Oleh: Hendri Chaniago.
Sabtu: 22:08:2026.
Dulu, Pacu Jalur adalah panggung murni anak kampung. Tanpa pemusatan latihan, tanpa try out berbulan-bulan. Stamina mereka ditempa langsung oleh lumpur sawah dan kerja keras harian.
Begitu hari H tiba di Tepian Narosa, hanya satu yang dipertaruhkan: marwah desa. Menang disyukuri, kalah ditertawakan bersama di warung kopi. Semua digerakkan oleh ikatan darah dan otot anak negeri sendiri.
Masuk era 2000-an, kesadaran mulai bergeser. Otot cangkul tak lagi dianggap cukup untuk menjaga gengsi. Latihan fisik terstruktur dan teknik modern mulai diadopsi.
Namun, ledakan sesungguhnya terjadi di era 2020-an, ketika persaingan berubah kian keras. Kalah bukan lagi sekadar hasil pertandingan, melainkan rasa malu yang membakar dada.
Demi mengejar trofi, fenomena “impor” pemacu tak terhindarkan. Atlet dayung nasional hingga pemacu luar daerah diboyong masuk. Perahu memang melesat lebih cepat, tapi bayaran sosialnya mahal.
Pemuda lokal yang bertahun-tahun merawat perahu di balai desa mendadak tersingkir ke tepi sungai—menjadi penonton bagi perahu kampungnya sendiri. Kemenangan rakitan itu terasa hampa jika tetes darah anak kandung negori hanya berakhir di pinggir arena.
Namun, kehadiran atlet profesional sebenarnya tak perlu ditakuti. Semakin banyak atlet yang berpartisipasi dalam Pacu Jalur—bahkan jika perlu melibatkan pemacu antarnegara di Sungai Kuantan—justru akan membawa dampak luar biasa.
Arus wisatawan bakal melonjak pesat, ekonomi warga lokal bergerak cepat, dan nama Kuantan Singingi kian kokoh di panggung sport tourism dunia. Langkah ini menjadi akselerator ampuh untuk mengukuhkan Kuansing sebagai pusat kebudayaan Pacu Jalur berkelas dunia.
Kehadiran para atlet luar ini sekaligus menjadi kawah candradimuka bagi pemuda lokal untuk menyerap ilmu modern—mulai dari manajemen fisik, nutrisi, teknik kayuhan efisien, hingga ketenangan mental. Lewat skema kuota dan peran player-coach, atlet profesional diposisikan untuk mentransfer ilmunya tanpa menggusur dominasi pemuda lokal di atas jalur.
Kendati demikian, sejauh apa pun Pacu Jalur melompat ke panggung internasional, tata cara adatnya tak boleh tergerus sedikit pun. Jangan sampai semua orang terlena oleh angka-angka pariwisata hingga lupa bahwa Pacu Jalur adalah tradisi dan kebudayaan yang memiliki “jiwa”.
Ritual sakral—mulai dari memilah kayu pilihan di hutan, doa bersama sebelum penebangan, melayur jalur, hingga penghormatan pada nilai gotong royong—adalah fondasi yang tak boleh ditawar. Jika ritual adat ini hilang, Pacu Jalur tak ada bedanya dengan lomba dayung biasa di atas danau buatan.
Kuansing tak perlu mengorbankan akar sejarahnya demi modernisasi. Pariwisata dan reputasi internasional boleh melambung tinggi, tetapi tata cara adat tetap menjadi pagar pembatas yang kokoh.
Dengan begitu, pemuda kampung tidak cuma lihai mendayung dengan standar dunia, tetapi juga menjadi benteng terakhir yang menjaga marwah dan kesakralan tradisi leluhur di tanah lahirnya sendiri. (***)





