PAPAN CATUR

Penulis: H. Marwan Yohanis, S.Sos., M.I.Kom

Diatas Papan Catur Berbeda.
Di Dalam Kotak Semua Sama.

Hidup ini barangkali hanyalah sebuah papan sunyi yang kita sebut permainan catur.

Diatasnya, setiap bidak lahir dengan takdirnya sendiri.

Di atas papan catur, kita mengenal perbedaan. Ada raja, ada menteri, ada benteng, kuda, gajah dan pion. Masing-masing memiliki fungsi, memiliki ruang gerak, bahkan memiliki nilai yang berbeda.

Ada yang melindungi sedemikian rupa. Ada yang dikorbankan demi menyelamatkan yang lebih besar.

Begitulah kehidupan.

Ada manusia sejak awal ditempatkan pada posisi terhormat. Namanya dikenal, perkataannya di dengar. Keputusannya menentukan nasib banyak orang.

Ada pula mereka berjalan tanpa tepuk tangan, tidak memiliki pangkat, tidak memiliki ruang untuk menentukan arah, bahkan namanya tak pernah disebut.

Namun anehnya, ketika permainan sedang berlangsung, kita sering lupa bahwa perbedaan posisi bukan perbedaan martabat.

Kita terlalu mudah mengira bahwa kursi yang tinggi membuat seseorang menjadi lebih tinggi.

Kita mengira jabatan ukuran kehormatan. Kekuasaan dianggap sebagai bukti kehebatan. Popularitas disangka sebagai tanda seseorang lebih berarti daripada yang lain.

Padahal, dalam permainan catur, sebuah bidak terlihat besar karena ia sedang berada di atas papan.

Begitu permainan selesai semua kembali ke tempat yang sama.

Raja tidak membawa mahkotanya. Menteri tidak membawa kekuasaannya. Benteng tidak membawa keteguhannya. Kuda tidak membawa langkahnya. Pion tidak membawa seluruh perjuangannya.

Semuanya dimasukkan ke dalam satu kotak.

Di sana tidak ada jabatan.
Tidak ada pangkat. Tidak ada pengawalan. Tidak ada protokol. Tidak ada orang penting dan orang kecil.

Hanya ada kesunyian yang mengingatkan kita pada suatu kenyataan yang sering kita hindari.

Pada akhirnya, tidak ada orang yang benar-benar memiliki apa yang sedang ia genggam hari ini.

Jabatan hanya dipinjamkan oleh Waktu. Kekuasaan hanya dipercayakan untuk sementara.
Kedudukan hanya sebuah persinggahan.

Dan nama besar pada akhirnya akan berhadapan dengan usia, waktu, lalu perlahan dilupakan.

Karena itu, barangkali yang paling berbahaya bukan ketika seseorang kehilangan jabatan.

Yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang kehilangan kesadaran bahwa jabatan itu memang sejak awal bukan miliknya

Sebab banyak orang berubah setelah punya kuasa.

Mereka mulai melihat manusia berdasarkan posisi, bukan berdasarkan kemanusiaannya.

Yang duduk di atas, dianggap penting. Yang berdiri di bawah dianggap kecil.

Mereka lupa bahwa papan yang hari ini membuatnya terlihat tinggi, suatu hari akan dilipat oleh waktu.

Maka, jika hari ini sedang memiliki nama dan kedudukan, jangan lupa kepada mereka yang selama ini berjalan tanpa sorotan.

Sebab kita semua hanya sedang memainkan peran kita masing-masing.

Dan tidak ada permainan yang berlangsung selamanya.

Kelak, ketika lampu dipadamkan, papan disingkirkan, dan permainan dinyatakan selesai, kita kembali ke tempat yang sama.

Ke dalam satu kotak

Saat itu, bukan lagi jabatan yang berbicara. Bukan lagi pangkat yang menentukan.
Bukan seberapa tinggi kita bisa berdiri.

Yang mungkin masih memiliki arti hanyalah satu hal:

ketika diberi kesempatan di atas papan, apakah kita memilih menjadi manusia yang berkuasa, atau manusia yang tetap memiliki hati.


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp