Laba Satu Triliun

Oleh: Hendri Chaniago.

Tahun lalu, kalau Anda sempat melirik layar ponsel dan melihat grafik IHSG, mungkin Anda sempat jantungan. Dua kali.

Maret dan April 2025 adalah bulan-bulan yang bikin mulas. Dunia lagi tidak baik-baik saja. Perang dagang memanas, rupiah babak belur, dan Timur Tengah bergejolak. Pasar saham panik. Di dua bulan itu, bursa terpaksa melakukan trading halt. Perdagangan dihentikan sementara. Ibarat mesin mobil yang kepanasan, harus dimatikan dulu biar tidak meledak.

Tapi, dasar mental petarung.

Senin kemarin, 29 Juni 2026, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, tersenyum lebar di RUPST. Dia membawa kabar yang bikin semua orang melongo. BEI mencetak sejarah. Laba bersihnya sepanjang 2025 melonjak 59,4 persen.

Angkanya menyentuh Rp1,073 triliun. Dua tahun lalu, labanya “cuma” Rp673 miliar. Tahun 2025, rekor pecah. Ini laba bersih tertinggi sepanjang sejarah berdirinya bursa kita. Tentu ada pemicunya. Sumber cuannya pun sangat jelas.

Semua itu berasal dari Anda-Anda yang makin rajin trading dan investasi. Mayoritas pendapatan bursa datang dari komisi transaksi. Sebanyak 76,8 persen pendapatan BEI disumbang dari aktivitas jual-beli investor. Jual beli saham, dapat cuan atau boncos, bursa tetap dapat persentase.

Secara total, pendapatan BEI naik hampir 30 persen. Tepatnya menjadi Rp3,662 triliun. Jualan teknologi informasinya laku keras, pendapatan investasinya juga naik 27,2 persen.

Namanya bisnis, pendapatan naik, pengeluaran pasti ikut terkerek. BEI juga begitu. Beban operasionalnya membengkak menjadi Rp2,36 triliun. Maklum, bursa harus nomoki cadangan kerugian piutang anak usahanya, PT Pendanaan Efek Indonesia (PEI). Belum lagi biaya utak-atik dan merawat sistem perdagangan komputer mereka yang harus selalu online. Biaya CapEx-nya saja naik menjadi Rp370 miliar.

Tapi itu bukan masalah. Dompet BEI tebal sekali sekarang. Asetnya naik menjadi Rp14,78 triliun. Kas dan setara kasnya menumpuk di angka Rp1,25 triliun. Aman. Sangat nyaman.

Mari kembali ke soal kepanikan di awal tahun 2025 tadi. Bursa ternyata mampu berbalik arah dari kondisi hampir pingsan menjadi sekaya ini.
Kuncinya sangat sederhana. Intervensi yang presisi.
Waktu pasar mulai goyang, OJK langsung pasang badan lewat kebijakan stabilisasi.

Pemerintah juga tidak tinggal diam. Mereka menggelontorkan stimulus likuiditas dalam jumlah yang tidak main-main. Totalnya mencapai Rp200 triliun.

Duit jumbo itu masuk ke pasar. Efeknya instan. Kepercayaan investor pulih perlahan. Sentimen langsung berubah positif.

Hasilnya sangat magis. IHSG yang tadinya tiarap, langsung bangkit, lari, lalu terbang. Sepanjang tahun 2025, indeks kita memecahkan rekor tertinggi (all-time high) sebanyak 24 kali.

Bulan September 2025, level psikologis 8.000 dijebol. Bahkan sempat menyentuh titik tertinggi dalam sejarah di level 8.711 dengan total nilai seluruh saham (kapitalisasi pasar) menyentuh Rp16.004 triliun. Angka yang bikin pusing kalau dihitung pakai kalkulator warung. Meski akhirnya, menjelang malam tahun baru, indeks parkir di level 8.045. Tetap saja itu pencapaian luar biasa.

Hebatnya lagi, sekarang orang tidak cuma main saham. Pasar obligasi lewat SPPA transaksinya tembus Rp1.375 triliun. Bahkan jualan “angin” alias Bursa Karbon saja laku Rp36,37 miliar.

“Capaian ini menunjukkan aktivitas perdagangan yang semakin berkembang di berbagai instrumen investasi,” kata Jeffrey Hendrik. Bahasanya halus, tapi intinya bursa kita sudah makin dewasa dan komplet mainannya.

Ada satu pelajaran berharga dari sini. Jangan gampang panik melihat badai. Di balik layar monitor yang merah merona pada Maret 2025 lalu, ada jutaan jempol investor yang tetap optimis, ada regulator yang kerja lembur, dan ada hasil akhir yang manis di lembar laporan keuangan.

Selamat untuk BEI. Selamat juga untuk Anda yang ikut menyumbang transaksi, meski mungkin portofolio Anda hari ini masih ada yang “kebakaran”. Yang penting, bursanya kaya raya dulu. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp