Oleh: Hendri Chaniago.
Jumat: 26:09:2026.
KAPAL besar itu bernama Indonesia. Penumpangnya 280 juta jiwa. Banyak sekali.
Nakhodanya merasa sudah di jalur yang benar. Petunjuk arah di meja kemudi menunjukkan angin tenang, laut aman, dan pelabuhan tujuan sudah di depan mata.
Namun, ada ganjalan yang nyata.
Di dalam palka, di lantai bawah, para penumpang justru merasa mual. Ombak terasa mengocok perut. Bahasa sederhananya: angka di atas kertas indah, tapi dompet di kantong bolong.
Jumat (26:09), di FEB UGM, suasana riuh. Aliansi Ekonom Indonesia menggelar acara bertajuk 1 Tahun 7 Desakan Darurat Ekonomi.
Di sana, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, berdiri. Panggilannya Wija. Pria ini tidak pakai bahasa langit. Dia pakai bahasa kapal.
“Jadi Indonesia itu salah arah,” kata Wija. “Karena kapal kita yang penduduknya 280 juta itu dikemudikan oleh nakhoda dan timnya dengan panduan, kompas, dan segala petunjuk yang salah.”
Jleb.
Penunjuk jalannya memang pakai peta keliru. Mari kita lihat contoh paling simpel. Soal garis kemiskinan.
Pemerintah menetapkan garis kemiskinan kita ada di angka Rp699.235 per orang per bulan.
Enam ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah. Untuk hidup sebulan.
Berarti sehari cuma boleh belanja sekitar Rp23 ribu. Buat makan tiga kali, bayar listrik, beli pulsa, sampai bayar kontrakan. Di jaman sekarang, uang segitu di kota cuma cukup buat beli nasi bungkus lauk telur dua kali. Itu pun tanpa es teh manis.
Kalau hidup dengan uang segitu dianggap tidak miskin, pantas saja angka kemiskinan kita kelihatan kecil di laporan resmi. Kelihatan sukses. Kelihatan indah.
Coba ganti kacamatanya.
Gunakan standar Bank Dunia. Batas kemiskinan ditetapkan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Angka kemiskinan kita langsung melonjak drastis. Menyentuh 64 persen.
Lebih dari separuh rakyat Indonesia ternyata masuk kategori miskin. Itulah realitas jujur yang sebenarnya dirasakan orang-orang saat belanja di pasar pagi.
Wija lalu mengajak kita menengok tetangga sebelah. Vietnam.
Ekonomi kita dan Vietnam itu mirip-mirip. Pendapatan per orang sama-sama di kisaran 5.000 Dolar Amerika Serikat per tahun. Setara. Bedanya, Vietnam tidak hobi menghibur diri. Mereka berani jujur.
Garis kemiskinan di Vietnam ditetapkan Rp1,5 juta untuk warga kota, dan Rp1,2 juta untuk warga desa. Mereka berani mengakui realitas bahwa biaya hidup memang mahal.
Indonesia masih belum berani. Sebab kalau datanya diperbaiki, angka kemiskinan pasti meroket. Lalu narasi keberhasilan akan runtuh. Nakhoda akan pusing menjawab pertanyaan wartawan.
Padahal, menyembunyikan masalah di balik statistik yang dipercantik itu berbahaya. Ibarat orang sakit demam tinggi, tapi alat pengukur suhunya sengaja dirusak supaya angkanya tetap 36 derajat.
Badan tetap dingin di kertas, tapi pasiennya kejang-kejang.
Mengemudikan kapal sebesar Indonesia tidak bisa pakai ilmu halusinasi data. Rakyat tidak makan angka statistik. Rakyat makan beras. Dan beras tidak pernah bisa dibeli pakai grafik keberhasilan pemerintah.
Sudah saatnya kompasnya dibetulkan. Biar kapalnya tidak terus menerus berlayar menuju ilusi.(***)





