Cintaku Mentok di Algoritma TikTok

Cerpen.

Karya: Hendri Chaniago.

Malam itu sepi. Kamar Boni gelap. Hanya ada satu cahaya: layar HP yang menempel ke muka.

Matanya sembap. Kantung matanya tebal. Mirip ronda yang ronda tiga hari berturut-turut. Boni memang sedang ronda. Bukan jaga kampung. Tapi jaga algoritma TikTok.

Semua karena jempol. Jempol yang kurang ajar.

Tiga hari lalu, Boni sedang scrolling. Santai. Tiba-tiba, mak jleb. Sebuah video lewat di FYP-nya. Ada gadis berambut sebahu. Senyumnya tipis. Jogetnya imut. Manis sekali. Di bawahnya tertulis nama: Priska.

Boni tertegun. Jantungnya beralih fungsi jadi bedug. Bertalu-talu. “Ini dia,” bisik batinnya.
Niat hati mau pencet follow. Apa daya, refleks jempol kanan lebih cepat dari logika. Sentil ke atas. Swipe up!

Layar berganti. Video Priska hilang.
Boni panik. Langsung swipe down. Terlambat. TikTok sudah memperbarui beranda. Priska lenyap ditelan bumi internet.

Dicari di riwayat tontonan? Kosong. Ketik nama “Priska” di kolom pencarian? Muncul ribuan. Ada Priska penjual kosmetik, ada Priska konten kreator masak. Tapi Priska si pujaan hati? Ambyar.

Boni patah hati. Padahal kenalan saja belum.
Sebagai lelaki yang dibesarkan oleh kerasnya kehidupan, Boni menolak menyerah. Dia tahu cara kerja media sosial. Algoritma itu membaca minat. Maka, dimulailah misi paling absurd abad ini: meretas algoritma demi cinta.

Caranya? Boni menyukai semua video yang pakai musik latar mirip punya Priska. Ditonton sampai habis. Tanpa dicepatkan. Dia juga begadang sampai jam 2 pagi. Katanya, itu jam krusial pergantian algoritma.

Tapi robot tetaplah robot. Kadang seleranya humoris.

Bukannya memunculkan Priska, FYP Boni malah jadi zona perang. Kacau luar biasa.

Hari pertama, isinya bapak-bapak bahas khasiat batu akik kecubung. Hari kedua, muncul tutorial menanam hidroponik pakai celana dalam bekas.

Hari ketiga makin gila: isinya remaja goyang ulek-ulek yang bikin Boni pusing tujuh keliling.

“Gila! Aku mau cari jodoh, kenapa malah diajari menjinakkan burung perkutut?!” Boni berteriak pada dinding kamar. Frustrasi.

Malam keempat. Boni sudah lelah. Tangannya sudah siap menghapus aplikasi laknat itu.
Tiba-tiba, ting! Ada notifikasi. Sebuah akun sedang Live. Judulnya: “Gabut, yuk ngobrol.”

Itu Priska! Sungguhan Priska!

Boni melompat. Langsung masuk ke ruang live. Penontonnya bejibun. Ribuan. Komentar jalan secepat kereta cepat. Boni mengetik: “Priska, aku mencarimu sampai ujung algoritma!”

Tenggelam. Dalam hitungan milidetik, tulisan Boni hilang digulung pujian netizen lain.

Boni mutar otak. Harus ada tindakan nekat. Dia buka dompet digital. Dilihatnya sisa saldo. Pas-pasan. Cukup buat makan warteg dua minggu. Boni menarik napas dalam-dalam. Tekadnya sudah bulat.

Klik.

Boni mengirim gift Singa. Itu hadiah virtual paling mahal.

Layar HP Priska langsung bergemuruh. Ada raungan singa digital besar sekali. Komentar mendadak berhenti. Priska terperanjat. Matanya membelalak gembira.

“Wah! Terima kasih banyak Kak Boni buat Singanya! Baik banget, ya ampun!”

Suara Priska merdu sekali. Mendengar itu, Boni merasa melayang. Saldo habis? Ah, persetan. Yang penting nama “Boni” sudah terpatri di hati Priska. Begitu pikirnya.

Tapi, senyum Priska belum pudar ketika dia menengok ke samping luar kamera.

“Sini, Sayang, masuk kamera bentar,” panggil Priska. “Lihat nih, ada Kak Boni yang baik banget kasih kita gift gede. Lumayan kan, buat tambahan modal nikah kita bulan depan!”

Seorang pria muncul. Berbadan kekar. Rambut cepak. Kaosnya ketat sekali. Pria itu merangkul pundak Priska, lalu melambaikan tangan ke kamera. Tersenyum lebar.

“Wah, makasih banyak ya, Bro Boni! Semoga rezekinya lancar terus!”

Deg.

Dunia Boni mendadak sunyi. Kamarnya terasa sedingin kutub. Saldonya habis, cintanya kandas sebelum dimulai, dan dia baru saja resmi menjadi sponsor utama pernikahan gebetannya sendiri.

With tangan gemetar, Boni mematikan HP. Dia hapus aplikasi TikTok saat itu juga. Dia kapok. Mau kembali ke dunia nyata saja.

Keesokan harinya, Boni berjalan lunglai. Mukanya sekusut cucian yang belum disetrika tiga bulan. Dia pergi ke warung kopi di ujung jalan. Butuh ketenangan. Dia pesan kopi hitam pahit. Sepahit kenyataan.

Saat mau bayar pakai QRIS, abang warung kopi menatap muka Boni lama sekali. Matanya pindah-pindah. Dari layar HP-nya ke muka Boni. Berulang kali.

“Eh, Mas…” si abang angkat bicara. Matanya berbinar. “Mas ini yang viral di TikTok dari subuh tadi, kan?”

Boni mengernyitkan dahi. “Viral apa, Bang? Saya sudah hapus TikTok.”

Si abang langsung memutar HP-nya. Memperlihatkan sebuah video. Sudah ditonton ratusan ribu orang. Ternyata, ada netizen jahat yang merekam layar saat live Priska semalam.

Muka Boni terpampang jelas di pojok video saat mengirim singa. Lengkap dengan tulisan besar-besar buatan netizen yang maha kejam:
“Tutorial Menjadi Donatur Pernikahan Mantan Lewat Jalur Algoritma.”

Latar belakang videonya? Suara tangisan bayi yang meraung-raung.

Boni hanya bisa menghela napas panjang. Pelan sekali. Dia bayar kopinya, lalu berjalan pulang. Baru dia sadari, baik di dunia nyata maupun digital, algoritma kehidupan kadang punya selera humor yang terlalu pekat untuk manusia biasa. (***)

KS -, 26/62026


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp