Bukan Modal Amplop

Oleh: Hendri Chaniago.
Kamis: 24:09:2026.

Pria itu namanya Surya bin Samid. Umurnya 46 tahun. Sehari-hari dia memilah sampah dan limbah pabrik di Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Pekerjaan yang kerap dipandang sebelah mata. Kadang malah tidak dilirik sama sekali.

Tapi itu cerita lalu. Sebelum namanya bikin heboh seluruh desa. Surya baru saja memenangi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Mekarwangi.

Musuhnya bukan orang sembarangan, melainkan calon petahana. Sosok yang punya segalanya: modal, pengaruh, dan jaringan.

Surya menang. Selisihnya tipis saja, cuma 92 suara. Tapi 92 suara itu rasanya seperti ledakan di siang bolong.

Di balik kemenangan itu, jalannya penuh liku. Penuh rintangan. Saat Surya pertama kali bilang mau maju, banyak yang tertawa. Cibiran datang bertubi-tubi. Nada skeptis bertumpuk-tumpuk.

Sebagian orang menganggap aneh ada pemilah sampah memberanikan diri mencalonkan diri jadi kades. Sindiran-sindiran halus bermunculan di warung-warung kopi.

Orang lain kalau dicibir begitu mungkin bakal sakit hati. Atau malah dendam. Tapi Surya beda. Dia tidak membalas. Dia tidak mengeluh.

Prinsipnya sederhana. Omongan miring orang lain tak usah dimasukkan ke hati, melainkan dijadikan bensin untuk membakar semangat membuktikan diri.

Sikap tabah itu juga dia ajarkan ke anaknya. Ketika sang anak ikut merasa minder atau sedih karena bapaknya diremehkan, Surya cuma berpesan ringkas tapi menusuk.

“Saya tetap maju karena saya optimis bahwa saya harus bisa dan saya yakin itu. Karena keyakinan saya lebih kuat ketimbang perkataan orang-orang yang melemahkan saya,” katanya saat ditemui di rumahnya.

Cara berkampanye Surya juga beda. Sangat kontras dengan panggung politik umum yang serba mahal.
Surya tidak punya modal besar. Dia juga tidak umbar janji muluk-muluk.

Jurus strateginya cuma satu: datang langsung, mengetuk pintu, dan ngobrol dari hati ke hati. “Karena saya emang enggak punya uang. Saya kampanye saya enggak bicara uang, saya bicara harapan ke depan,” tuturnya polos. Tanpa beban.

Ternyata warga tidak selalu butuh bagi-bagi isi dompet. Warga Mekarwangi merindukan sosok yang jujur, dekat, dan mau mendengarkan. Modal sosial Surya terbukti jauh lebih sakti. Stigma profesi pun runtuh seketika.

Pesta demokrasi tingkat desa itu kini sudah selesai. Surya tidak mau ada blok-blok lagi. Tidak ada lagi kubu pendukung atau lawan. Semuanya kembali jadi warga Desa Mekarwangi.

Surya memilih merangkul semua orang untuk bersama-sama membangun desa agar lebih sejahtera dan transparan.

Dari kisah Surya, kita melihat satu hal jelas: jabatan bukan soal dari mana seseorang berasal, melainkan ke mana dia akan membawa warga yang dipimpinnya. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp