Oleh: Hendri Chaniago.
Kamis: 20:08:2026.
Geger. Pasar modal Indonesia mendadak jantungan. Namanya juga bursa, kalau nggak bikin deg-degan ya bukan bursa namanya.
Kabar burung berhembus kencang: Haji Isam, pengusaha tangguh asal Kalimantan Selatan, dikabarkan bakal mencaplok 62 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Angka 62 persen itu bukan main-main. Itu porsi kepemilikan sang pengendali, Low Tuck Kwong dan keluarganya.
Kontan, lantai bursa riuh. Manajemen Bayan langsung pasang badan. Jawabannya klise tapi tegas: nggak tahu apa-apa, belum ada transaksi resmi. Tapi namanya juga pasar, rumor sering kali lebih cepat jalannya ketimbang bus malam lintas provinsi.
Coba hitung pakai kalkulator warung kopi. Kalau 62 persen saham BYAN dibeli, berapa maharnya? Dengan harga saham yang bertengger di kisaran Rp16.000-an, nilainya menembus Rp341 triliun hingga Rp357 triliun.
Astaga. Itu duit atau daun?
Angka sebesar itu melampaui imajinasi orang kebanyakan, bahkan cukup buat bikin galau separuh konglomerat negeri ini.
Lantas, siapa sebenarnya Haji Isam sampai-sampai namanya saja bisa bikin bursa saham bergetar? Pria bernama asli Andi Syamsuddin Arsyad ini adalah legenda hidup dari tanah Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Jalur hidupnya bukan jenis karpet merah yang ditaburi bunga sejak lahir. Bukan. Dia meniti karier benar-benar dari level paling dasar, level tempat peluh dan debu tanah membakar kulit.
Sebelum menjelma menjadi salah satu taipan paling disegani di Indonesia, Haji Isam muda adalah pekerja keras serabutan. Dia pernah melakoni pekerjaan sebagai tukang tebang kayu, pekerja perkayuan (sawmill), pengemudi alat berat, hingga sopir truk pengangkut kayu.
Tanah Kalimantan yang keras membentuk karakternya: nekat, gigih, dan punya penciuman bisnis yang amat tajam.
Titik balik hidupnya terjadi saat ia mulai bersentuhan dengan bisnis batu bara. Belajar dari seorang pengusaha Tionghoa setempat, Haji Isam pelan-pelan memahami seluk-beluk industri tambang hitam ini. Dia tak cuma jadi penonton.
Dengan keberanian modal nekat dan insting tajamnya, ia mendirikan imperium bisnis yang kelak dikenal dengan nama Jhonlin Group.
Lewat bendera Jhonlin, bisnisnya beranak pinak dengan cepat: PT Jhonlin Baratama: Raksasa kontraktor tambang batu bara, PT Jhonlin Marine and Shipping: Armada tongkang dan kapal pengangkut komoditas, PT Jhonlin Air Transport: Lini penerbangan privat dan komersial.
Di juga membagun pabrik biodiesel modern, perkebunan kelapa sawit skala besar, hingga ekspansi ke sektor hilirisasi nikel.
Di Kalimantan Selatan, nama Haji Isam bukan sekadar nama pengusaha. Dia adalah sosok berpengaruh dengan jejaring yang luar biasa luas.
Rumah megahnya di Batulicin sering jadi perbincangan, lengkap dengan fasilitas helipad, arena balap off-road pribadi—hobi ekstrim yang sangat disukainya—hingga armada jet pribadi.
Wajar kalau panggung bursa langsung guncang begitu nama Haji Isam disandingkan dengan Bayan Resources. Karena Bayan pun bukan emiten kemarin sore. Ini raksasa batu bara. Low-cost producer paling beringas di negeri ini. Infrastruktur logistiknya rapi, operasionalnya efisien, dan pundi-pundi uangnya mengalir deras.
Tahun 2025 lalu saja, di tengah dinamika global, mereka masih mampu meraup laba bersih Rp12,89 triliun. Belum lagi dividennya yang terkenal royal—bikin dompet investor berbinar tiap kali musim bagi-bagi untung tiba.
Padahal, kalau ditarik mundur ke belakang, tepatnya Agustus 2008, ceritanya jauh lebih sederhana. Waktu pertama kali melantai di bursa (IPO), harga saham BYAN dipatok Rp5.800 per lembar—sebelum bertransformasi lewat stock split 1:10. Waktu itu, kapitalisasi pasarnya cuma sekitar Rp19,3 triliun.
Sekarang? Lihatlah hari ini. Kapitalisasi pasarnya melompat perkasa ke kisaran Rp530 triliun sampai Rp570 triliun, kokoh duduk di jajaran tiga besar penguasa Bursa Efek Indonesia. Nilainya sudah meroket 27 hingga 28 kali lipat dibanding masa awal kelahirannya.
Maka ketika rumor itu menyeruak, orang-orang di pasar seperti disengat listrik. Orang percaya, kalau ada sosok lokal yang punya ‘keneok’ dan keberanian untuk memimpikan akuisisi senilai Rp350 triliun, ya cuma orang seperti mantan sopir truk kayu asal Batulicin ini.
Apakah ini bakal jadi megaproyek nyata yang mencatat sejarah baru bursa, atau sekadar angin lalu pelepas penat sore hari? Entahlah. Yang jelas, kopi di cangkir sudah mulai dingin, tapi obrolan soal gurita bisnis tambang ini dijamin bakal terus panas sampai bel penutupan bursa berbunyi. (***)





