Ditulis Oleh: Hendri Chaniago.
Rabu: 15/7/2026.
Uang ratusan miliar. Emas batangan puluhan kilogram. Dan sepasang pejabat tinggi yang saling berjabat tangan, tersenyum lebar di depan kamera. Kita semua sudah tahu akhir ceritanya.
Kita ini penonton yang sudah terlalu sering membeli tiket bioskop untuk film yang sama. Sutradaranya itu-itu saja. Alurnya mudah ditebak. Akhirnya pun sangat klasik.
Mari kita menyeruput kopi hitam dulu. Hangat. Sedikit pahit—sama seperti kenyataan hukum kita hari ini.
Atmosfer sempat begitu tegang. Dada kita dibuat sesak saat Jampidsus Febrie Adriansyah dikuntit. Di lapangan, kabarnya, dua institusi bersenjata sempat saling tatap dengan urat leher menegang. Publik menahan napas karena mengira kali ini gajah beneran bertarung.
Namun kelanjutan ceritanya sangat mudah ditebak. Sebuah meja oval. Secangkir teh. Kapolri dan Jaksa Agung bertemu. Mereka bersalaman. Klik! Kamera wartawan menjepret. Senyum mereka merekah, seolah-olah ketegangan kemarin hanyalah salah paham bocah kemarin sore yang berebut kelereng.
Di warung kopi, kita hanya bisa mengembuskan asap rokok sambil berbisik lincah bahwa semuanya sudah selesai.
Para pengamat hukum di TV sibuk memakai istilah mentereng. Mereka menyebutnya containment policy—kebijakan melokalisir masalah. Ada juga yang bilang kompromi demi stabilitas.
Bahasa sederhananya adalah bagi-bagi wilayah. Kamu urus yang ini, saya pegang yang itu, yang penting rumah besar kita tidak runtuh.
Hukum kita itu persis seperti karet gelang. Lentur sekali kalau ditarik ke samping, tapi langsung putus menjepret ke bawah. Uang ratusan miliar dan emas berkilo-kilo itu akan masuk ruang penyimpanan barang bukti. Beritanya pelan-pelan mendingin, lalu diganti isu baru yang lebih seksi.
Beberapa pion—entah kurir atau pegawai rendahan—akan memakai rompi merah muda atau oranye. Mereka akan masuk bui dengan wajah tertunduk agar publik merasa puas bahwa hukum telah ditegakkan.
Padahal aktor utamanya masih bisa tidur nyenyak di kasur empuk ber-AC, mungkin sambil memikirkan investasi berikutnya.
Dua ribu tahun lalu, di bawah langit Yunani yang biru, Plato sudah jengkel setengah mati dengan hal beginian.
“Keadilan,” kata Plato dengan nada masygul, “hanyalah kepentingan mereka yang kuat.”
Rupanya, sejak zaman kuno, hukum memang bukan untuk mencari kebenaran hakiki. Hukum itu milik siapa yang memegang gagang pedang dan kantong uang.
Aristoteles, muridnya, mencoba menghibur diri dengan konsep kebijaksanaan. Tapi Seneca—filsuf Stoik yang kaya raya, akhirnya tewas tragis— ia punya kalimat yang menampar tepat di jidat kita hari ini:
“Bagi keserakahan, alam semesta ini terlalu kecil.”
Puluhan kilo emas dan ratusan miliar uang tunai itu entah mau dipakai beli apa lagi. Makan sehari tetap tiga piring dan tidur tetap butuh satu kasur. Tapi itulah manusia.
Ketika jiwa sudah kosong, emas batangan pun dijadikan penambal sepi. Tragisnya, rongsokan logam mulia itu kini cuma jadi alat tawar-menawar di atas meja kekuasaan.
Kita juga ingat ucapan Cicero yang terkenal itu: Salus populi suprema lex esto. Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.
Di negeri kita, kalimat itu sedikit meleset plesetannya menjadi Salus elite suprema lex esto. Keselamatan elite adalah hukum yang paling tinggi dari segala yang tertinggi.
Skenario akhir dari drama Febrie dan emas ratusan miliar ini sudah ditulis, tinggal dibacakan pelan-pelan sampai kita semua lupa.
Penonton akan pulang dengan tangan hampa, tapi setidaknya kita dapat hiburan gratis berupa angka-angka spektakuler di berita. Para gajah kembali masuk ke hutan kekuasaan mereka, saling berbagi wilayah buruan, sambil sesekali berbisik ramah.
Kopi saya sudah terlanjur dingin. Kopi Anda pun pasti sudah sama hantarnya dengan keadilan di negeri ini. (***)





