Menembus Senayan 2029

Oleh: Hendri Chaniago.
Jumat: 11:09:2026.

Kuansing butuh orang di Senayan. Itu harga mati.

Selama ini kita cuma jadi penonton. Tiap Pemilu datang, janji manis ditumpuk. Begitu coblosan usai, kita ditinggal. Anggaran pusat lari ke daerah tetangga. Kita dapat sisanya. Kadang malah cuma dapat asapnya.

Padahal hitung-hitungannya jelas. DPT Kuansing itu ada 255.805 pemilih. Laki-laki 129 ribuan, perempuan 126 ribuan. Tersebar di 15 kecamatan, 229 desa, dan 689 TPS.

Angka sebesar itu menguap begitu saja tiap kali Pileg. Jumlah itu tidak sedikit. Tapi jangankan menaruh orang di Jakarta, punya wakil yang benar-benar “orang kita” saja terasa makin mustahil.

Penyebabnya klasik: suara kita pecah. Kita sibuk saling jegal di rumah sendiri. Sementara calon dari luar datang membawa janji, mengeruk suara, lalu melenggang santai ke Senayan.

Dua ratus lima puluh ribu lebih suara itu kalau disatukan sangat dahsyat. Itu tiket emas kita.

2029 nanti, ceritanya harus beda. Anak muda Kuansing harus ada yang berangkat ke Jakarta. Bukan cuma meramaikan baliho, tapi benar-benar duduk di kursi DPR RI.

Tapi tunggu dulu. Kita tidak sedang bicara tentang sekadar anak muda yang modal nekat atau sekadar berburu panggung. Senayan itu keras. Gelanggang politik pusat itu butuh orang yang siap tempur.

Anak muda yang kita maksud adalah figur yang sudah kenyang makan asam garam politik. Figur yang mengerti peta, paham cara bermain, dan punya rekam jejak panjang di medan pertempuran politik.

Kapasitasnya sudah teruji. Nama besarnya bukan cuma dikenal di pelosok Kuansing, tapi juga diperhitungkan di tingkat provinsi hingga pusat. Punya jaringan, punya gertak, dan punya keberanian untuk bertarung berebut alokasi anggaran.

Anak muda seperti inilah yang punya stamina dan cara pikir baru. Mereka tahu cara menembus tembok birokrasi pusat yang ribet. Dan yang paling penting, mereka tidak akan canggung apalagi minder ketika berhadapan dengan politisi kawakan di Jakarta.

Daerah ini tidak bisa cuma mengandalkan APBD yang makin cekak. Jalan rusak, infrastruktur tertinggal, sampai urusan pertanian membutuhkan gedoran dana APBN dari pusat. Tanpa orang kita yang berkapasitas dan punya pengaruh di komisi DPR RI, aspirasi Kuansing cuma jadi tumpukan berkas di meja menteri.

Mumpung 2029 masih ada waktu, konsolidasi harus dimulai dari sekarang. Warung kopi harus mulai riuh membedah siapa sosok muda berbobot ini.

Ego sektoral harus dibuang jauh-jauh. Beda partai boleh, tapi untuk urusan Senayan, kompasnya harus tetap sama: demi Kuansing. Kita sendiri yang wajib mengangkat anak kandung daerah ini ke panggung nasional.

Lalu, siapa sosok muda yang sudah kenyang asam garam politik dan punya nama besar itu? Siapa nama yang layak diusung dan benar-benar siap pasang badan untuk Kuansing di Jakarta?

Tunggu ulasan selanjutnya. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp