Laporan: Hendri Chaniago.
Minggu: 16:08:2026.
Atapnya melengkung indah. Selembayung Melayu yang khas. Di atasnya bertengger kubah. Berundak-undak. Gaya Timur Tengah.
Kombinasi yang anggun. Di atas kertas. Tapi cobalah berdiri di depannya hari ini. Di pinggir lapangan itu. Yang Anda lihat bukanlah keagungan, melainkan tumpukan sisa kayu bekisting.
Puing-puing beton. Dan sisa perancah yang masih memeluk erat kubah utamanya. Mirip orang yang keburu pakai jas rapi tapi lupa pakai celana.
Seorang pemuka adat setempat yang kebetulan melintas sempat menyipitkan mata memandangi bentuk atapnya. Beliau menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
“Niatnya mungkin bagus, perpaduan Islam dengan Melayu,” ujarnya sambil menunjuk ke arah bumbungan.
“Tapi tengoklah itu. Kelengkungan ‘lontiak” di ujung atapnya tidak pas sama sekali. Malah dibuat model segitiga sama mereka. Hilang roh Melayunya.”
Memang janggal. Atap lontiak atau lipat kain khas Melayu seharusnya punya lentikan yang halus dan anggun di tiap sudutnya. Simbol kerendahan hati dan penghormatan.
Begitu diganti dengan potongan segitiga kaku, wujudnya malah jadi aneh. Seperti barang buatan pabrik yang kehilangan “jiwa” manusianya.
Padahal, bangunan ini punya sejarah panjang dalam wacana. Proyeksi awalnya mulia: menjadi Astaka Utama MTQ Riau ke-44 di Teluk Kuantan.
Hari H MTQ tiba. Panggungnya belum siap. Akibatnya? Acara keagamaan sebesar itu terpaksa jalan terus, sementara sang astaka ditinggal “mangkrak” dilapisi triplek begitu saja.
Lalu diputar otak. Dialihkan fungsinya. Bangunan ini disulap statusnya: bakal dijadikan tribun VIP dan podium utama Pembukaan Pacu Jalur di Tepian Narosa.
Bicara Pacu Jalur, hitungan hari lagi dimulai. 19 Agustus sudah di depan mata. Pertanyaannya: apakah bangunan ini bakal rampung sebelum sorak-sorai penonton pecah di tepi sungai?
Mata telanjang saja bisa menjawabnya: mustahil. Tinggal hitung hari. Tapi tiang-tiang betonnya masih telanjang. Belum tersentuh plester apalagi cat.
Tangga utamanya masih berupa cor-coran kasar. Lantainya masih beralas tanah dan tumpukan material.
Secara konsep arsitektur, ini tergolong eklektik—menggabungkan lokal dan modern. Tapi di lapangan, ini lebih cocok disebut “arsitektur kepepet.”
Niatnya membuat balai terbuka yang megah. Atapnya melambangkan adat, kubahnya mewakili nilai religius.
Tapi karena terburu-buru—dan sepertinya salah kaprah memahami detail tradisi—ornamen itu malah kelihatan seperti tempelan yang dipaksa hinggap di atas beton mentah.
Sayang sungguh sayang. Niat menyajikan panggung megah untuk tamu-tamu penting, yang terlihat justru monumen tergesa-gesa yang salah ukur.
Rakyat Riau dan warga Kuansing hanya bisa mengelus dada. Di warung-warung kopi sekitar Tepian Narosa, topik atap segitiga dan beton mangkrak ini jadi santapan empuk. Lucu, tapi bikin dada sesak.
Satu hal yang pasti: Pacu Jalur tetap akan meriah. Jalur-jalur akan meluncur cepat di atas air. Tapi di tepi daratan, sebuah panggung beton akan berdiri membisu, menanti nasib yang tak kunjung pasti. (***)





