
Oleh: Hendri Chaniago.
Selasa : 25:08:2026.
Mursini itu unik. Orang Gunung Toar. Lahir persis tiga hari sebelum tahun 1958 habis.
Di tepian Sungai Kuantan dia tumbuh. Budayanya kuat. Agamanya kental. Kecilnya seperti anak kampung era itu: pagi sekolah, sore bantu orang tua, malam mengaji di surau.
Tamat 1972, dia lulus SD di Desa Gunung. Lalu, geser sedikit ke Teluk Kuantan. Masuk Sekolah Teknik (ST). Tamat 1976.
Anak muda ini punya nyali. Demi menuntaskan sekolah teknik menengah, dia merantau ke Pekanbaru. Masuk STMN. Tamat 1978. Zaman itu, merantau ke kota untuk sekolah teknik itu keren. Disiplin. Pragmatis.
Setamat STMN, dia lanjut kuliah S1 Sosiologi di Universitas Riau. Di sinilah cerita menarik itu dimulai.
Orang tuanya minta Mursini jadi PNS. Pilihan paling aman zaman Orde Baru. Mantap. Ada pensiun. Tapi Mursini geleng-geleng kepala.
Alasannya sederhana tapi menohok. Dia tahu rahasia umum tes CPNS kala itu. Kalau mau lulus, harus “menyogok”. Mursini menolak. Dia tak mau mengawali karir dengan jalan bengkok.
Lalu dia berlabuh ke PPP.
Ini pilihan terbilang nekat untuk ukuran era Orde Baru. Saat orang-orang berburu pohon beringin demi aman, Mursini justru masuk ke partai ka’bah yang saat itu ditekan kiri-kanan. Tapi dia tahan banting.
Bagaimana cara dia mengembangkan PPP di Kuansing saat kran politik Orba sedang ketat-ketatnya?
Dia pakai pendekatan sosiologis yang sangat senyap dan membumi. Mursini sadar, kalau membuat gerakan konfrontatif, partainya pasti digilas struktur penguasa. Maka, strateginya bukan pamer kekuatan, melainkan merawat akar rumput dari bawah.
Dia memanfaatkan basis kultural dan keagamaan, bergerak dari surau ke surau serta majelis taklim. Dia rajin turun ke desa tanpa pengawalan, mendengar keluh kesah warga.
Mursini juga merangkul para datuk dan tokoh adat tanpa mengajak menantang penguasa, melainkan membangun kesadaran bersama.
Karirnya merayap pelan. Tak ada yang instan. Tahun 1998, Reformasi pecah. Pondasi di akar rumput itu berbuah manis. Dia jadi Wakil Ketua DPW PPP Riau, lalu duduk di DPRD Riau dua periode. Tahun 2006, dia naik kelas jadi Wakil Bupati Kuansing mendampingi Sukarmis.
Tahun 2011, dia mencoba peruntungan maju jadi Bupati melawan Sukarmis. Mursini harus menerima kekalahan saat itu. Namun dia tidak ngambek lalu pindah partai. Dia bertahan di PPP dan terus merawat konstituennya.
Kesabaran itu terbayar tuntas pada Pilkada 2015. Berpasangan dengan Halim, Mursini berhasil menang dan dilantik jadi Bupati Kuansing periode 2016–2021.
Di era kepemimpinannya bersama Halim inilah, deretan karya nyata dan sejarah baru mulai terukir di tanah Kuansing: Untuk pertama kalinya dalam sejarah, budaya kebanggaan rakyat Kuansing melesat ke tingkat tertinggi.
Pada ajang Anugerah Pesona Indonesia (API), Festival Pacu Jalur dinobatkan sebagai Wisata Tradisional Terpopuler di Indonesia. Warisan leluhur itu tak lagi sekadar helat lokal, tapi jadi magnet pariwisata nasional.
Pertama kalinya pula piala Adipura berhasil diboyong ke Teluk Kuantan. Kebersihan dan penataan kota diakui secara nasional. Monumennya pun berdiri anggun—Tugu Adipura dibangun memanfaatkan dana CSR dari Bank Riau Kepri.
Selain itu, ia juga membangun Gedung Perpustakaan Daerah Kuansing berdiri megah untuk literasi warga, disusul pembangunan 9 tribun hakim Pacu Jalur di berbagai kecamatan agar arena pacu makin tertata rapi dan representatif.
Jembatan penyeberangan di Gunung Toar dibangunnya untuk memperlancar akses warga, lengkap dengan tembok benteng penahan di Danau Kebun Nopi yang berhasil digaet lewat jaringan dana pusat dengan anggaran sekitar Rp40 miliar lebih.
Di bidang objek wisata, fasilitas penunjang disuntikkan ke destinasi wisata unggulan, mulai dari pembenahan Air Terjun Batang Koban hingga kawasan pemandian air panas di Hulu Kuantan.
Gaya komunikasinya tetap tenang. Programnya membumi, mulai dari memoles wajah pariwisata, menorehkan sejarah kebersihan kota, membangun sarana publik, hingga membagikan bibit sawit gratis untuk petani.
Namun, panggung kekuasaan kerap kali menyimpan sisi gelapnya sendiri. Tepat setelah purnatugas memimpin Kuansing, suratan takdir berbalik arah dengan getir. Lelaki yang mengawali masa mudanya dengan menolak jalan bengkok itu justru terbelit pusaran kasus hukum di penghujung perjalanan politiknya. Langkah senyap yang dulu menuntunnya dari surau ke kursi bupati, kini berujung pada jeruji besi.
Piala Adipura masih berdiri anggun di sudut kota, tribun Pacu Jalur tetap megah menyambut hilir mudik perahu jalur di Sungai Kuantan, tapi sang kreatornya harus mengheningkan cipta di balik dinding tebal perampasan kemerdekaan. Takdir memang tak pernah bisa ditebak. Politik, pada akhirnya, memberi Mursini segalanya—kehormatan, pengabdian, sekaligus luka paling dalam di hari tuanya.
Kendati demikian, kecintaan masyarakat tak akan pernah pupus kepadanya. Sebab di masa kepemimpinannya, Mursini sukses menjaga suasana pesta demokrasi tetap adem. Dia tak membiarkan masyarakat—terutama di kalangan ASN—terkotak-kotak oleh intrik dan blok politik.
Di tangannya, birokrasi berjalan tanpa beban ketakutan akan intimidasi atau kubu-kubuan.
Bagi rakyat kecil di tepian Kuantan, Mursini tetaplah figur yang teduh. Mursini adalah cermin dari kehangatan seorang pemimpin yang pernah hadir tanpa jarak, meninggalkan warisan pembangunan yang nyata, serta memberi ketenangan di tengah hiruk-pikuk politik negeri. (***)





