Oleh : Wayan Supadno
Agar mudah dapat ilmu hikmah pembelajaran ilmu kehidupan, kenyataan apa adanya di lapangan dan data yang valid. Berikut ini kisah yang bisa kita simak dengan seksama, terkait dan terikat sebab akibatnya.
1). Manifestasi Kurang Protein Hewani.
Kalau kita mau jujur melihat pemain sepak bola antar negara, pasti kita merasakan kenapa postur anatomi pemain Indonesia cenderung lebih rendah dibandingkan negara lain.
Begitu juga data tinggi rerata badan masyarakat Indonesia cuma 158 cm, kalah dibandingkan dengan negara Asean lainnya. Begitu juga IQ hanya 78,49. Kalah juga, tapi angka obesitas kita juara. Kondisi di atas korelatif dengan rendahnya asupan protein hewani cuma 18-20 gram/kapita/hari, negara tetangga 60 gram. Konsumsi susu kita 16 kg, Vietnam 26 kg/kapita/tahun.
2). Sumber Protein Hewani.
Kita bersyukur masyarakat kita relatif lebih tinggi indeks asupan ikan dibandingkan negara tetangga, karena memang negara kita penghasil ikan luar biasa besarnya. Bahkan sampai ekspor ke banyak negara.
Sumber protein hewani, daging ayam dan telur kita sudah surplus. Sayangnya asal GPS (kakek nenek) nya ayam 100% masih impor. Utamanya dari AS. Begitu juga pakan, vaksin dan obatnya.
Sumber protein hewani daging sapi. Kalau ini, asli declining. Begitu dolar meroket kontan impor sapi Januari sd April 2026 ini minim impor. Spontan berdampak kelangkaan sapi di Indonesia. Sapi lokal jadi sasaran.
Implikasinya, harga daging sapi naik Rp 20.000 sd Rp 30.000/kg. Sapi pedet tahun lalu Rp 14 juta/ekor, saat ini Rp 20 juta lebih/ekor. Bakso dominan pakai ayam, minim daging sapi. Yang penting aroma daging sapi saja. Hehe.
Sumber susu, ini lucu sekali 82% kebutuhan susu nasional kita dari impor. Apalagi ada MBG (Makan Bergizi Gratis) makin besar permintaan pasarnya, lalu jadi pemicu banyak pengusaha mau investasi sapi perah.
Masyarakat sekitar dilibatkan pengadaan pakan. Misal rumput hijauan, dedak dan lainnya. Tak ubahnya peternak ayam pedaging dan petelur, kontan omzet dan laba turun akibat MBG libur sekolah.
Ilmu hikmahnya, bahwa protein hewani kita masih jauh dari harapan swasembada. Itu yang sesungguhnya. Baik ayam, telur, daging dan apalagi susu. Ini semua ancaman sekaligus peluang bagi kita yang mau investasi.
Berdampak indeks asupan protein hewani sangat rendah. Implikasinya kerdil, IQ rendah dan minim jumlah pengusaha pencipta lapangan kerja lalu banyak pengangguran. Ini bagi orang lain jadi bahan gorengan medsos. Bagi saya ini peluang emas investasi.
Salam Inovasi
Jun 26, 2026
Wayan Supadno
Pak Tani HP 081586580630





