Oleh: Hendri Chaniago.
Sabtu: 01:08:3026.
Umur Misriadi sudah 49 tahun. Musim rambutnya mulai beruban. Tapi urusan nasib, tak ada yang pernah tahu kapan angin bakal berembus balik.
Dulu, hidupnya dihabiskan di kebun sawit. Dari satu blok ke blok lain. Memegang egrek, memangkas pelepah, memanen tandan buah segar. Berpeluh. Berdebu. Pindah dari satu estate ke estate lain.
Musim buah melimpah, dompet agak bernapas. Musim trek tiba, terpaksa gigit jari. Tukang panen sawit. Begitulah cap di jidat Misriadi bertahun-tahun.
Sampai akhirnya datanglah angin bernama MBG. Makan Bergizi Gratis.
Banyak orang meragukan program ini. Banyak yang sibuk berdebat di medsos. Bagi orang kecil seperti Misriadi, kesempatan tak datang dua kali untuk ditanyakan teori.
Kesempatan itu langsung ditangkap. Dan dipegang erat-erat. Misriadi banting setir. Total.
Egrek sawitnya dipensiunkan. Ia merintis Rumah Pemotongan Hewan. RPH Barokah namanya. Lokasinya di Desa Seberang Cengar, Kecamatan Kuantan Mudik.
Dari memegang pisau potong buah sawit, kini ia memegang pisau potong ayam. Pisau yang sekarang membawa kepastian pasar.
Misriadi resmi jadi pemasok daging ayam segar.
Tak tanggung-tanggung, dua dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) langsung ia pegang. Satu dapur SPPG minta disuplai sekitar 145 ekor ayam. Kalau ditimbang, berat bersihnya kira-kira 270 kilogram sekali pasok.
Untuk dua dapur SPPG, Misriadi menyediakan 270 ekor ayam segar. Ukurannya montok-montok. Rata-rata 2 kilogram per ekor. Bukan ayam sayu.
Harganya pas. Misriadi melepas daging ayamnya seharga Rp73.000 per ekor.
Sekali kirim ke dua dapur, total ada 540 kilogram daging ayam meluncur. Sekali jalan saja, omset kotornya tembus Rp 21,17 juta.
RPH Barokah beroperasi sangat padat.
Dalam sepekan, Misriadi dan pasukannya memasok 3 sampai 4 kali. Tinggal hitung saja. Dalam seminggu, omset RPH Barokah berputar antara Rp157 juta sampai Rp169,3 juta se bulan.
Angka yang fantastis untuk ukuran usaha desa di Seberang Cengar.
Tiap subuh, hiruk-pikuk potong-memotong dan pembersihan ayam sudah bergemuruh. Bunyi kecipak air dan riuh ayam bersahutan. Itulah gemerincing suara rezeki. Rezeki ini tak dinikmati Misriadi sendirian.
Ia tak lagi merayap sendirian di bawah pepohonan sawit. Sekarang Misriadi sudah jadi bos kecil. Ia mempekerjakan 6 orang tetangganya. Pemuda desa yang dulu bingung mencari kerja, kini punya kesibukan saban subuh.
Skema upahnya jelas dan transparan. Rp7.000 per ekor ayam yang diproses. Untuk 270 ekor sekali jalan, total upah karyawan mencapai Rp1,89 juta. Artinya, dalam satu hari kerja, masing-masing karyawan mengantongi upah bersih Rp315.000. Angka yang sangat lumayan untuk pendapatan harian di desa.
Putaran uangnya nyata. Bukan sekadar angka di atas kertas seminar.
Satu program pemerintah turun, rantai ekonominya memanjang ke bawah. Anak-anak di sekolah dapat makan siang bergizi. Dapur SPPG bergerak. Peternak ayam ketiban rezeki. Misriadi punya RPH. Dan 6 karyawannya mengantongi penghasilan rutin yang menyejahterakan.
Inilah wujud nyata dari effect domino Program MBG. Efek domino yang positif.
Pria 49 tahun itu kerap tersenyum sendiri mengingat masa-masa bajunya basah kuyup oleh peluh dan getah sawit. Di usia mendekati setengah abad, nasibnya berputar 180 derajat gara-gara ayam dan program MBG.
Hidup selalu menyajikan kejutan. Bagi yang jeli melihat peluang dan tak gengsi banting setir, jalan selalu terbuka lebar.
Bagi Misriadi, RPH Barokah bukan sekadar tempat memotong ayam. Itu adalah simbol keberanian memotong garis hidup yang stagnan. (***)





