Berebut Keringat di Simpang Sambung

Oleh: Hendri Chaniago.
Ahad: 09:08:2026.

Jalan Simpang Sambung menuju Sungai Bawang itu sudah lama bikin sesak dada. Kalau hujan, jalannya mirip kubangan kerbau. Kalau panas, debunya mengepul seperti asap dapur umum.

Warga Singingi sudah kenyang makan janji. Maka ketika ada kabar PT Sinar Utama Nabati (SUN) mau mengucurkan dana CSR untuk membendung penderitaan itu. Membangun jalan rigid beton 3 kilometer—harusnya semua orang tersenyum. Syukuran. Potong ayam.

Tapi, ini Riau. Ini Kuansing. Lahan subur untuk drama.

Rencana pengaspalan belum juga menyentuh tanah, panggung politiknya sudah mengepul duluan. Di satu sisi ada Desi Guswita, srikandi DPRD dari Fraksi PKB. Di sisi lain ada Suparman, Camat Singingi.

Dua-duanya orang penting. Dua-duanya merasa punya saham keringat di jalan itu.

Alkisah, awal Agustus kemarin, suasana mendadak panas. Desi merasa “ditikung.” Ceritanya, saat dia sedang bersiap-siap menunggu rapat teknis bersama manajemen PT SUN, tahu-tahu Pak Camat sudah memboyong orang-orang perusahaan ke lokasi.

Jepret! Foto bersama Plt Bupati. Seremonial penandatanganan pun selesai.

Desi meradang. Dia merasa ini soal etika. Perjuangan mengetuk pintu dinas PUPR, Perkim, sampai melobi bos PT SUN itu bukan kerja semalam. Ada dokumen komitmen teknis bermaterai yang dia pegang.

“Kok main potong kompas?” kira-kira begitu suara hatinya. Rasa-rasanya seperti kita yang meracik bumbu dan mengaduk rendang berjam-jam, begitu matang, orang lain yang bertugas memotong pita di piring saji.

Pak Camat tentu punya kacamata sendiri. Suparman santai saja. Bagi eksekutif, tidak ada istilah mencuri panggung. Ini soal tugas negara. Pembangunan itu kerja kolektif, bukan panggung tunggal satu legislator. “Ini kan hasil kerja bersama,” begitu pesannya.

Kalau didengar-dengar sambil menyeruput kopi hitam di warung, dua-duanya sebenarnya tidak ada yang salah. Tapi ya itu tadi: ego kadang lebih cepat melesat daripada logika.

Padahal, kalau mau jujur, rakyat Sungai Bawang tidak peduli siapa yang memegang pulpen saat MoU ditandatangani. Rakyat tidak butuh tahu siapa yang paling mentereng di foto berita online.

Yang dibutuhkan warga sederhana saja: jalannya mulus. Ban motor tidak selip. Hasil panen sawit bisa diangkut tanpa harus terguling di tanjakan.

Eksekutif dan legislatif itu ibarat dua dayung dalam satu perahu Pacu Jalur. Kalau dayung kiri menarik ke depan dan dayung kanan mendayung ke belakang, perahunya cuma berputar-putar di tempat. Penonton di tepi sungai bingung, anak pacu di dalam perahu cape sendiri.

Orang tua-tua di Kuansing sudah lama mewariskan kebijaksanaan sederhana: “Bulek aia dek pembuluh, bulek kata dek mufakat, Togak samo tinggi, duduk samo rendah.”

Duduklah bersama. Ngopi dulu. Bicara hati ke hati tanpa membawa bendera atau jubah jabatan.

Sebab di ujung hari, saat debu jalan Simpang Sambung akhirnya reda digantikan mulusnya semen beton, yang diingat masyarakat bukanlah siapa yang menang berdebat—melainkan siapa yang benar-benar bekerja untuk mereka. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp