Jangan Kerdil Sebelum Bertanding

Oleh: Hendri Chaniago.
Rabu: 09:08:2026.

Senja itu tipis. Temaram mulai jatuh. Mobil kami melaju cukup kencang. Menuruni jalanan berliku di perbatasan Desa Sitorajo Kari.

Lampu kendaraan dari arah berlawanan satu per satu mulai menyala, membelah garis remang yang makin pekat.

Di dalam kabin, tadinya cuma ada suara mesin dan deru angin. Sunyi. Tipikal orang capek sehabis melintasi rutinitas seharian.

Lalu, kawan di sebelah saya mendadak celetuk. Tanpa mukadimah. Tanpa basa-basi.

“Tuhan itu,” katanya santai, sambil menatap lurus ke kaca depan, “memberi sesuai ukuran wadah yang kita sorongkan.”

Saya menoleh tipis. Tangan tetap memegang kemudi. Menunggu kelanjutan omongannya.

“Kalau kita minta sedikit, ya diberi sedikit. Tapi kalau kita berani minta banyak, pasti dikasih banyak.”

Ia diam sejenak. Menyandarkan punggungnya lebih dalam ke jok, lalu melipat tangan di dada. “Intinya begini,” lanjutnya.

“Kalau mau bikin usaha besar, ya mintalah yang besar sekalian. Jangan nanggung. Minta besar, doanya kencangkan, usahanya matang, ikhtiarnya habis-habisan. InsyaAllah tembus.”

Ia terkekeh kecil. “Tapi kalau mintanya receh, ya jangan protes kalau cuma dapet uang kembalian.”

Sederhana. Tapi di tengah jalan menurun Sitorajo Kari yang remang itu, kalimatnya kerasa meletup.

Nyess. Seperti segelas kopi hitam panas yang diseruput pas hawa dingin mulai menusuk tulang.

Belum selesai saya mencerna, ia merapikan posisi duduknya. Menyibak sedikit rambutnya ke belakang telinga.

“Makanya,” sambungnya lagi, “jangan pernah takut bermimpi. Apalagi takut rugi. Dalam bisnis, rugi itu cuma biaya sekolah. Yang penting otak harus mutar terus. Jangan sampai mogok.”

Ia makin bersemangat. “Keterbatasan itu bukan benteng. Itu bensin. Makin kepepet, harusnya makin kreatif.

Keterbatasan justru bikin kita makin membara, makin tak ada matinya.”
Kalimat itu seperti tamparan halus tapi pas kena di muka.

Kadang kita ini lucu. Sama manusia kita takut ditolak, tapi sama Tuhan kita malah pelit bermimpi. Padahal modal doa itu gratis. Yang bayar mahal itu cuma gengsi dan rasa ragu kita sendiri.

Kita sering membatasi rezeki bukan karena Tuhan tak punya, tapi karena isi kepala kita yang terlalu kerdil untuk menampung keberkahan skala besar.

Baru mau melangkah saja sudah membayangkan bangkrut. Padahal, kalau otak terus dipaksa berputar, jalan buntu pun bisa dijebol.

Mobil terus melaju. Bayangan pepohonan Sitorajo Kari perlahan menghilang di spion belakang.

Malam makin lebat. Tapi kabin mobil terasa hangat, dan isi kepala saya malah terang benderang.

Jalanan boleh saja menurun, tapi urusan cita-cita, pergerakan otak, dan prasangka pada Tuhan harus tetap menanjak tinggi.

Toh, Tuhan Maha Besar. Sungguh tak elok kalau kita yang malah suka kerdil sebelum bertanding. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp