Laju Tanpa Ragu

Oleh: Hendri Chaniago.
Rabu: 02:08:2026.

Sesekali boleh ya, kita bicara motivasi. Bosan juga kalau tiap hari hanya bahas angka dan konflik. Kali ini soal cara kita memandang hidup. Soal bagaimana sebuah besi besar melaju tanpa pernah peduli suara sumbang di sekitarnya.

Coba perhatikan kereta api.

Besar. Perak atau hitam. Berisik. Tapi ada satu hal yang bikin saya selalu kagum: dia tidak pernah pusing memikirkan jalan orang lain.

Lokomotif tidak pernah belok ke warung kopi hanya gara-gara melihat jalan tol macet. Ia juga tidak pernah rem mendadak cuma karena melihat jalur sebelah sepertinya lebih mulus.

Kereta punya rel sendiri. Ini bukan pasrah, melainkan fokus.

Socrates dulu pernah berpesan, rahasia perubahan itu bukan menghabiskan energi untuk melawan yang lama, melainkan membangun yang baru.

Kita sering kalah dengan kereta api di poin ini. Baru melangkah dua meter, mata sudah melirik kanan-kiri. Tetangga beli mobil baru, kita murung seminggu. Teman kantor naik jabatan, kita gelisah sampai lupa makan siang. Jalur sendiri malah terbengkalai dan akhirnya anjlok sebelum sampai stasiun pertama.

Kereta api itu efisien. Gerbongnya terukur. Yang diangkut cuma penumpang atau barang yang punya tiket. Tidak ada tempat untuk barang tidak berguna yang numpang lewat.

Seneca, filsuf Stoa kawakan, pernah bilang bahwa kita sebenarnya tidak kekurangan waktu, tapi kita saja yang terlalu banyak membuangnya untuk hal sia-sia.

Sebaliknya, gerbong hidup kita kerap diisi penuh drama. Gosip ruang istirahat ikut diangkut. Sakit hati masa lalu dimasukkan bagasi. Omongan miring orang lain disimpan baik-baik di bawah jok. Laju kita pasti melambat kalau muatannya berat oleh hal-hal yang tidak penting.

Tinggalkan semua itu. Lempar keluar jendela hal-hal yang tidak membuat kita tumbuh. Tabrak atau Tergilas.

Ini bukan soal mengajarkan kesombongan. Ini soal daya tahan dan keberanian.

Di jalanan hidup, selalu ada yang mencoba menghadang. Ada yang terang-terangan memasang palang, ada pula yang diam-diam menumpuk kerikil di atas rel. Keraguan orang, celaan, sampai persaingan yang tidak sehat.

Marcus Aurelius menegaskan bahwa apa yang menghalangi jalan justru akan menjadi jalan itu sendiri. Hambatan bukan alasan untuk berhenti, melainkan bahan bakar untuk melaju lebih kuat.

Kereta tidak pernah minta maaf pada batu yang menghalangi perjalanannya. Ia menambah kecepatan dan membiarkan massa serta konsistensinya menyelesaikan sisa urusan.

Sering mengerem karena takut dibilang ngotot hanya akan membuat kita tidak pernah sampai. Kereta api yang mengerem mendadak justru membahayakan seluruh isi gerbongnya.

Tugas kita hanya fokus dan melaju terus. Biarkan hasil kerja keras yang membungkam suara-suara sumbang di pinggir rel.

Mesin kereta baru mati kalau sudah sampai di tempat tujuan, bukan di tengah sawah atau di atas jembatan.

Aristoteles bilang, kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Keunggulan bukan sebuah tindakan instan, melainkan sebuah kebiasaan.

Banyak dari kita yang pintar memulai, tapi masih amatir dalam menyelesaikan. Baru kena hujan sedikit sudah minta berhenti, baru ketemu tanjakan terjal sedikit langsung minta ganti rute.

Piala tidak pernah diserahkan di tengah jalan. Hadiah hanya ada di garis finish.

Hari ini, rapatkan barisan dan kunci relmu. Lempar semua beban sia-sia, lalu tekan gas sejadi-jadinya.
Sampai jumpa di stasiun impian!. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp