Dokter dari Pipa Paralon

Oleh: Hendri Chaniago.
Jumat: 04:09:2026.

Budianto tidak perlu lagi bangun pagi. Tidak ada lagi keharusan mengejar jam kantor.

Sejak 2019, rutinitas lamanya resmi dipensiunkan. Hidupnya pindah ke belakang rumah. Di Desa Jao, Teluk Kuantan. Di sana, berderet-deret pipa paralon siap menyapa.

Di atas paralon itulah ia menggantungkan hidup. Menanam salada. “Saya mulai ini waktu musim Covid dulu,” kata Budianto saat TintaKita.com bertandang ke rumahnya, Jumat (4/9).

Dulu, Budianto bekerja sebagai pegawai kontrak. Pendamping pertanian di Dinas Pertanian Kabupaten Kuansing. Lima tahun mengabdi. Begitu kontrak habis, ia geleng kepala saat ditawari perpanjangan. Cukup. Ia mau pusing sendiri, tapi jadi bos untuk dirinya sendiri.

Pria kelahiran 1967 ini asli Jember, Jawa Timur. Kuliahnya dulu di Universitas Jember. Jurusannya Ekonomi Pertanian—bukan agribisnis murni. Tapi soal hitung-hitungan tanah dan tanaman, insting ekonominya jalan.

Soal modal awal, ia merogoh kantong sekitar Rp20 juta. Langkah awalnya tidak langsung mulus. Namanya juga rintisan. Saladanya cuma beberapa batang. Mirip pajangan. Tapi Budi orangnya tekun. Pelan-pelan infrastruktur paralonnya ditambah.

Ia juga tidak gengsi cerita kegagalan. Budi pernah kapok. Pernah sekali panennya gagal total. Pemicunya sepele tapi mematikan: cuaca terik luar biasa. Air yang mengalir di pipa paralon ikut mendidih. Akibatnya, akar saladanya membusuk. Habis.

“Pernah sekali gagal total. Panasnya tak tertolong,” kenangnya terkekeh.

Tapi Budi belajar. Ia bangkit.

Kini, lahan sempit di belakang rumahnya menjelma jadi ‘tambang hijau’. Ada 2.000 batang salada tumbuh subur di sana.

Prosesnya sederhana. Bibit salada disemai dulu di atas rockwool. Tunggu 10 hari, baru dipindahkan ke lubang paralon. Airnya dicampur racikan nutrisi buatan Budi sendiri. Pupuk Abimix.

“Nutrisi A dan B dicampur jadi satu. Itu saja rahasianya,” perincinya.

Kerjaan Budi saban hari sekarang santai sekali. Cuma keliling mengecek air. Jangan sampai kering. Selebihnya, menunggu pembeli datang.

Budi tidak perlu repot-repot memikul salada ke pasar. Pembeli yang antre ke rumahnya. Ada yang jauh-jauh datang dari Lipat Kain cuma demi saladanya. Dapur MBG juga rutin memborong.

“Kebutuhan lokal saja masih kurang. Saya malah kewalahan,” ujarnya tertawa.

Harganya murah meriah. Cuma Rp4.000 per batang. Panennya tiap 40 hari sekali. Berarti, sekali petik Budi mengantongi Rp8 juta bersih. Lumayan banget untuk ukuran kerja dari belakang rumah.

Dari cairan nutrisi dan pipa paralon itulah, rezeki mengalir tanpa henti. Cukup untuk dapur, dan lebih dari cukup untuk masa depan keluarga.

Bahkan, dari hasil jualan salada Rp4.000-an inilah, Budi dan istrinya, Santi, berhasil menyekolahkan anaknya. Sampai lulus. Sampai sukses jadi seorang dokter.

Siapa sangka, dari sayur hijau di atas paralon, lahir seorang dokter. Budianto membuktikannya. Tanpa perlu desak-desakan berangkat kantor tiap pagi. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp