Jurus SISKA: Sapi Kenyang, Sawit Senang, Importir Tenang

Oleh: Hendri Chaniago.

Kita ini aneh. Punya lahan sawit terluas di dunia. Tujuh belas juta hektare. Tapi urusan perut, urusan daging, kita masih sibuk nengok ke luar negeri. Tiap tahun kita teriak kurang daging. Kurangnya tidak tanggung-tanggung: 400.000 ton!

Kebutuhan kita itu 800.000 ton setahun. Tapi peternak kita cuma sanggup bikin 400.000 ton. Sisanya kita ambil lewat impor. Australia tersenyum lebar tiap kali kita kekurangan protein.

Maka, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, gemas. Beliau punya jurus lama tapi mau digaspol sekarang. Namanya SISKA. Keren juga namanya. Singkatannya: Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit.

Intinya sederhana saja. Sapi-sapi itu jangan dikurung di kandang mewah ala Eropa atau Amerika. Lepaskan saja ke kebun sawit. Biarkan mereka pacaran di bawah pohon sawit. Beranak pinak secara alami di sana.

Alasan milih kebun sawit karena murah. Biaya pemeliharaannya jatuh drastis. Sapi tidak perlu dicarikan rumput potong. Mereka tinggal jalan, merunduk, lalu mengunyah.

Bagi perusahaan sawit, ini berkah dobel. Selama ini, musuh utama kebun sawit itu gulma atau rumput liar. Untuk membersihkannya, perusahaan harus sewa buruh atau beli racun rumput alias herbisida. Itu jelas boros duit.

Begitu sapi masuk, keajaiban terjadi. Sapi-sapi itu menjelma jadi mesin pemotong rumput gratis. Bahkan bekerja sukarela 24 jam tanpa minta uang lembur. Hasilnya, biaya pembersihan gulma langsung rontok 50 sampai 70 persen. Bayangkan efisiensinya.

Sudah begitu, setelah kenyang, sapi-sapi itu buang hajat. Kotorannya jatuh ke tanah kebun. Menjadi pupuk organik yang luar biasa subur. Tanah sawit jadi gemuk, buah sawit makin lebat, dompet perusahaan makin tebal.

Itulah yang disebut ekosistem hulu-hilir yang jenius. Sapi kenyang, sawit senang, pengusaha tenang.

Hitung-hitungan Pak Wamenko juga masuk akal. Kalau 17 juta hektare lahan sawit kita dimanfaatkan dengan benar, lahan itu bisa menampung 1,3 juta ekor sapi.

Angka 1,3 juta ekor itu bukan main-main. Itu angka yang cukup untuk memangkas habis defisit daging kita. Selamat tinggal impor.

Tapi kita tahu ide bagus kalau tidak ada payung hukumnya bisa masuk angin di jalan. Pak Hanif paham betul birokrasi kita. Makanya, gerakan ini langsung disandarkan pada Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 tentang Kawasan Swasembada Pangan.

Kemenko Pangan kini sedang ngebut. Mereka merumuskan regulasi pendukungnya. Tidak sendirian, mereka gandeng Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Tiga kementerian harus satu irama. Jangan ada yang niup trompet, ada yang mukul gendang beda lagu.

Pemerintah sekarang optimistis. Memang harus begitu. Kita punya keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki negara lain, yaitu sawit yang melimpah. Kita tidak perlu lagi memaksa pakai model peternakan dari luar negeri yang mahal dan rumit itu.

Mari kita tunggu sapi-sapi di kebun sawit ini benar-benar bisa menggunting rantai impor daging kita. Perut rakyat harus diisi dengan protein mandiri, bukan protein titipan tetangga. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp