Oleh: Hendri Chaniago.
Senin: 24:08:2026.
Kisah Halim ini menarik. Sungguh.
Dari anak susah di desa, lalu jadi raja sawit di Kuansing. Sempat duduk di kursi Wakil Bupati pula. Kini sayap bisnisnya malah mengepak sampai ke Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.
Luar biasa.
Banyak orang heran melihat orang dari tanah berlumpur bisa melompat sejauh itu. Jawabannya sederhana: petani itu mentalnya sudah baja sejak lahir.
Halim muda bukan siapa-siapa. Hidup menempa dirinya tanpa ampun. Apa saja dilakoni asal jadi beras.
Ia pernah keliling jualan kerupuk sagu. Kerupuk yang renyah itu dibayar dengan keringat yang basah. Tak cukup di situ, ia masuk hutan keluar hutan. Jadi pencari rotan, menebas semak, melintasi rasa takut. Kayu-kayu hutan pun pernah ia pikul di pundaknya.
Pundak itu memar. Tangan itu kasar. Tapi dari sanalah urat kawatnya terbentuk.
Anak susah punya satu kelebihan yang tak dimiliki anak manja: tidak ada pilihan untuk menyerah. Mau gengsi juga tidak ada gunanya, sebab gengsi tak bisa dimakan. Jadi, kerja keras apa saja disikat.
Mesin atau AI boleh saja pintar menghitung algoritma pasar. Tapi mesin tidak tahu rasanya pegal di bahu bekas memikul kayu. Mesin tidak tahu rasanya gigit jari waktu jualan sepi, lalu besok paginya harus tetap tersenyum menatap jalanan.
Halim paham betul rasa sakit itu. Dan ia tumbuh besar dari sana.
Begitu pegang modal dari hasil peras keringat masa mudanya, Halim tidak pakai uang itu untuk gaya-gayaan. Uangnya dibelikan tanah. Ditanami. Dipupuk. Ditunggu dengan sabar.
Di saat orang lain sibuk beli mobil baru, mantan pencari rotan ini sibuk beli lahan baru.
Insting bisnisnya makin tajam. Sekitar tahun 2012, mata Halim melihat potensi lain yang lebih cemerlang. Ia melirik lahan di pertengahan perkotaan Teluk Kuantan. Lahan itu dulunya rawa-rawa basah. Orang lain menyepelekan, bahkan tak pernah berpikir lahan mati itu ada harganya.
Halim justru sebaliknya. Ia berani mengambil risiko besar dengan membeli lahan rawa tersebut, lalu menimbunnya berton-ton tanah.
Hasilnya? Hari ini lokasi rawa dingin itu disulap jadi kawasan pertokoan megah dan objek wisata Pelangi Waterpark. Tempat orang berbelanja dan anak-anak tertawa riang. Rawa yang dulunya tak dilirik, di tangan Halim berubah jadi emas.
Begitu Kuansing terasa makin sempit oleh kebun dan properti, mata Halim menatap ke seberang laut. Ke Lingga, Kepulauan Riau. Di sana tanah masih membisu, menunggu tangan dingin yang berani mengolahnya. Halim datang membawa modal, pengalaman, dan tentu saja keberanian yang dipupuk sejak zaman jualan kerupuk dulu.
Itulah namanya ekspansi. Orang bilang investasi, warga warung kopi bilang: mutar uang biar makin beranak.
Sukses dari jalur tani itu bukan soal rumus Matematika yang kaku. Ini soal rasa dan insting tanah. Soal tahu kapan harus menahan napas, dan kapan harus melepas pukulan.
Maka kalau hari ini melihat Halim bisa terbang tinggi sampai ke Lingga, jangan cuma lihat posisi bahagianya sekarang. Lihatlah telapak tangannya. Pernah memegang rotan, pernah menggenggam kayu, dan pernah berlumpur.
Sebab di dunia ini, tanah tidak pernah bohong pada orang yang mau merawatnya. (***)





