Menyulap Bekas Pasar Bawah: Dari Lorong Sepi Jadi Malioboro-nya Kuansing

Oleh: Hendri Chaniago.
Senin: 03:08:2026.

Lihatlah foto itu. Ada bangku besi. Ada paving block hijau. Ada ibu-ibu duduk santai sambil ngobrol. Ini adalah kawasan bekas Pasar Bawah Teluk Kuantan.

Dulu, tempat ini pusat hidupnya kota. Orang lalu lalang. Uang berputar. Bau kopi menyengat bercampur deru derita pedagang yang mengadu nasib. Sekarang sepi. Cuma jadi tempat lewat atau sekadar meluruskan kaki.

Padahal tempat ini bisa menyengat lagi. Bisa jadi Malioboro-nya Kuansing. Bahkan bisa lebih hebat. Sebab Malioboro tak punya Batang Kuantan di sampingnya, sedangkan Pasar Bawah punya.

Apalagi jalan menuju sungai dan lampu-lampu hiasnya pun ternyata sudah ada. Ini modal emas. Dua pekerjaan rumah besar sudah beres. Tugas kita tinggal meniupkan roh ke sana. Menghidupkan alurnya agar jalan menuju sungai itu tak sekadar jadi lorong lewat yang dingin.

Langkah pertamanya adalah mendeduhkan area bekas pasarnya.

Suasananya masih terik dan gersang. Tak ada yang betah berlama-lama kalau kepalanya disengat matahari Teluk Kuantan. Perlu ditanami pohon peneduh yang rindang, dipasang pergola, atau ditaruh pot-pot besar. Orang mau nongkrong kalau tempatnya bikin adem.

Lalu, tengok ruko-ruko tua di belakangnya. Jangan dibiarkan kusam seperti ingatan masa lalu yang terlupakan. Perlu dicat ulang dengan gaya heritage dan diberi sentuhan ornamen Melayu yang elegan.

Malam hari, begitu lampu hias menyala, tempat yang tadinya mati langsung punya magnet dan tampak photogenic.

Berikutnya, sentuh titik yang masih kosong: tepian Batang Kuantan.

Karena di sungai belum ada penataan, di situlah kunci kejutan berikutnya. Pasang pencahayaan tematis di sepanjang bantaran air—bisa berupa pendar warm light di pelataran tepi sungai atau tiang sorot lembut yang mengarah ke riak air.

Buat pelataran pandang yang cantik tepat di pinggir sungai. Warga bisa berjalan santai mengikuti alur lampu hias dari bekas pasar menuju sungai, menghirup angin sore, lalu berdiri di tepi air menikmati sunset dan pendar cahaya malam yang memantul di Batang Kuantan. Itu daya tariknya yang tak dijual di toko mana pun.

Saat malam tiba, kawasan ini justru harus semakin bergairah.

Malam hari adalah panggung sesungguhnya bagi kawasan pedestrian. Hidupkan tradisi malam dan kopi. Gelar zonasi kuliner yang rapi dengan paduan meja outdoor dan lesehan tikar yang bersih di bawah pendar lampu hias.

Biarkan aroma kopi saring dan makanan khas Kuansing menyeruak ke udara. Bawa pula musisi jalanan, anak-anak muda, dan sanggar seni untuk tampil di spot-spot kecil tanpa panggung megah. Cukup karpet, alunan musik, dan suara gemericik sungai yang menemani warga nongkrong hingga larut malam.

Pastikan pula parkir tertata terpisah, sampah tak berserak, dan keamanan terjaga. Jika tempatnya terang, bersih, dan aman, orang tua tak ragu memboyong keluarga mereka menikmati malam.

Pasar Bawah tidak boleh mati dua kali. Dulu dia pusat perdagangan barang, besok dia harus jadi pusat kebahagiaan warga—siang maupun malam.

Jalannya sudah ada, lampunya sudah menyala, dan kini saatnya menyentuh tepian Batang Kuantan agar keindahannya sempurna. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp