MENJUAL KEBENCIAN

Penulis: H. Marwan Yohanis, S.Sos, M.I.Kom

Ada satu hal yang patut kita renungkan ditengah kehidupan sosial yang semakin gaduh: mengapa ada orang yang begitu bersemangat mengajak orang lain membenci?

Mengapa perbedaan pendapat harus diubah menjadi permusuhan? Mengapa kritik harus disertai penghinaan? Mengapa ketidaksetujuan harus berujung pada fitnah, penghakiman, bahkan ajakan melawan secara brutal?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting, karena kebencian tidak selalu lahir secara alami. Dalam banyak keadaan, kebencian dapat dibentuk, diarahkan, dan dimanfaatkan.

Seseorang awalnya tidak ada masalah dengan orang lain. Namun setelah terus-menerus mendengar narasi bahwa seseorang adalah musuh, bahwa kelompok tertentu harus dibenci, bahwa kelompok lain adalah sumber segala persoalan, perlahan-lahan persepsi dapat berubah.

Inilah yang harus kita waspadai.

Sebab, ketika emosi mengambil alih akal sehat, manusia jauh lebih mudah diarahkan.

Jangan Serahkan Pikiran Kepada Orang Lain

Kita hidup pada zaman ketika informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memeriksa kebenarannya.

Satu potongan video dapat membangkitkan kemarahan. Satu unggahan dapat membuat orang mengambil kesimpulan. Satu tuduhan dapat menyebar kepada ribuan orang sebelum pihak yang dituduh memiliki kesempatan untuk menjelaskan.

Di sinilah kedewasaan masyarakat diuji.

Tidak semua yang viral adalah benar. Tidak semua yang disampaikan dengan penuh keyakinan adalah fakta. Dan tidak semua orang yang berbicara atas nama kebenaran benar-benar berbicara tentang kebenaran.

Maka, jangan serahkan pikiran kita kepada siapapun.

Dengarkan, tetapi periksa.
Percayalah, tetapi jangan kehilangan sikap kritis.
Boleh marah, tetapi jangan biarkan kemarahan mengambil alih penilaian.
Boleh berbeda, tetapi jangan kehilangan kemanusiaan.

Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang selalu sepakat.
Masyarakat yang Sehat justru masyarakat yang mampu berbeda pandangan tanpa kehilangan rasa hormat.

Ketika Argumen Kalah, Kebencian Sering Dijadikan Senjata

Orang yang memiliki gagasan kuat seharusnya mampu mempertahankan gagasannya dengan argumentasi.

Namun ketika argumentasi tidak lagi cukup, sebagian orang memilih jalan yang lebih mudah: menyerang pribadi, membangun stigma, menyebarkan fitnah, mengadu domba, dan memproduksi kebencian.

Tujuannya sederhana: bukan lagi meyakinkan orang dengan kebenaran, tetapi membuat orang lain membenci pihak yang menjadi sasaran.

Ketika seseorang berhasil membuat kita membenci, ia tidak perlu lagi menjelaskan banyak hal. Kita sudah terlanjur berpihak secara emosional.

Pada tahap itulah kita harus berhati-hati.

Sebab orang yang berhasil mengendalikan emosi kita, dalam batas tertentu, telah mendapatkan pengaruh atas cara kita melihat dunia.

Jangan Menjadi Perpanjangan Tangan Provokator

Yang lebih menyedihkan adalah ketika masyarakat tanpa sadar menjadi bagian dari permainan tersebut.

Sebuah fitnah diteruskan.
Sebuah tuduhan disebarluaskan.
Sebuah provokasi dibagikan.
Sebuah kebencian diwariskan kepada orang lain.

Padahal, kita sendiri mungkin tidak pernah mengetahui fakta yang sebenarnya.

Kita hanya menerima cerita dari seseorang, lalu meneruskan seolah-olah kita menyaksikan sendiri peristiwa tersebut.

Di sinilah setiap orang harus belajar bertanggung jawab terhadap apa yang keluar dari dirinya.

Jangan menjadi jembatan bagi kebohongan. Jangan menjadi pengeras suara bagi fitnah.
Jangan menjadi alat bagi orang yang sengaja ingin mempertemukan satu manusia dengan manusia lainnya dalam permusuhan.

Sebab, sekali sebuah kebencian dilepaskan ke ruang publik, kita tidak benar-benar tahu ke mana ia akan berakhir.

Ketika tidak bisa menguasai, mereka mencoba untuk memecah

Ada yang perlu dikenali dalam kehidupan sosial.

Ketika seseorang tidak mampu mendapatkan yang diinginkan melalui cara yang wajar, ia mungkin mencoba mencari jalan lain. Jika tidak bisa menguasai keadaan, ia berusaha memengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Jika pengaruh itu tidak cukup, konflik akan diciptakan.

Orang-orang dipertentangkan.
Kelompok-kelompok diadu. Kecurigaan ditanamkan. Kemarahan dipelihara.

Dan ketika masyarakat sudah terpecah, mereka yang sebelumnya tidak saling bermusuhan dapat mulai saling melihat sebagai ancaman.

Pada titik tersebut, kita harus bertanya:

Apakah kita sedang memperjuangkan kebenaran, atau sebenarnya sedang dimainkan oleh kepentingan seseorang?

Pertanyaan ini bukan untuk menuduh siapapun. Justru sebaliknya, pertanyaan ini adalah bentuk kewaspadaan agar kita tidak mudah diperalat.

Tidak Semua Perlawanan Berujung Kebencian

Kita dapat mengkritik kebijakan tanpa harus menghina pribadi.
Kita dapat menuntut perubahan tanpa melakukan kekerasan.
Kita dapat berbeda pilihan tanpa menjadikan orang lain sebagai musuh.

Inilah bentuk keberanian yang sebenarnya.

Berani mengatakan tidak kepada ketidakadilan, tetapi juga berani mengatakan tidak kepada provokasi.

Berani mengkritik, tetapi juga berani mengoreksi diri.

Berani menyampaikan pendapat, tetapi juga berani mengakui ketika ternyata kita keliru.

Dan yang paling penting, berani tidak ikut membenci hanya karena orang lain meminta kita membenci.

Kesadaran Adalah Benteng Terbaik

Kita tidak mungkin mencegah semua orang menyebarkan fitnah.
Kita juga tidak mungkin menghentikan setiap upaya provokasi.

Tetapi kita dapat memastikan bahwa diri kita tidak menjadi bagian dari rantai tersebut.

Caranya sederhana, tetapi membutuhkan kedewasaan:
Periksa, sebelum percaya.
Pahami, sebelum menilai.
Jangan mudah terseret oleh judul yang provokatif.

Dan ketika menemukan informasi yang ternyata keliru, jangan malu menarik kembali apa yang pernah kita sebarkan.

Itulah bentuk tanggung jawab sosial yang sering terlupakan.

Pada Akhirnya Kita Semua Punya Pilihan

Setiap kali seseorang mengajak kita untuk membenci, sebenarnya kita sedang diberi sebuah pilihan.

Kita bisa mengikuti kemarahan itu.
Atau kita berhenti sejenak dan berpikir.

Kita bisa ikut menyebarkan fitnah.
Atau memilih diam sampai kebenaran itu menjadi jelas.

Kita bisa menjadi bagian dari kerumunan yang berteriak.

Atau menjadi orang yang tetap menjaga akal sehat ketika banyak orang sedang kehilangan kendali.

Pilihan itu mungkin terlihat kecil.

Tetapi dari pilihan-pilihan kecil itulah wajah sebuah masyarakat dibentuk.

Karena itu, jangan mudah percaya kepada mereka yang selalu membutuhkan musuh agar dirinya terlihat benar.

Jangan mudah mengikuti mereka yang menjadikan kebencian sebagai bahan bakar untuk mendapatkan pengaruh.

Dan jangan pernah mengira bahwa ikut menyebarkan kebencian adalah bentuk keberanian.

Kita boleh berbeda.
Kita boleh mengkritik.
Kita boleh menolak.
Bahkan kita boleh berseberangan.

Tetapi kita tidak harus saling membenci.

Sebab sebuah bangsa tidak akan hancur karena perbedaan pendapat. Yang jauh lebih berbahaya adalah ketika perbedaan itu berhasil diubah menjadi kebencian, kebencian menjadi permusuhan, dan permusuhan menjadi kekerasan.

Karena itu sebelum mempercayai sebuah tuduhan, sebelum membagikan sebuah informasi, dan sebelum ikut membenci seseorang, berhentilah sejenak dan tanyakan pada diri sendiri:

Apakah ini benar?
Apakah ini adil?

Siapa yang diuntungkan jika saya mempercayainya?

Dan yang paling penting:

Apakah saya sedang membela kebenaran, atau hanya sedang menjadi alat bagi kebencian orang lain?

Kesadaran seperti itulah yang harus kita bangun.

Karena masyarakat yang mudah dihasut, akan mudah dipecah.

Tetapi masyarakat yang berpikir kritis, menjaga martabat, dan tidak mudah diprovokasi akan jauh lebih sulit diperalat.


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp