Oleh: Hendri Chaniago.
Kamis: 16/7/2026.
Ruang rapat itu ber-AC dingin. Tapi siang itu, suasananya jauh lebih panas dari kuah asam pedas patin khas Pekanbaru. Kursi-kursi empuk berguncang. Meja-meja kayu jati yang kokoh mendadak minder dan kehilangan wibawanya.
DPRD Riau gempar.
Bukan karena ada interupsi cerdas soal anggaran rakyat. Bukan pula karena perdebatan sengit tentang nasib petani sawit.
Ini soal harga diri yang mendadak setipis kulit bawang. Soal ego yang menyenggol batas sabar. Dua tokoh penting yang bertengkar. Bukan orang sembarangan. Keduanya adalah kader terbaik Partai Golkar Riau. Satu namanya Parisman Ihwan, Wakil Ketua DPRD Riau. Satu lagi Indra Gunawan Eet, Ketua Komisi V.
Sama-sama beken. Sama-sama punya gerbong massa yang kalau berbaris mungkin sepanjang antrean bansos.
Kejadiannya Kamis siang tadi. Saat rapat Badan Anggaran (Banggar) sedang manis-manis jambu membahas angka-angka. Sejak pagi, hawa tak enak sudah tercium. Ada argumen yang terlalu tajam. Ada nada suara yang naik satu oktav, mirip penyanyi rock kurang minum air putih. Lalu, meledak.
Hampir saja ada adegan baku hantam sebelum tengah hari. Beruntung, teman-teman sesama anggota dewan cekatan memegang tangan mereka—mungkin sambil membisikkan istighfar. Nafas ditarik dalam-dalam. Dingin dicoba dimasukkan ke kepala. Eet pun memilih keluar ruangan dan rapat kembali dilanjutkan dengan sisa-sisa ketegangan.
Kita kira drama sudah selesai. Kita kira mereka sudah saling bermaafan menjelang makan siang. Ternyata tidak. Itu baru babak pertama.
Pukul 14.40 WIB, ketukan palu tanda rapat selesai akhirnya berbunyi. Orang-orang mulai merapikan berkas. Bersiap pulang dengan bayangan kasur empuk di rumah. Saat itulah Eet melangkah masuk kembali ke ruangan rapat medium. Dia mencari Parisman.
Mata bertemu mata. Saraf kembali tegang. Musik latar film aksi barat mendadak seperti terngiang.
Entah kalimat apa yang jadi pemantiknya, api langsung menyambar bensin. Dua politisi senior itu kembali berhadapan. Jarak mereka begitu dekat. Begitu intim untuk sebuah permusuhan yang menyala-nyala.
Di luar pintu, keadaan bergerak liar. Pendukung kedua belah pihak rupanya sudah berkumpul seperti suporter sepak bola. Mereka merangsek masuk. Dari ruangan medium, gesekan itu tumpah hingga ke lobi gedung rakyat yang megah itu.
Kalau bosnya sudah tegang, anak buah biasanya lebih cepat mendidih. Hukum alamnya dari zaman batu memang selalu begitu.
Suasana berubah menjadi chaos total. Ada teriakan makian. Ada yang melayangkan bogem mentah. Barang-barang di sekitar lokasi—entah botol air mineral atau berkas dinas—mulai melayang menjadi benda terbang tak dikenal di udara.
Petugas keamanan dewan yang bertubuh kekar pun mendadak terlihat seperti butiran debu di tengah amukan massa yang saling dorong. Satu orang tumbang. Terjatuh ke lantai marmer setelah menerima pukulan telak yang tampaknya kurang pas disaksikan anak-anak.
Sungguh pemandangan yang menyedihkan untuk sebuah tempat yang kita sebut “Gedung Terhormat”.
Berita ini menyebar secepat kilat ke seantero Riau. Lewat grup WhatsApp keluarga sampai grup alumni SD. Semua orang geleng-geleng kepala. Di warung-warung kopi, kejadian ini jadi bahan gurauan yang renyah tapi pahit.
Tapi ada satu orang yang melihat kejadian ini dengan kacamata peluang yang sangat kreatif. Namanya Doan Samuel Nababan. Jabatan resminya keren: Ketua Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Riau. Begitu mendengar kabar dua petinggi dewan itu nyaris adu jotos, Doan bukannya cemas, malah tersenyum lebar.
Bukannya memberikan kecaman formal, Doan malah menawarkan solusi yang luar biasa konkret sekaligus mengocok perut.
“Saya tidak tahu masalahnya apa, tapi daripada ribut seperti itu, kami Pertina Riau siap memberikan fasilitas bagi keduanya untuk berduel di ring tinju,” ujar Doan berkelakar.
Doan serius dengan kelakarnya ini. Dia berpromosi kalau fasilitas Pertina itu sangat lengkap. Mau tanding pagi setelah sarapan lontong, siang bolong, atau malam hari, ring siap dipasang. Wasitnya pun dijamin berlisensi resmi, bukan wasit bayaran. Aman, legal, dan yang paling penting: tidak usah takut dilaporkan ke polisi karena pasalnya sportif.
Sebuah sindiran yang sangat telak, telak sekali. Dipikir-pikir benar juga. Lebih terhormat bertarung di atas ring tinju pakai sarung tangan empuk daripada merusak estetika gedung rakyat dengan aksi keroyokan ala tawuran anak STM. Di atas ring, kalau menang dapat medali. Kalau kalah, tinggal jabat tangan lalu pelukan. Tidak ada dendam yang dibawa sampai ke warung makan.
Hingga malam ini, suasana di DPRD Riau memang sudah adem. Tapi keheningan itu terasa gantung, mirip hubungan yang diputus tanpa penjelasan. Belum ada suara resmi dari sekretariat dewan. Dua tokoh yang bertikai pun tampaknya masih sibuk meredam sisa-sisa emosinya.
Kita paham, politik itu memang keras. Kadang kepala bisa sepanas mesin mobil tua yang lupa diisi air radiator.
Tapi publik Riau hari ini menonton dengan rasa dongkol sekaligus geli. Dongkol karena wakil mereka bertingkah mirip anak kecil berebut mainan. Geli karena tawaran dari Pertina itu adalah sebuah tamparan komedi yang sangat elegan.
Kini sarung tinjunya sudah dianginkan oleh Bung Doan. Tinggal memilih untuk naik ke atas ring secara jantan dengan celana pendek, atau kembali duduk manis memegang cangkir kopi sambil bicara baik-baik. Lagipula, kopi di warung sebelah masih jauh lebih nikmat daripada pukulan tangan mentah. (***)





