Oleh: Hendri Chaniago.
Senin: 03:08:2026.
Agustus tiba lagi. Bendera merah putih berkibar di mana-mana. Dari tiang bambu di depan rumah warga kampung, sampai tiang besi menjulang di halaman kantor dinas.
Kampung-kampung mendadak molek. Dipoles cat warna-warni. Umbul-umbul terpasang gagah.
Anak-anak riang menyambut lomba panjat pinang, balap karung, hingga makan kerupuk. Yang bapak-bapak sibuk merancang panggung hiburan. Yang ibu-ibu sibuk goreng kerupuk dan meracik nasi tumpeng.
Meriah. Hangat.
Begitulah cara rakyat kita mengekspresikan syukur. Sederhana, gembira, tulus. Tak perlu teori rumit. Merdeka ya dirayakan.
Saya selalu tersenyum melihatnya. Ada kehangatan sosial yang luar biasa di sana. Gelak tawa yang lepas di tengah impitan ekonomi yang sebenarnya… ya begitu deh. Anda tahu sendiri.
Namun, begitu malam tirakatan usai, panggung dibongkar, dan bendera dilipat kembali—sebuah kesadaran mendadak mengetuk kepala saya. Pesta ini jelas bukan ujung dari segala-galanya.
Bagi rakyat biasa, lomba makan kerupuk itu sudah top. Itu level terbaik mereka mengekspresikan gembira. Tapi bagi para pengelola negara, bagi mereka yang memegang stempel kebijakan dan anggaran, urusannya beda lagi.
Sangat tidak cukup kalau mereka cuma ikut hadir dan tertawa di lomba tarik tambang antar-dinas. Rasa syukur para penyelenggara negara itu ukurannya cuma satu: tata kelola.
Merdeka itu rahmat. Beneran. Di alinea ketiga UUD 1945 jelas ditulis: Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…
Lalu di alinea keempat, tugas pengelola negara dipatok mati. Tidak bisa ditawar. Melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Amanatnya terang benderang. Tidak pakai kacamata pun kelihatan.
Artinya, mengelola negara dengan ugal-ugalan, korupsi yang makin kreatif, atau merancang kebijakan yang bikin kening rakyat makin berkerut itu jelas tindakan yang jauh dari kata bersyukur. Itu bentuk nyata dari sikap “kufur nikmat” kemerdekaan.
Alangkah indahnya kalau anggaran negara dikelola sebersih dan sejujur bapak-bapak di RT saat membagi hadiah lomba balap karung. Transparan. Tidak ada yang disunat di bawah meja.
Sangat menyejukkan pula kalau pelayanan publik cekatan dan tulus seperti ibu-ibu yang menyiapkan konsumsi warga. Tanpa perlu disogok, tanpa perlu tunggu viral dulu.
Agustus mestinya bukan sekadar ajang romantisme sejarah atau ritual setahun sekali. Agustus adalah cermin besar. Tempat kita menyapu muka, melihat mana yang cemong, dan memastikan bagian mana yang wajib dibenahi.
Rakyat sudah menunaikan bagian syukurnya dengan menjaga kerukunan dan kegembiraan di warung-warung kopi. Sekarang giliran yang di atas untuk membuktikan bahwa negara ini sungguh-sungguh dikelola sesuai janji alinea keempat.
Sebab, cara terbaik mencintai Indonesia bukan cuma dengan meneriakkan “Merdeka!” keras-keras, melainkan dengan memastikan tidak ada satu pun rakyat yang merasa terasing di tanah airnya sendiri.
Seruput kopi Anda. Mari kita resapi baik-baik. (***)





