Ketika Ambisi Terlalu Tinggi dan Ketakutan Terlalu Dalam

Penulis : H. Marwan
Yohanis, S.Sos., M.I.Kom.

Ada dua hal yang sering berjalan beriringan dalam diri seseorang: ambisi yang terlalu tinggi dan ketakutan yang terlalu dalam.

Ambisi mendorong seseorang untuk mendapatkan lebih banyak—lebih banyak kekuasaan, pengaruh, pengakuan, posisi, atau kendali.
Sementara ketakutan membuatnya cemas kehilangan semua yang telah dikejar, terlebih pencapaian itu diperoleh dengan cara tidak sepenuhnya dapat di pertanggung jawabkan.

Di sinilah persoalan mulai menjadi rumit.

Ambisi yang sehat membuat seseorang bekerja keras untuk mencapai tujuan. Tetapi ambisi yang kehilangan batas dapat membuat seseorang menghasilkan terlalu banyak cara.

Dan ketika cara-cara itu mulai terasa sulit di pertanggung jawabkan, muncullah ketakutan.

Takut diketahui.
Takut dipertanyakan.
Takut kehilangan posisi.
Takut kehilangan pengaruh.
Takut ada yang membuka jejak.
Takut orang lain melihat sebenarnya apa yang sedang diperjuangkan.

Ironisnya, semakin besar ambisinya, seringkali semakin besar pula ketakutannya.

Karena semakin tinggi sesuatu yang ingin dipertahankan, semakin besar pula kecemasan ketika fondasinya tidak kokoh.

Lalu lahirlah berbagai prilaku yang berlebihan.

Terlalu protektif.
Terlalu curiga.
Terlalu defensif.
Bahkan Terlalu sibuk merekayasa.

Di sinilah ambisi mulai menghasilkan paradoks.

Seseorang ingin terlihat kuat, justru memperlihatkan kegelisahan.

Ingin terlihat mengendalikan keadaan, tetapi justru terlihat kehilangan kendali.

Ingin menutup sebuah persoalan, tetapi cara menutupnya membuat orang bertanya: ”Sebenarnya apa yang sedang disembunyikan?”
Sebab publik tidak selalu membutuhkan bukti yang sempurna untuk mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Kadang cukup melihat pola.

Sikap yang berubah ketika kepentingan tertentu di sentuh. Respons yang terlalu emosional terhadap pertanyaan sederhana. Upaya mengalihkan pembicaraan. Orang-orang yang terlalu sibuk membangun pembenaran.
Atau aktivitas yang terus menerus dipoles agar terlihat biasa, padahal justru karena terlalu dipoles, ia kehilangan kewajarannya.

Belum tentu semua itu merupakan bukti kesalahan.

Tetapi cukup untuk menumbuhkan rasa ingin tahu.

Dan rasa ingin tahu publik adalah sesuatu yang tidak mudah dikendalikan dengan narasi.

Sebab semakin seseorang berusaha mengendalikan apa yang boleh dipikirkan orang lain, semakin besar pula kemungkinan orang justru bertanya lebih jauh.

Ada sebuah ironi dalam ambisi yang berlebihan: orang bisa begitu sibuk mengejar puncak, sampai lupa bahwa semakin tinggi ia berdiri, semakin banyak hal yang terlihat dari bawah.

Begitu pula dengan ketakutan.

Orang yang terlalu takut kehilangan sesuatu akan cenderung menjaganya secara berlebihan. Dan penjagaan yang berlebihan seringkali justru menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang dianggap sangat berharga untuk disembunyikan.

Maka jangan heran jika terkadang bukan lawan yang membongkar seseorang.

Bukan pula kritik yang menjatuhkannya.

Melainkan ambisinya sendiri.

Ambisi membuatnya melangkah terlalu jauh.

Ketakutan membuatnya terlalu banyak bereaksi.

Dan reaksinya kadang membuat blunder.

Satu ucapan yang tidak perlu.
Satu keputusan yang terlalu dipaksakan. Satu pembelaan yang justru membuka pertanyaan baru.
Satu tindakan yang tidak konsisten dengan apa yang sebelumnya dikatakan.

Sedikit demi sedikit, potongan-potongan itu membentuk sebuah gambaran.

Karena pada akhirnya, sesuatu yang dibangun dengan ambisi tanpa batas akan membutuhkan energi besar untuk mempertahankan. Dan sesuatu yang dipertahankan karena ketakutan akan selau hidup dalam kegelisahan.

Di titik tertentu, seseorang tidak lagi sibuk mencapai tujuan.

Ia sibuk menjaga agar orang lain tidak mengetahui bagaimana tujuan itu dicapai.

Dan ketika itu terjadi, ambisi telah berubah menjadi beban.

Ketakutan telah berubah menjadi pengendali.

Sementara kewajaran telah hilang dari setiap tindakan.

Mungkin inilah salah satu hukum sederhana dalam kehidupan publik:

Semakin besar ambisi yang tidak diimbangi integritas, semakin besar pula ketakutan yang dipelihara.

Dan semakin besar ketakutan yang dipelihara, semakin mudah seseorang melakukan kesalahan yang justru membuka apa yang selama ini apa yang ingin disembunyikan.

Sebab tidak semua kedok dibuka oleh orang lain.

Sebagian terbuka karena pemiliknya terlalu takut kedok itu terlihat.

Dan tidak semua ambisi berakhir pada kemenangan.

Sebagian justru berakhir pada satu titik ketika seseorang sadar bahwa dalam mengejar terlalu banyak, ia meninggalkan terlalu banyak jejak.

Ambisi mungkin membawa seseorang menuju puncak. Tetapi tanpa integritas, ketakutanlah yang akhirnya menentukan berapa lama ia mampu bertahan disana.


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp