentu saja, tertawa terpingkal-pingkal lagi. Melupakan ketegangan yang lalu.

Di mata saya, Bang Suhardiman itu bukan sekadar sosok formal. Dia itu orang lucu. Asli, humoris sekali. Sukanya membuat orang ketawa. Kalau sudah bercanda, suasana tegang bisa langsung cair.

Ada satu ciri khasnya yang selalu membuat saya tersenyum sendiri kalau mengingatnya: bicaranya cepat sekali. Kadang saking cepatnya, saya sampai kesulitan mencerna artinya. Harus berpikir dua kali untuk paham maksudnya. Tapi di situlah letak lucunya. Dia adalah manusia yang hidup, yang punya energi besar.

Memori saya langsung melompat ke beberapa waktu lalu. Baru saja rasanya. Belum lama.

Usai acara pembukaan MTQ Riau ke-44 kemarin. Tiba-tiba, layar ponsel saya menyala. Ada pesan masuk. Dari beliau.

Ternyata dia mengirimkan sebuah tautan video YouTube. Isinya rekaman acara pembukaan MTQ yang baru saja usai. Belum sempat saya balas, sebuah pesan teks menyusul. Isinya sangat khas dia. Polos dan apa adanya.

“Tolong di potong-potong vidio abg adinda, dan masukan ke tiktok,” pintanya.

Saya tersenyum membaca pesan itu. Ada rasa manja selayaknya seorang abang kepada adiknya. “Siap, Bang,” jawab saya spontan.

Tanpa pikir panjang, video itu langsung saya teruskan ke editor saya. “Kerjakan segera, sesuaikan dengan permintaan Abang kita,” perintah saya waktu itu. Kami ingin dia tampil bagus di medsos.

Kini, video-video pendek di TikTok itu mungkin masih berputar di layar gawai ribuan orang. Menampilkan sosoknya yang tersenyum dan bersemangat.

Namun sore ini, realitas menyuguhkan video yang berbeda jauh. Video berdurasi pendek, tanpa edit, tanpa musik latar yang ceria. Hanya suara riuh sorakan dan detak langkah kaki yang dipaksa cepat menuju mobil tahanan.

Hukum harus tegak. Saya tahu itu. Semua orang tahu itu. Proses hukum harus dihormati, dan biarlah keadilan mencari jalannya sendiri. Saya tidak akan masuk ke ranah perdebatan sana.

Tapi malam ini, biarkan saya melepaskan baju profesi sejenak. Biarkan saya menjadi manusia biasa. Menjadi seorang sahabat yang sedang sedih.

Menatap cangkir kopi yang mulai mendingin di warung, sambil mengirimkan doa terbaik untuk seorang abang yang sedang mendapat ujian sangat berat.

Tangan boleh diborgol, Bang. Rompi boleh oranye. Tapi tawa, kelucuan, dan pesan WhatsApp terakhir dari abang tetap tinggal di kepala saya.

Tetap kuat, Bang Suhardiman. Persahabatan tidak ikut ditahan sore tadi. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp