Mengubah Cerita Pahit Buah Impor Menjadi Peluang Lokal

Oleh: Hendri Chaniago.
Selasa: 25:08:2026.

MBG bukan sekadar bagi-bagi piring makan, melainkan instrumen pergeseran ekonomi nasional dari kapitalis menuju kerakyatan. Saat pasar terbuka puluhan juta porsi per hari, pilihannya cuma dua: kita ambil peluang emas ini melalui agribisnis lokal, atau membiarkan devisa terbang ke luar negeri karena ketergantungan impor.” — Wayan Supadno

Ada yang beda di warung kopi malam ini. Kopinya sama. Hitam, kental, agak pahit. Tapi obrolannya lain. Bukan soal politik lagi. Bukan pula soal gosip artis yang cerai.

TintaKita menyimak pemaparan dari Wayan Supadno ini, penjelasannya sungguh menarik. Orang-orang sibuk ngomongin telur.

Ya, telur ayam. Benda bulat yang kalau jatuh pecah, tapi kalau diatur pemerintah bisa bikin peta ekonomi nasional bergeser. Bergeser tajam.

Dulu, negeri ini rasanya makin kapitalis. Yang kaya tambah gemuk, yang kecil makin kempis. Tapi tengok beberapa bulan terakhir. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bikin kejutan.

Begitu program ini digarap serius, efek dominonya menjalar ke mana-mana. Masuk sampai ke dapur warga desa.

Ini bukan cuma soal membagi piring makan. Ini soal pusaran uang.

Tapi tunggu dulu. Jangan buru-buru tepuk tangan. Ada cerita pahitnya juga.

Tiap hari ada puluhan juta porsi makanan yang harus siap. Syaratnya wajib: ada buahnya. Nah, di sinilah masalah timbul. Petani kita megap-megap. Pasokan buah lokal ternyata tak sanggup mengejar serapan pasar sebesar itu.

Hasilnya, buah impor melenggang masuk. Anggur, kelengkeng, apel luar negeri merajai piring anak-anak sekolah. Memang ada buah naga atau pisang lokal, tapi anggur impor tetap berkibar. Harganya ngeri. Antara Rp 45.000 sampai Rp 50.000 per kilogram.

Kalau petani luar panen 30 ton per hektar saja setahun, omzet mereka bisa tembus Rp 1 miliar per hektar. Kapital kita terbang ke luar negeri. Devisanya tersedot.

Sungguh ngenes.

Tapi di sinilah ilmu hikmah-nya. Tak perlu meratap. Lahan kita masih membentang luas. Pengangguran juga masih menumpuk di gang-gang kampung.

Permintaan pasar sudah sangat jelas berdiri di depan mata. Saatnya orang kita sendiri yang menikmati gurihnya kue ini.

Cerita telur lebih seru lagi. Konkret sekali. Kemarin waktu anak sekolah libur panjang tiga minggu, program MBG ikut libur. Yang terjadi sungguh jelas: harga telur dan daging ayam mendadak anjlok. Bebas terjun tanpa parasut.

Peternak menjerit. Ada yang sampai demo ke jalan. Kandang-kandang sepi bagai kuburan. Tapi begitu bel sekolah berbunyi lagi, MBG jalan lagi, grafik harga langsung melesat naik.

Senyum peternak kembali mengembang. Telur tembus Rp 24.000 per kilo. Ayam potong menyentuh Rp 40.000. Nafas peternak lega lagi. Tidak rugi lagi.

Pasar semacam ini adalah magnet. Kepastian jangka panjang. Efeknya, orang-orang yang punya modal langsung ramai-ramai investasi ternak ayam. Termasuk Pak Wayan Supadno sendiri. Pengusaha agribisnis kawakan itu tak mau ketinggalan.

Investor lokal memang harus cepat merespons agar bahaya tidak mengintai. Pasokan yang kurang bisa membuat harga meroket, inflasi mengamuk, anggaran MBG jebol, dan ujung-ujungnya… impor lagi. Atau PMA yang masuk mengeruk keuntungan.

Begitu pula dengan beras dan sayur. Buat pihak yang hobi nyinyir dan stunting narasi menolak MBG, fakta lapangan ini agak menyakitkan: harga beras dan sayur justru stabil.

Alasannya jelas, Dapur MBG di daerah-daerah mulai cerdas. Mereka pakai kontrak kerja sama jangka panjang dengan petani lokal.

Petani dipesan sejak awal: “Tanam ini, tanggal sekian kami beli sekian ton.” Ada kepastian. Petani tak lagi cemas dipermainkan tengkulak saat panen raya.

Kepastian pasar inilah yang bikin ekonomi kerakyatan tumbuh dinamis, tersistematis, dan perlahan menekan dominasi pola kapitalis lama.
Anak muda, lapangan kenyataan itu beda dengan ruang kuliah.

Jangan cuma kenyang teori di atas kertas. Pelajari ilmu hikmah di balik angka-angka ini. Gelombang pergeseran ekonomi sedang terjadi tepat di depan mata kita.

Pilihannya cuma satu: jangan cuma jadi penonton yang jualan nyinyiran, tapi ikut mengambil bagian dari peluang emas ini.

Suasana makin seru. Mari seruput kopi lagi.

Salam Entrepreneurship!. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp