Pria Tanpa HP yang Membangun Kota

Oleh: Hendri Chaniago
Selasa, 25:08:2026

Pagi itu, pertengahan tahun 2006-an. Di kawasan Bintan Centre, Batu 9. Saya duduk di kantornya. Saya diundangnya untuk wawancara. Bertatap muka langsung dengan owner CV Sinar Bahagia, Suyono—atau yang lebih akrab disapa Pak Yono.

Waktu itu, zaman sudah mulai canggih. Orang-orang sibuk pamer ponsel. Pegang HP di mana-mana. Biar kelihatan seperti pengusaha sibuk.

Tapi Pak Yono beda. Beliau tidak punya HP. Sama sekali.

Awalnya saya merasa heran. Maklum, saya wartawan. Otak saya sempat bingung melihat bos properti raksasa di Tanjungpinang tapi seolah buta ponsel. Beliau cuma tersenyum. Santai. Low profile. Khas gaya orang Dabo Singkep.

Ponsel itu bikin pusing, janji ditetapi, kerjaan beres, orang pasti cari kita—kira-kira begitu filosofinya.

Waktu itu saya belum sepenuhnya paham. Baru belakangan hari, mata saya benar-benar terbuka.

Sebagai seorang pengusaha keturunan Tionghoa, Pak Yono tampaknya secara intuitif mengejawantahkan prinsip lama yang terpatri kuat dalam tradisi leluhurnya: menjaga integritas, memegang teguh janji, dan merawat kepercayaan.

Bagi pengusaha klasik, kata-kata yang terucap adalah janji mati. Kepercayaan adalah mata uang tertinggi. Jika janji ditetapi dan hasil kerja terbukti, reputasi akan bergaung tanpa perlu teriakan nada dering telepon.

Pak Yono memang selalu merendah. Beliau sering mengaku bukan orang hebat, tidak punya gelar tinggi, dan tidak paham urusan teknis yang rumit. Tapi beliau punya satu keahlian kelas atas: merekrut dan memelihara orang-orang hebat.

Di sini pulalah cermin filosofi kuno, tentang seni memimpin tanpa memaksakan kehendak secara berlebihan, terlihat sangat nyata. Memimpin bukan berarti harus ikut campur di setiap urusan kecil, melainkan membiarkan segala hal berjalan sesuai porsinya melalui sistem yang tepat.

Di sekelilingnya, berderet profesional tangguh. Para insinyur, arsitek, ahli hukum, hingga manajemen keuangan. Bahkan bagian penerima telepon di kantornya pun diisi oleh staf yang luar biasa sigap, paham detail urusan, dan sangat komunikatif.

Di situlah saya akhirnya sadar alasan beliau tidak perlu memegang HP. Bukan karena beliau tidak mampu beli gadget terbaru. Beliau tidak perlu sibuk memegang ponsel dan menjawab deringan tiap menit karena sudah berhasil membangun sistem dan tim yang sebegitu tangguhnya.

Semua informasi sudah tersaring rapi. Semua urusan operasional sudah ditangani oleh orang-orang hebat pilihannya. Beliau tinggal fokus pada hal paling krusial: mengambil keputusan strategis dan menjaga visi besar.

Saya melamun sejenak. Di saat orang lain diperbudak nada dering, Pak Yono justru mengendalikan bisnis miliaran rupiah dengan kepala dingin. Padahal, beliau berangkat benar-benar dari nol. Dari debu proyek.

Awal mulanya, beliau menekuni dunia kontraktor kecil-kecilan. Menerima borongan pengerjaan fisik, membangun satu-dua unit rumah milik orang lain, hingga menggarap proyek infrastruktur dasar.

Ototnya ditempa di lapangan. Matanya terbiasa melihat hitungan semen, pasir, dan luas tanah.
Dari situ, insting bisnisnya mengasah tajam. Beliau sadar, kalau cuma jadi kontraktor, beliau hanya membangunkan mimpi orang lain dan ada baiknya mulai membangun mimpinya sendiri.

Dengan modal nekat, tabungan dari keringat borongan, serta kepercayaan dari pemilik tanah dan mitra yang dipegangnya erat-erat, beliau memberanikan diri naik kelas. Beliau membeli lahan, mematangkannya sendiri, lalu memberanikan diri menjadi pengembang (developer). CV Sinar Bahagia pun lahir.

Sambil menyruput kopi, beliau membocorkan satu impian besarnya di masa-masa awal itu. Cita-cita yang saat itu terdengar agak gila untuk ukuran kota Tanjungpinang yang masih sepi.

Beliau ingin Bintan Centre nanti menjadi seperti Singapura kecil. Ujarnya polos, tapi mantap.
Singapura kecil. Di tanah Batu 9 yang dulu masih banyak semak dan batu merah itu, beliau sudah melihat masa depan. Beliau membayangkan ruko-ruko tertata rapi, pusat ekonomi yang hidup, dan denyut bisnis yang tak pernah tidur.

Anak Dabo Singkep ini tidak cuma ingin jualan rumah. Beliau ingin membangun peradaban kota. Ia datang merantau bukan membawa modal gunung. Ia cuma membawa street smart, otot keras, dan kejujuran dari zaman memborong dulu.

Di era otda Kepri sedang hangat-hangatnya, Pak Yono tidak sibuk cari panggung. Beliau sibuk tancap fondasi untuk ‘Singapura kecil’-nya itu.

Kini, lihatlah jejak tangannya di Kepri. Dari kontraktor kecil yang memegang cangkul dan meteran, Pak Yono lewat bendera Sinar Bahagia Group telah menyulap ratusan hektar semak belukar menjadi puluhan ribu unit hunian yang tersebar di belasan kawasan perumahan dan kompleks pertokoan skala besar.

Bintan Centre bukan lagi mimpi, tapi pusat megaproyek komersial lengkap dengan ribuan ruko dan terminal. Belum lagi kawasan raksasa seperti Perumahan Alam Tirta Lestari (ATL) di Ganet, Bintan Permai, Sinar Bodhi Cipta, hingga ekspansi proyeknya ke Batam dan tanah kelahirannya di Lingga.

Beliau tidak sekadar jualan rumah, beliau membangun township, mencetak kota baru.

Sering kita berpikir, untuk sukses besar itu kita harus menguasai segala hal sendirian. Pak Yono menampar logika itu tanpa bersuara keras. Sebagaimana ajaran strategi klasik, seorang pimpinan tertinggi tak perlu memegang pedang di garis depan; tugas utamanya adalah mengatur strategi, menempatkan orang-orang terbaik di posisi tepat, dan membaca arah masa depan.

Beliau membuktikan bahwa seseorang tidak perlu menjadi orang paling pintar di dalam ruangan, cukup jadi pemimpin yang jujur, punya visi jernih, dan tahu cara menempatkan orang-orang hebat di posisi yang tepat.

Tengok saja Bintan Centre hari ini. Ramai. Hidup. Jadi salah satu pusat gravitasi ekonomi Tanjungpinang. Mimpinya tentang Singapura kecil itu tidak lagi sekadar obrolan di atas kertas.

Kalau saya lewat Batu 9, saya sering tersenyum sendiri. Mengingat obrolan pagi itu. Obrolan tanpa gangguan bunyi pesan masuk, tapi penuh dengan cetak biru masa depan dari seorang pimpinan yang tahu persis cara mengorkestrasi timnya.

Suyono—sosok pengusaha Tionghoa yang merendah mengaku bukan orang hebat, tidak memegang HP, tapi berhasil menggerakkan ratusan orang hebat untuk menyulap semak belukar menjadi ‘Singapura kecil’. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp