Bupati yang Menantang Gelap dan Keterisolasian

Oleh: Hendri Chaniago.
Rabu: 26:08:2026.

Namanya Sukarmis. Di Kuansing, orang menyapa beliau dengan sebutan Datuk Politik.

Dulu, dia bukan siapa-siapa. Bukan anak pejabat. Bukan lulusan akademi. Ia tumbuh dari kerasnya aspal pasar Teluk Kuantan. Hidup dari benturan keras di jalanan. Di sana, hukumnya cuma satu: berani dan dihormati.

Naluri pasarnya kuat. Cara bicaranya tanpa basa-basi. Blak-blakan. Justru karena itulah orang-orang bawah suka. Di warung kopi, namanya harum. Di kalangan pedagang, dia disegani. Sukarmis tahu betul cara memegang hati rakyat kecil.

Lalu roda berputar.

Dari kerasnya pasar, ia masuk ke panggung politik. Lewat Golkar.

Tahun 1997, Sukarmis sudah duduk di kursi DPRD Indragiri Hulu (Inhu). Waktu itu Kuansing belum ada. Masih gabung ke Inhu. Pemilu 1999, ia terpilih lagi. Nah, ketika Kuansing resmi mekarkan diri di penghujung 1999, basis massanya sudah mengakar.

Ia langsung melompat: jadi Ketua DPRD Kuansing pertama. Tak tanggung-tanggung, dua periode.
Puncaknya terjadi pada tahun 2006. Ia naik kelas jadi Bupati Kuansing. Berpasangan dengan Mursini. Duo ini unik. Sukarmis tipe pendobrak yang keras, Mursini birokrat yang adem.

Di tangan Sukarmis, Kuansing dipaksa bersolek cepat. Dulu, banyak desa terisolasi. Dipisah sungai dan hutan.

Sukarmis mengamuk. Jembatan-jembatan dibentang menyeberangi Sungai Kuantan. Jalan tanah dihantam aspal. Desa yang dulunya sepi mati suri, mendadak ramai. Truk sawit dan karet mulai bisa lewat. Ekonomi berdenyut.

Bukan cuma jalan dan jembatan. Kampung-kampung yang dulunya gulita, pelan-pelan mulai benderang. Sukarmis ngotot menarik tiang-tiang listrik masuk ke ceruk-ceruk pedalaman. Anak-anak desa yang dulunya belajar pakai lampu colok, akhirnya bisa menikmati terang lampu PLN. Malam di pelosok Kuansing tak lagi seseram dulu.

Wajah Teluk Kuantan pun berubah total. Lihatlah Masjid Agung yang megah itu. Atau kawasan Sport Centre yang gagah. Itu buah nekatnya di periode pertama.

Bahkan sejarah mencatat rekor manis pada bulan Agustus 2006. Wakil Presiden Jusuf Kalla menginjakkan kaki di Teluk Kuantan untuk membuka Pacu Jalur. Itu pertama kalinya dalam sejarah, pimpinan RI kelas wahid datang ke Kuansing. Panggung nasional mendadak menoleh ke Tepian Narosa.

Periode ke 2.

Saya masih ingat betul suasana masa-masa itu. Ada sekitar tujuh orang kami, para wartawan yang sehari-hari bertugas meliput di Kuansing, selalu diajaknya duduk berbincang. Sedikitnya sekali dalam sebulan.

Di meja itu, tidak ada sekat kaku. Pertanyaan utama yang selalu meluncur dari mulutnya bukan soal pujian, melainkan kalimat sederhana: “Bagaimana Kuansing sekarang? Bagaimana pemerintahan kita saat ini?”

Satu per satu dari kami memberikan pendapat, pandangan, bahkan kritik pedas. Dan beliau mendengarkan. Inilah cara Sukarmis. Meskipun memegang tampuk kekuasaan tertinggi di daerah, ia punya kerendahan hati untuk duduk sejajar dan betul-betul menghargai pemikiran orang lain.

Kepala Sukarmis makin dipenuhi mimpi besar. Ia ingin Kuansing tidak cuma dikenal karena Pacu Jalur setahun sekali, tapi betul-betul jadi tujuan pariwisata yang hidup. “Kalau orang luar mau datang dan menginap di sini, kita memerlukan hotel yang representatif!” kata beliau waktu itu.

Maka lahir gagasan megah: membangun Hotel Kuansing. Sebuah penginapan kelas wahid yang digadang-gadang jadi ikon kebanggaan daerah. Tapi justru di situlah nasib memutar arah. Niat besar itu berubah jadi labirin masalah.

Politik memang kejam, dan rencana manusia tak selalu mulus di atas kertas. Proyek hotel yang ia impikan untuk mengangkat martabat Kuansing malah melilit dirinya sendiri.

Mei 2024, kabar mengejutkan itu datang. Sukarmis tersandung kasus. Proyek yang dulu ia bangga-banggakan, justru jadi pintu masuk musibah. November 2024, vonis 12 tahun penjara dijatuhkan kepadanya.

Kini, di usianya yang tak lagi muda, langkah Datuk Politik tak lagi bergaung di lorong-lorong kantor bupati. Langkah itu tertahan di balik jeruji besi yang dingin, sunyi, dan jauh dari hiruk-pikuk sorak penonton Pacu Jalur di Tepian Narosa.

Hotel megah yang ia impikan untuk membanggakan kampung halamannya kini berdiri bisu—menjadi monumen sunyi yang justru merenggut kebebasan masa tuanya.

Harus diakui, Kuansing hari ini sangat membutuhkan sosok petarung yang berani seperti Sukarmis. Pemimpin yang tak ragu pasang badan, berani mengambil risiko, dan tak gentar menerobos tembok tebal demi memajukan negerinya.

Semoga kelak lahir penerus Sukarmis—pemimpin dengan nyali besar yang sama, namun lebih bijak mengemudi agar tak lagi ada mimpi indah yang berakhir luka di balik jeruji.

Orang boleh menghujat atau memujinya. Tapi tiap kali warga pelosok menyalakan lampu di malam hari, atau melintas di atas jembatan yang membelah Sungai Kuantan, ada jejak keringat si “preman pasar” yang begitu mencintai tanah ini, meski cinta itu harus dibayar mahal dengan sisa umurnya di dalam penjara. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp