Anak Sekolah Libur, Peternak Babak Belur

Oleh: Hendri Chaniago.

Gara-gara itu, peternak kita pusing tujuh keliling. Ini soal program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program nasional yang dahsyat itu. Yang biasanya melahap jutaan butir telur dan tonan daging ayam setiap pagi.

Ayam tidak tahu caranya libur bertelur. Perut anak-anak sekolah yang sedang libur.

Begitu kalender masuk musim libur sekolah, programnya ikut jeda. Distop sementara. Efeknya instan dan mengerikan bagi peternak rakyat.

Bayangkan, ayam-ayam di kandang tidak kenal tanggal merah. Mereka tetap bertelur dan tetap tumbuh besar. Setiap hari peternak harus keluar biaya pakan.

Biaya jalan terus, tapi pembeli utamanya mendadak hilang dari pasar. Hasilnya bisa ditebak karena hukum pasar beraksi dengan kejam. Barang melimpah, harga langsung anjlok.

Di Jawa Tengah, situasinya bikin elus dada. Harga ayam hidup merosot sampai Rp17.000 per kilogram. Padahal, untuk modalnya saja—Harga Pokok Produksi (HPP)—peternak harus keluar modal Rp20.000 per kilo. Tiap kilogram ayam yang dijual, peternak nombok Rp3.000.

Kalau punya ribuan ayam, itu bukan lagi bocor halus, melainkan pendarahan hebat bagi dompet peternak mandiri.

Dampak jedanya program MBG ternyata tidak hanya memukul peternak unggas di pulau Jawa. Gelombang kejutnya menjalar jauh hingga ke daerah-daerah, memicu efek domino yang tak kalah menyesakkan dada.

Lain pula cerita dari Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Di sana, seorang pemilik pabrik tahu lokal tengah meratapi nasib produksinya. Biasanya, mesin dan pekerja di pabriknya mengebul setiap subuh demi memenuhi pesanan ribuan potong tahu untuk dapur MBG setempat.

Begitu lonceng sekolah berhenti berbunyi, pesanan itu menguap begitu saja. Kini, pemilik pabrik kalang kabut memutar otak, bergerilya mencari pasar alternatif agar tahu-tahu yang telanjur diproduksi tidak berakhir di tong sampah.

“Biasa dapur MBG setiap hari memesan ribuan potong tahu, sejak anak sekolah libur, kami kalang kabut mencari pasaran,” keluhnya.

Nasib serupa menggelayuti salah seorang pekebun cabai merah di wilayah yang sama. Rutinitas mingguannya yang biasa memasok sekitar 25 hingga 30 kilogram cabai merah segar ke satu dapur MBG, kini patah di tengah jalan.

Tanpa adanya serapan dari program nasional tersebut, cabai-cabai merah miliknya kini dibiarkan menua dan memasak di batang. Ranum, namun getir karena kehilangan pembeli utama.

Melihat fenomena ini, Menteri Perdagangan Budi Santoso langsung bergerak. Dia tidak ingin peternak dan pelaku usaha mikro kita gulung tikar massal gara-gara anak sekolah libur.

Surat resmi langsung dilayangkan. Isinya sebuah ketukan hati. Sasarannya adalah pengusaha HOREKA (Hotel, Restoran, dan Kafe), serta jaringan ritel modern di bawah Aprindo.

Logika Mendag sederhana saja. Sektor HOREKA diminta menyerap ayam, telur, dan komoditas pangan lainnya sekarang dengan menambah porsi bahan-bahan tersebut di dalam menu mereka.

Masalahnya memang bukan di ladang, pabrik, atau kandang. Ayamnya sehat, tahunya berkualitas, dan cabainya subur. Masalahnya ada di jalur distribusi yang mampet karena pasar besarnya sedang libur.

HOREKA diharapkan bisa menjadi katup penyelamat sementara, semacam jembatan darurat sebelum sekolah masuk lagi.

Kita tentu tidak bisa membiarkan para pelaku usaha lokal ini terus jantungan setiap kali musim libur sekolah tiba. Pemerintah menyadari hal ini tidak boleh menjadi rutinitas tahunan, sehingga harus ada desain jangka panjang.

Ke depan, pasokan dari peternak, petani, dan UMKM rakyat ini akan diintegrasikan secara total ke dalam program MBG. Minimal tiga kali seminggu, pasokan wajib datang dari peternak dan produsen lokal.

Rencananya besar dan melibatkan banyak meja, mulai dari Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Pertanian, Bapanas, Pemerintah Daerah, sampai Satgas Pangan. Semua pihak harus duduk bareng. Tujuannya adalah mewujudkan win-win solution agar semua menang.

Sektor usaha ritel jalan, hotel dapet bahan baku segar, UMKM tahu dan petani cabai tersenyum, anak sekolah dapet gizi, dan yang paling penting roda ekonomi di desa-desa tetap berputar.

Sebab, ketahanan pangan kita itu tidak dimulai dari ruang rapat yang dingin di Jakarta, melainkan dari keringat peternak, pengrajin tahu, dan petani cabai yang subuh-subuh sudah memeras keringat di daerah.

Kalau mereka ambruk, kita semua ikut lapar. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp