Oleh: Hendri Chaniago.
Ahad: 02:08:2026.
Akhirnya, tergelitik juga saya. Ingin menulis soal Joko Widodo. Presiden kita yang ketujuh itu.
Belakangan ini namanya riuh lagi. Di mana-mana.
Belum hilang ingatan kita saat dia melangkah di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung. Naik singgasana. Menjalani prosesi sakral. Lalu menerima gelar Baginda Pemuka Bangsa dari lima kerajaan adat Lampung.
Itu bentuk penghormatan atas pengabdiannya selama sepuluh tahun memimpin Indonesia.
Belum selesai obrolan soal Lampung, mata publik ditarik lagi ke arah Indonesia Timur.
Dia dapat gelar lagi dari kawasan timur. Sebagian orang malah sampai menyebutnya Raja Timur. Media sosial langsung bising. Riuh rendah. Ada yang tepuk tangan, ada yang menaikkan alis, tak sedikit yang geleng-geleng kepala.
Dua gelar adat dalam waktu berturut-turut. Berdekatan sekali.
Fenomena ini jelas menyimpan teka-teki tersendiri. Bukan cuma soal adat atau budi baik masyarakat daerah yang merasa disapa selama sepuluh tahun terakhir. Ini soal ‘udang’ di balik batu. Soal pesan politik yang sedang dikirim ke penjuru negeri. Ada cerita besar di balik panggung Solo ini.
Arahnya makin jelas membentang menuju 2029. Sebuah persiapan karpet merah untuk Pilpres mendatang, sekaligus hembusan nafas segar buat PSI yang sedang cari angin.
Ini adalah bentuk perlawanan yang nyata.
Sebab dulu dia pernah berucap pelan tapi tajam: “Saya akan lawan… Saya akan lawan.”
Pernyataan itu masih bergema dan terngiang jelas di telinga banyak orang. Lantas, Jokowi akan melawan siapa?
Jokowi ini tidak sedang melawan musuh berwujud orang per orang. Dia tidak sedang bertarung fisik di atas ring.
Dia sedang melawan godaan terbesar bagi seorang mantan penguasa: menjadi irrelevant. Menjadi tidak penting. Dikesampingkan dan pelan-pelan dilupakan.
Dalam sejarah politik kita, mantan presiden sering kali diarahkan untuk duduk manis. Pensiun tenang di Solo, menikmati masa tua, menyiram tanaman, atau sekadar momong cucu. Pihak-pihak yang dulu merapat, pelan-pelan mulai menjauh. Magnet politik berpindah ke Istana baru.
Nah, arus itulah yang sedang dia lawan.
Dia melawan narasi yang ingin menguncinya di balik tembok rumah tinggalnya. Dia melawan para elite politik lama yang mengira pengaruhnya sudah habis begitu masa jabatan usai.
Dia juga sedang melawan skenario yang ingin mengecilkan mesin politik barunya. PSI butuh figur pemikat. Butuh jangkar besar agar tidak sekadar jadi penonton di 2029. Tanpa manuver, partai itu bisa tenggelam sebelum berkembang.
Gelar demi gelar adat dari Lampung hingga Timor itu adalah tameng sekaligus pedangnya. Setiap mahkota adat yang disematkan adalah sinyal tegas kepada siapa saja yang mencoba menghapus jejaknya.
Bahwa akar tunggangnya di masyarakat bawah masih mencengkeram sangat kuat. Bahwa rakyat di daerah-daerah tidak lupa pada siapa yang pernah membangun jalan, jembatan, dan pelabuhan di kampung mereka.
Ini perlawanan terhadap sunyinya panggung pasca-kekuasaan.
Gelar-gelar adat ini menegaskan satu hal: walau tak lagi berkantor di Istana Negara, dia belum selesai. Pengaruhnya tidak runtuh begitu saja.
Jokowi sedang merajut barisan baru. Membuktikan kepada siapa pun yang pernah meremehkannya, bahwa catur politik Indonesia masih harus memperhitungkan tiap langkah kaki sang Raja Timur ini.
Politik kita memang selalu begitu. Penuh teka-teki dan simbol. Yang terlihat di panggung depan cuma senyum dan jabat tangan, tapi di panggung belakang, strategi sedang dirajut rapi.
Sambil seruput kopi item hangat malam ini, tinggal menunggu waktu sampai arah angin itu benar-benar menyingkap semuanya. (***)





