Pasukan Robot di Jagat Maya

Oleh: Hendri Chaniago.
Rabu: 22:09:2026.

Dunia media sosial memang selalu menyajikan dinamika yang unik. Riuh, penuh intrik, sekaligus menyimpan seluk-beluk yang menarik untuk dicermati.

Giliran Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, yang angkat bicara mengenai riuhnya percakapan publik di ruang digital. Sorotan utamanya tertuju pada derasnya gelombang kritik yang diarahkan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Sudaryono menguraikan pandangannya secara rinci. Menurut penilaian beliau, ada ketimpangan nyata dalam keramaian di media sosial. Lebih dari 60 persen akun yang membanjiri platform digital disinyalir bukan dijalankan oleh manusia asli, melainkan hasil kerja robot dan akun-akun buatan.

“Jadi Pak Prabowo dihujat itu, yang menghujat sebetulnya adalah bukan orang,” tegas Sudaryono.

Narasi di ruang publik digital digerakkan oleh mesin, algoritma, serta barisan program yang dipasang secara sistematis.

Sementara itu, pengguna media sosial dari kalangan masyarakat umum kerap menerima dampaknya. Pola yang terjadi adalah efek keterikatan masal.

Saat suatu isu meledak akibat dorongan mesin, masyarakat yang sedang membaca linimasa dengan mudah terseret arus, lalu ikut membagikan serta menyampaikan nada serupa.

Sudaryono pada dasarnya tidak mempersoalkan aktivitas warganet asli. Masyarakat tetap memiliki kebebasan penuh untuk mengetik opini, menyusun narasi, maupun memproduksi berbagai konten video.

Selama itu datang dari pengguna sebenarnya, beliau memandang hal tersebut sebagai bagian yang wajar dalam berdemokrasi. Titik persoalan yang beliau tekankan terletak pada keberadaan pasukan mesin tersebut.

Sudaryono secara terbuka menunjuk pihak-pihak yang dinilainya berada di balik pengoperasian akun bot. Beliau menyebut kelompok oligarki dan para koruptor memiliki kepentingan agar kepemimpinan Presiden Prabowo terus mendapat tekanan konstan dari opini publik.

Di balik dinamika tersebut, ada aspek kemanusiaan yang senantiasa perlu diperhatikan. Ketika seluruh gelombang bising digital disaratkan sebagai operasi robotik, terdapat potensi terabaikannya suara-suara yang murni disampaikan oleh warga.

Di antara lautan komentar yang tajam, tetap ada keluhan nyata dari masyarakat yang tengah menghadapi himpitan hidup harian. Tantangan terbesar dalam mengelola komunikasi publik masa kini berada pada kemampuan memilah suara.

Layar telepon genggam telah menjadi ruang interaksi yang menghubungkan kebijakan dengan perasaan warga. Membedakan pesan autentik rakyat dari manuver buatan merupakan kunci utama agar empati dan keadilan tetap berpihak pada manusia yang sebenarnya. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp