Oleh: Hendri Chaniago
Malam makin larut di Banyuwangi Selatan. Udara pesisir mulai dingin. Tapi di sebuah kebun buah naga milik warga setempat, suasananya berbeda. Terang benderang. Ribuan lampu pijar menyala, menyelimuti kebun dengan pendar cahaya yang hangat.
Di kebun itulah, Pak Wayan Supadno merekam sebuah mahakarya pertanian lewat video pendeknya.
Dengan senyum renyah, pria yang akrab disapa Pak Wayan ini menyapa hangat, “Selamat malam. Salam hangat dari Banyuwangi Selatan.” Tangannya membelai buah naga yang warnanya merah merona. Ukurannya mantap. Mantap sekali.
Pak Wayan menunjukkan sebuah keajaiban yang bikin geleng-geleng kepala. Pohon-pohon buah naga di kebun warga ini berbuah sangat lebat. Padahal, saat itu bukan musimnya. Harusnya, pohon-pohon itu sedang “tidur” dan belum waktunya berproduksi.
Tapi di tangan petani Banyuwangi dan lewat edukasi Pak Wayan, hukum alam itu ditekuk melalui metode cipta kondisi.
Bagaimana caranya?
Pohon buah naga “ditipu” sedikit. Malam hari yang harusnya gelap gulita dibuat terang benderang menggunakan lampu pijar. Si pohon bingung, dikira hari sudah siang terus. Akhirnya mereka bekerja lembur, membakar energi, dan memunculkan bunga di luar musim.
Hebatnya lagi, biasanya buah yang dipaksa lahir di luar musim itu bentuknya kuntet, rasanya asam, atau kulitnya burik. Namun, buah naga di kebun warga Banyuwangi ini justru mulus, besar, dan gempal.
“Ini Grade A dan Grade B semua,” kata Pak Wayan dengan nada bangga.
Bagi petani, Grade A bukan sekadar label supermarket. Grade A adalah harga diri, penebus peluh, dan tanda dompet akan menebal. Saat pasar sedang kosong dan petani lain tidak punya barang, kebun di Banyuwangi Selatan ini justru panen raya. Harganya jelas selangit karena hukum ekonomi dasar: barang langka, harga gila.
Rahasia kesuksesan ini bukan sulap, bukan sihir. Ini bukan cuma soal lampu, tapi soal pemahaman dan rasa sayang terhadap tanaman. Petani Banyuwangi tahu betul kapan pohonnya haus dan lapar. Nutrisinya dijaga ketat. Selain itu, ada proses seleksi bunga.
Jika bunga terlalu banyak, sebagian langsung dipotong dengan tega. Mengapa? Daripada berebut makanan lalu berbuah kerdil semua, lebih baik memelihara sedikit tapi tumbuh menjadi raksasa semua.
Bertani itu pakai hati dan otak, bukan cuma modal cangkul dan otot. Lewat video pendeknya, Pak Wayan Supadno seolah ingin berbisik kepada seluruh petani di Indonesia. Dia mengajak semua orang untuk tidak menyerah pada keadaan atau musim. Tanah kita ini surga, tinggal kitanya yang harus mau berpikir dan berinovasi.
Malam makin pekat. Lampu kebun masih menyala. Di ujung videonya, Pak Wayan melambaikan tangan dengan tegas, menyisipkan semangat nasionalisme yang kuat.
Salam Merdeka Pangan!. (***(
(Disadur dari video kiriman Pak Wayan Supadno yang dikirimnya ke TintaKita.com)





