Pj Sekda Baru dan Badai di Kuansing

Oleh: Hendri Chaniago.
Kamis: 30:07:2026.

Hari ini, resmi. Drs Muradi menanggalkan status “pelaksana harian”. Naik kelas. Dilantik langsung oleh Plt Bupati Kuansing, H Mukhlisin, sebagai Penjabat (Pj) Sekda Kuansing.

Selamat untuk Pak Muradi. Tepuk tangan riuh bergema di ruangan. Foto bersama dipajang di mana-mana.

Namun, perayaan ini tak boleh membuat terlena. Kursi Sekda itu bukan sofa empuk di ruang AC. Itu kursi panas. Paling panas di seantero Pemkab Kuansing saat ini.

Tugas di depan mata bukan sekadar meneken berkas atau memimpin rapat yang bikin mengantuk.

Situasinya sedang tidak baik-baik saja. Psikologis ASN di lingkungan Pemda Kuansing sedang berada di titik terendah. Suasananya dicekam rasa cemas. Mereka bekerja dalam ketakutan.

Atmosfer ini makin meledak pasca-OTT Bupati nonaktif Suhardiman Amby. Gelombang kejutnya belum berhenti. Hampir seluruh kepala dinas dalam pekan ini dipanggil KPK. Bergiliran masuk ruang pemeriksaan. Semua diutak-atik terkait kasus dugaan jual beli jabatan yang menyeret mantan Sekda Zulkarnaen.

Kantor bupati yang biasanya ramai kini mendadak dingin. Senyum di koridor terasa hambar. Bisik-bisik ketakutan terdengar di tiap sudut ruangan. Siapa yang besok dipanggil? Siapa lagi yang menyusul?

Di tengah badai dan traumanya para birokrat inilah Muradi dilantik. Menjadi Sekda Kuansing saat ini mirip jadi kapten kapal di tengah lautan yang sedang dihantam badai besar. Ujian utamanya bukan cuma menyatukan faksi-faksi yang terpecah, melainkan memulihkan keberanian dan kepercayaan diri para ASN yang sedang limbung.

Soal faksi-faksi internal, itu sudah jadi rahasia umum di warung-warung kopi Teluk Kuantan. Ada kubu A, ada kubu B. Masing-masing dulu merasa paling dekat dengan pusat kekuasaan dan merasa paling dominan. Kini, ketika badai hukum menerjang, serakan kepingan itu makin terasa liar.
Di sinilah ujian hidup yang sesungguhnya untuk Muradi.

Tugas besarnya adalah merangkul semua kepingan yang berserakan itu. Menghapus aura ketakutan, lalu menyatukan mereka dalam satu irama. Satu komando. Titik. Tanpa tawar-menawar.

Pemerintah daerah adalah sarana pengabdian, bukan panggung penderitaan atau panggung teater intrik. ASN harus dibimbing untuk kembali fokus bekerja dengan benar, jujur, dan tenang, tanpa harus dibayangi ketakutan salah langkah akibat gesekan masa lalu.

Masyarakat Kuansing sangat sederhana. Mereka paham dinamika hukum yang sedang berjalan, namun roda hidup tak boleh berhenti. Mereka tidak peduli dengan drama di lantai dua kantor bupati atau sapaan penyidik di kantor polisi.

Yang diinginkan rakyat sangat jelas: urusan administrasi beres, jalanan mulus, pelayanan publik lancar, dan ASN melayani masyarakat dengan rasa aman—bukan dengan wajah pucat karena cemas. Tantangannya memang sangat berat, Pak Sekda. Namun, seluruh warga sudah menaruh harapan besar di pundak Anda untuk memulihkan birokrasi ini.

Saatnya beliau membuktikan: di tangannya, birokrasi Kuansing bukan lagi tempat orang berebut pengaruh atau berselimut ketakutan, melainkan mesin kerja yang kembali tegak dan bergerak cepat melayani rakyat.

Kopi sudah dihidangkan. Waktunya bekerja, menata ulang rumah yang sedang terguncang. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp