Oleh: Hendri Chaniago.
Jumat: 28:08:2026.
Tak ada Kuantan Singingi kalau tak ada Rusjdi S. Abrus dan Asrul Ja’afar. Peribahasa itu tidak berlebihan. Begitulah sejarah mencatatnya.
Tahun 1999. Kuansing belum jadi apa-apa. Hanya sekadar kawasan kecamatan di bawah ketiak Indragiri Hulu. Jauh dan sepi. Pembangunan pun belum tersentuh.
Lalu lahir Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999. Kuansing resmi mekar. Menjadi kabupaten sendiri. Berdiri di atas kaki sendiri.
Di sinilah tugas berat dimulai: menukangi kabupaten babat alas ini dari nol. Tanpa kantor megah dan tanpa anggaran melimpah.
Pilihan jatuh pada satu nama: Drs. H. Rusjdi S. Abrus.
Rusjdi ini orang Baserah. Anak Kuantan Hilir asli. Lahir 29 November 1947. Ayahnya, Sarmin Abrus, tokoh Masyumi setempat. Ibunya Rogo Sumad.
Ada cerita unik soal namanya. Bayi Rusjdi lahir bertepatan dengan kedatangan ulama besar, Buya Hamka, yang bertandang ke Baserah pada pertengahan November 1947. Kebetulan, Buya Hamka juga baru dapat anak dan dinamai Rusjdi Hamka. Maka anak Sarmin ini pun diberi nama serupa: Rusjdi. Berkah nama ulama.
Karir Rusjdi di birokrasi bukan kaleng-kaleng. Dia pamong praja sejati. Pernah jadi Kabag Humas Riau, memimpin Dispenda Pekanbaru, hingga menjabat Kadis Pariwisata Riau. Bahasa kerennya, dia tahu betul jeroan pemerintahan.
Maka ketika ditunjuk jadi Penjabat Bupati persiapan pada 1999, Rusjdi langsung tancap gas.
Teluk Kuantan waktu itu masih lugu. Rusjdi-lah yang menggambar wajah kota itu. Dia sulap kota kecamatan jadi ibu kota kabupaten. Dinas-dinas dibentuk. Pegawai dirapikan. Anggaran disusun. Semua dikerjakan sambil tersenyum. Sosoknya ramah, santun, tapi tegas urusan integritas.
Masyarakat Kuansing pun langsung jatuh hati. Hasilnya terlihat pada Pemilukada lewat DPRD tahun 2001. Rusjdi bergandengan tangan dengan Drs. H. Asrul Ja’afar sebagai wakilnya.
Pasangan ini menang mutlak. Rusjdi sah menjadi Bupati Definitif Pertama Kuansing, lalu dilantik pada 1 Juni 2001.
Rakyat bersorak karena Kuansing resmi punya nakhoda tangguh. Duo Rusjdi-Asrul siap membawa negeri ini berlari.
Namun takdir berkata lain. Manusia berencana, Tuhan yang memegang garis akhir.
Hanya sembilan hari setelah dilantik—cuma 9 hari—serangan jantung menghentikan detak nafas Rusjdi. Tanggal 9 Juni 2001, sang pembuka jalan berpulang ke Rahmatullah.
Tangis pecah di Teluk Kuantan. Negeri yang baru saja mengepakkan sayap itu mendadak kehilangan nakhoda utamanya.
Di tengah duka yang masih basah, roda pemerintahan tak boleh berhenti. Tongkat estafet langsung berpindah ke pundak Asrul Ja’afar.
Sebagai sosok yang sejak awal mendampingi Rusjdi, Asrul paham betul ke mana arah kapal ini harus dibawanya. Ia melangkah maju, melanjutkan tampuk kepemimpinan Kuansing untuk periode 2001–2006.
Tugas Asrul tidak ringan. Ia harus menghapus air mata warga sekaligus membuktikan bahwa Kuansing mampu berdiri tegak.
Di tangan Asrul Ja’afar inilah pondasi dasar Kabupaten Kuantan Singingi benar-benar ditanam dengan kokoh. Kalau Rusjdi meletakkan batu pertamanya, maka Asrul yang mengecor tiang-tiang utamanya.
Asrul mulai merajut sistem birokrasi yang lebih tertata dan efektif. Ia gerakkan pembangunan infrastruktur dasar yang menjadi urat nadi daerah baru.
Jalan-jalan penghubung antar-kecamatan yang dulunya berlumpur mulai dibuka dan diperbaiki. Kantor-kantor pelayanan publik didirikan agar masyarakat tak perlu jauh-jauh lagi mengurus administrasi. Pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar digenjot dari nol.
Asrul berhasil membuktikan bahwa Kuansing bukan sekadar kabupaten hasil pemekaran yang asal berdiri, melainkan daerah yang siap berlari kencang.
Pondasi yang dibangunnya begitu kuat, menjadi tempat berpijak yang aman bagi pemimpin-pemimpin Kuansing di masa-masa setelahnya.
Dua sosok ini adalah dwi-tunggal pembuka jalan. Rusjdi menghadirkan mimpinya, lalu Asrul Ja’afar mewujudkan dan memperkokoh pondasinya.
Kini, kedua tokoh hebat itu telah berpulang ke haribaan Ilahi. Rusjdi S. Abrus dan Asrul Ja’afar sudah menunaikan janji bakti mereka dengan sempurna.
Air mata rakyat Kuantan Singingi kembali menetes, mengenang dua nakhoda awal yang rela meletakkan batu pertama dan mengecor tiang-tiang dasar negeri ini dari tidak ada menjadi ada. Mereka telah beristirahat dengan tenang, meninggalkan warisan berupa sebuah kabupaten yang kini berdiri gagah di tepi Batang Kuantan.
Lalu, tugas siapa menjaga warisan ini? Tongkat estafet itu kini berada penuh di genggaman anak-anak muda Kuansing. Negeri ini tidak dibangun dengan tetesan keringat para pendiri hanya untuk diratapi dalam nostalgia, melainkan untuk dirawat, diperjuangkan, dan diterbangkan lebih tinggi.
Tugas generasi muda hari ini bukan lagi berdebat soal bagaimana mendirikan kabupaten, melainkan bagaimana menjaga kehormatan tanah kelahiran ini. Merawat birokrasi yang bersih, menjaga kelestarian alam dari kehancuran, mengangkat kebudayaan Pacu Jalur hingga makin disegani dunia, serta memastikan tiap jengkal tanah Kuansing memberi kesejahteraan bagi rakyatnya.
Rusjdi dan Asrul telah menyalakan obornya di tengah kegelapan tahun 1999. Kini, tugas anak mudalah untuk menjaga api itu agar tak pernah padam, membawa Kuantan Singingi melompat lebih jauh ke depan tanpa pernah kehilangan jiwanya. (***)





