Belajar dari Gowa

Oleh: Hendri Chaniago.
Kamis: 30:07:2026.

Matahari di Kuansing sedang terik-teriknya. Tapi begitu melangkah masuk ke gerai ritel modern di pinggir jalan itu, rasa-rasanya seperti menginjakkan kaki di Kutub Utara. Dingin. Sejuk. Lampunya terang benderang. Wangi pembersih lantainya khas.

Semua orang memang senang. Anak-anak muda betah nongkrong di terasnya. Ibu-ibu ketagihan promo minyak gorengnya. Bapak-bapak numpang ngadem sambil beli rokok sebatang dua batang.

Ritel modern di negeri kita ini memang luar biasa. Menjamur. Dulu hanya ada di kota kabupaten. Sekarang, di pelosok kecamatan pun sudah berdiri anggun. Pintu kacanya membuka otomatis tiap kali ada orang mendekat. Sreeek…Dinginnya menyapa.

Tapi kemarin sore, sambil memegang kaleng kopi dingin, saya mendadak termangu.

Saya celingukan. Melihat rak demi rak. Dari depan sampai ke pojok paling belakang. Dari makanan ringan bermerek nasional, minuman bersoda, sampai sabun cuci muka. Lengkap. Bagus. Rapi.

Sayangnya, tidak ada keripik pisang buatan Mak Wo. Misalnya. Tidak terlihat peyek kacang buatan Kak Ros. Kerupuk sagu atau kopi bubuk lokal asli Kuansing pun absen dari sana.

Semuanya nihil.

Kalaupun ada yang lolos, posisinya terselip di rak paling bawah. Dekat obat nyamuk. Berdebu. Hampir tak terlihat kalau kita tidak teliti setengah mati.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kebijakan di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Langkah Pemkab di sana patut diacungi jempol.

Bupati di sana tidak melarang ritel raksasa masuk. Investasi tetap terbuka lebar. Namun ada syarat mutlak yang harus dipenuhi: wajib memberikan tempat terbaik untuk produk UMKM lokal.

Bukan sekadar formalitas. Aturannya tegas dan mengikat. Lokasinya harus strategis. Begitu pengunjung mendorong pintu kaca, mata langsung bertatapan dengan produk lokal di rak depan pada posisi yang paling gampang dijangkau tangan.
Inilah bentuk investasi yang beradab.

Ritel raksasa meraup untung dari jualan di Gowa, sementara UMKM lokal turut mengecap rezeki. Sama-sama kenyang. Tidak ada pihak lokal yang dipaksa sekadar jadi penonton sambil gigit jari.

Realita di Kuansing justru menyajikan pemandangan sebaliknya.

Setiap bulan ada saja gerai baru yang buka. Karangan bunga berderet, acara potong pita digelar, dan senyum manis terkembang. Namun manfaatnya bagi pengusaha kecil di kampung-kampung masih sangat samar.

Daerah ini tidak boleh sekadar dijadikan pasar empuk penampung hasil pabrik raksasa dari luar, sementara warga lokal hanya kebagian limbah plastiknya.

Ini bukan soal anti-investasi. Kita tetap butuh kemajuan dan fasilitas toko yang bersih serta nyaman. Namun keberadaan mereka tidak boleh sampai mematikan kedai-kedai kecil tetangga, tanpa memberi jalan bagi produk lokal untuk naik kelas.

Hambatan masuknya produk lokal ke ritel modern memang selalu berputar pada alasan klasik: kemasan kurang rapi, izin P-IRT belum lengkap, hingga sistem pembayaran konsinyasi yang memberatkan modal rakyat kecil.

Di situlah peran penting Pemerintah Daerah. Pemkab tidak boleh berhenti hanya pada urusan stempel izin di awal lalu lepas tangan. Pemkab Kuansing harus segera duduk bersama dengan para pengelola ritel raksasa tersebut. Tinjau kembali kesepakatannya dan terapkan aturan tegas seperti di Gowa.

Prinsipnya jelas: izin operasional baru boleh diberikan jika ada komitmen menyediakan satu rak khusus UMKM lokal di posisi paling depan, lengkap dengan pendampingan standarnya.

Dinas terkait wajib turun tangan melatih UMKM, membenahi kemasan, dan mempermudah izin edarnya. Pelaku usaha kecil tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian melawan raksasa.

Keberhasilan di Gowa menjadi bukti nyata bahwa langkah ini sangat memungkinkan untuk diterapkan di Kuansing.

Jangan biarkan anak cucu kita kelak hanya mengenal rasa keripik pabrikan, lalu asing dengan gurihnya cita rasa tanah lahir sendiri akibat produk lokal diperlakukan seperti anak tiri di rumah sendiri.

Saatnya mengubah pola permainan ini. Ritel raksasa meraup untung, UMKM lokal pun ikut melambung. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp