Penulis: H. Marwan Yohanis, S.Sos., M.I.Kom
Kuantan Singingi– Ada banyak cara melihat perjalanan sebuah daerah. Bisa melalui pembangunan, ekonomi, budaya, prestasi, maupun dinamika politiknya. Namun ada satu cara lain yang menarik: melihat orang-orang yang dipercaya memimpin masyarakatnya.
Di Kuantan Singingi, ada dua sosok yang memiliki perjalanan menarik untuk diperhatikan. Ke duanya sama-sama pernah menjadi kepala desa. Kini, keduanya berada di dua posisi strategis. Yang satu dipercaya sebagai Ketua DPRD Kuantan Singingi. Sementara yang satunya lagi dipercaya menjalankan amanah sebagai Plt. Bupati Kuantan Singingi.
Dua jabatan. Dua ruang kewenangan. Dua perjalanan. Namun memiliki titik awal yang sama : Desa. Desa sekolah kepemimpinan yang nyata.
Kuantan Singingi belakangan semakin dikenal luas Pacu jalur membawa Kuantan Singingi ke panggung yang semakin besar. Budaya, tradisi, kreativitas masyarakat, hingga dinamika sosial dan politik daerah ikut menjadi perhatian.
Namun dibalik semua itu: ada hal yang tidak kalah penting: bagaimana daerah ini dikelola dan dipimpin. Kepemimpinan tidak selalu dimulai dari gedung pemerintah. Tidak selalu dimulai dari jabatan tinggi. Kadang, kepemimpinan justru ditempa dari tempat yang sederhana: DESA.
Di desa, seorang kepala desa berhadapan langsung dengan masyarakat. Keluhan warga tidak datang dalam bentuk angka statistik. Jalan rusak bukan hanya data pembangunan, tetapi jalan yang dilalui oleh kepala desa dan masyarakat setiap hari.
Pelayanan publik bukan hanya sekedar prosedur, tetapi kebutuhan nyata warga. Pembangunan bukan hanya target dalam dokumen, tetapi sesuatu yang ditunggu masyarakat. Disanalah seorang pemimpin belajar bahwa setiap keputusan memiliki dampak. Bahwa kebijakan memiliki wajah manusia. Dan bahwa kepercayaan masyarakat harus dijaga dengan kerja nyata.
Dari desa ke ruang keputusan. Kini pengalaman tersebut dibawa ke ruang yang lebih luas. Sebagai ketua DPRD, terdapat tanggung jawab kelembagaan sebagai fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Sementara, sebagai Plt. Bupati, terdapat tanggung jawab dalam memastikan penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan publik, dan agenda pembangunan daerah tetap berjalan.
Kewenangan keduanya tentu berbeda. Tetapi masyarakat yang menjadi tujuan pelayanan tetap sama: masyarakat Kuantan Singingi. Karena itu, perjalanan keduanya menarik bukan semata-mata bukan karena jabatan kini disandang.
Yang menarik adalah bagaimana pengalaman memimpin dari tingkat desa dapat menjadi bekal ketika tanggung jawab semakin luas. Sebab, semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula konsekuensi dari keputusan yang dibuat.
Jabatan bukan hanya kehormatan. Jabatan adalah amanah. Kewenangan bukan sekedar kekuasaan. Kewenangan adalah tanggung jawab. Ketika Pengalaman dari Bawah Menjadi Bekal. Pengalaman memimpin desa memberikan satu hal penting: kedekatan dengan masyarakat.
Seorang pemimpin melihat langsung bagaimana kebijakan dirasakan warga. Ia mengetahui dibalik satu program terdapat keluarga yang menunggu manfaatnya. Di balik satu anggaran terdapat kebutuhan masyarakat. Dan di balik sebuah keputusan pemerintah terdapat kehidupan yang mungkin berubah.
Karena itu, ketika pengalaman tersebut dibawa ke tingkat pemerintah yang lebih tinggi, harapannya sederhana: kedekatan dengan masyarakat tidak ikut ditinggalkan.
Pembangunan tidak hanya dilihat dari atas. Tetapi juga dari bawah. Dari rumah masyarakat. Dari pasar. Dari sekolah. Dari kebun. Dari jalan desa. Dari kehidupan sehari-hari warga. Sebab keberhasilan pemerintah pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak program yang dibuat. Tetapi tentang seberapa jauh masyarakat merasakan manfaatnya.
Dua Mantan. Mungkin karena itu istilah ”Dua Mantan” menjadi menarik. Bukan untuk mempertentangkan keduanya. Bukan pula untuk menentukan siapa yang lebih hebat. Tetapi untuk melihat sebuah perjalanan.
Mantan kepala desa…., tetapi pengalaman memimpin tidak menjadi mantan. Mantan kepala desa…, tetapi kedekatan dengan masyarakat semestinya tidak menjadi mantan. Mantan kepala desa…., tetapi semangat pengabdian terus dibawa ke manapun perjalanan politik berlanjut.
Hari ini, keduanya berada pada posisi yang memiliki tanggung jawab besar bagi daerah. Dan publik tentu akan melihat bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan dalam kebijakan dan kerja pemerintah.
Jabatan Akan Berganti. Dalam politik, satu hal pasti. Tidak ada jawaban yang abadi. Kursi akan bergoyang dan bergabti. Tokoh akan datang dan pergi. Masa jabatan akan berakhir. Tetapi jejak sebuah keputusan dapat bertahan lebih lama.
Karena itu, ukuran sebuah kepemimpinan bukan hanya berapa lama seseorang berada di sebuah kursi. Melainkan apa yang dilakukan ketika kepercayaan itu berada di tangannya. Apa yang diperbaiki. Apa yang diperjuangkan. Apa yang ditinggalkan. Dan seberapa jauh masyarakat merasakan manfaatnya.
Kuantan Singingi dan Harapan Besar. Kuantan Singingi sedang tumbuh dalam sorotan yang semakin luas. Pacu jalur membawa kebanggaan. Budaya menjadi identitas. Masyarakat terus bergerak. Dinamika daerah terus berkembang.
Di tengah semua itu, masyarakat tentu membutuhkan pemenuhan yang mampu bekerja, mendengar, merespons dan mempertanggung jawabkan dari setiap keputusan. Kritik perlu ditempatkan sebagai bagian dari demokrasi. Pengawasan sebagai mekanisme koreksi.
Perbedaan pandangan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Sebab pemerintahan yang sehat bukan pemerintahan tanpa kritik. Melainkan pemerintahan yang mampu mendengarkan kritik dan menjadikannya bahan untuk memperbaiki diri.
Dari Desa Untuk Daerah
Pada akhirnya, cerita ”Dua Mantan” bukan sekedar cerita tentang dua orang yang pernah menjadi kepala desa. Ini adalah cerita tentang perjalanan. Tentang bagaimana seseorang dapat memulai dari tempat sederhana, kemudian dipercaya memikul tanggung jawab yang lebih luas.
Dan ada satu pertanyaan yang layak terus diingat oleh siapa pun yang memegang amanah: Ketika Jabatan semakin tinggi, apakah kita masih mampu melihat kehidupan dari bawah? Sebab pemimpin yang berada di tengah masyarakat memiliki pengalaman yang sangat berharga.
Ia tahu bahwa dibalik angka pembangunan ada manusia. Di balik kebijakan ada keluarga. Di balik keputusan ada harapan. Dan di balik jabatan ada amanah yang harus di pertanggungjawabkan.
Dua mantan kepala desa. Kini berada di dua posisi strategis di Kuantan Singingi. Dua perjalanan. Dua amanah. Satu daerah. Satu harapan. Kuantan Singingi yang semakin maju, masyarakat yang semakin sejahtera, dan pemerintahan yang semakin dekat dengan rakyat.
Karena pada akhirnya, jabatan boleh berganti, kekuasaan boleh berpindah, tetapi pengabdian kepada masyarakat semestinya tidak pernah berhenti.**





