Oleh: Hendri Chaniago.
Saya sedang asyik bercerita. Menggebu-gebu. Tentang politik, tentang harga barang yang naik, tentang apa saja.
Teman di depan saya diam. Matanya melotot. Ke layar HP. Saya panggil namanya. Dia tidak menoleh. Dia hanya senyum-senyum sendiri. Kadang mengernyit. Tegang sekali.
Saya intip layarnya. Oh. Ternyata dia sedang menonton drama pendek asal China. Istilah kerennya: drachin mikro.
Satu episode cuma dua menit. Tapi jumlahnya bisa 100 episode.
Fenomena ini gila. Di mana-mana orang kecanduan.
Ada pria bernama Icuk. Di Banyumas. Dia pemandu wisata. Di komunitas sesama pencinta drachin, Icuk punya julukan mentereng: Raja Utara.
Anggota lain juga punya nama fiktif. Ada yang dipanggil Tabib Sakti. Mirip karakter di film. Konyol? Memang. Tapi mereka bahagia.
Icuk awalnya cuma iseng. Lihat cuplikan di medsos. Lalu mencoba nonton sebelum tidur. Sembari merokok dan minum kopi. Untuk melepas penat setelah seharian bekerja.
Sekarang? Dia kecanduan. Tiap malam harus tamat satu judul. Kuat begadang sampai dini hari. Demi menuntaskan rasa penasaran.
Kalau malam, Icuk susah dihubungi. “Raja Utara lagi nonton drachin,” katanya lalu tertawa.
Hebatnya, hobi ini menghasilkan uang. Nonton lewat aplikasi tertentu bisa dapat Rp300, Rp500, sampai Rp1.000. Lumayan untuk beli korek api.
Ada lagi cerita Catur. Dia driver ojol di Tangerang Selatan. Gara-gara drachin, Catur sering kesiangan tarik penumpang. Lupa waktu.
Nanti, saat mangkal menunggu orderan, dia nonton lagi. Di sana dia bertemu sesama ojol yang ternyata juga nonton drachin. Mereka lalu saling rekomendasi judul.
“Padahal ceritanya sama saja,” kata Catur terbahak. “CEO menyamar jadi orang miskin, drama kerajaan, atau menantu yang dizalimi mertua. Muter-muter di situ. Tapi kok ya seru!”
Itulah magisnya. Rumusnya klise, tapi penontonnya jutaan.
Di China, ini industri besar. Nilainya Rp94 triliun pada 2023. Tahun depan bisa tembus Rp251 triliun.
Studio-studio kecil di sana berebut bikin drama vertikal ini. Biayanya murah. Sekitar Rp2,5 miliar per seri. Syutingnya cuma 8 sampai 10 hari. Pemainnya sengaja pakai aktor baru yang murah.
Dulu, Amerika pernah bikin konsep serupa lewat Quibi. Modalnya triliunan rupiah, aktornya bintang Hollywood papan atas. Hasilnya? Bangkrut. Gulung tikar.
China lebih cerdik. Mereka tahu penonton tidak butuh nama besar. Penonton butuh emosi instan.
Pasar terbesarnya justru Amerika Serikat. Hampir 50 persen pendapatan dunia ada di sana. Baru disusul Asia Tenggara.
Korea Selatan pun mulai panik dan ikut-ikutan. Platform seperti Vigloo mulai memproduksi drama mikro.
Sutradara Korea, Kang Mi-so, membeberkan rahasianya. Drama mikro itu bersaing dengan jempol netizen yang hobi scrolling. Jadi, 5 sampai 10 episode pertama harus gratis dan bikin syok.
“Makanya di serial saya, minimal ada 10 adegan orang ditampar mukanya,” kata Kang Mi-so.
Emosi harus diaduk cepat. Plak! Plak! Penonton kesal, penasaran, lalu terpaksa bayar untuk kelanjutan episodenya.
Di Indonesia, demam ini ditangkap cerdas oleh Vision+. Rick Masran bercerita, rumah produksinya kini memproduksi drama mikro versi lokal. Sebulan bisa 12 sampai 15 judul.
Kenapa? Karena penonton Indonesia ternyata lebih suka versi lokal daripada versi Mandarin asli.
Komunitasnya pun makin hidup. Kelompoknya Icuk di Banyumas bahkan membuat acara buka puasa bersama saat Ramadan lalu.
Menonton bareng sembari menghidupkan UMKM sekitar. Di medsos, emak-emak sibuk berbagi jadwal kedatangan artis drachin atau sekadar bergosip.
Kini, teknologi AI mulai masuk. Drama mikro mulai diproduksi pakai kecerdasan buatan untuk menghemat biaya. Hasilnya kadang masih agak janggal dan kaku.
Tapi penonton tidak peduli. Ceruk pasarnya tetap gemuk. Sebab hidup ini sudah terlalu melelahkan. Orang tidak butuh tontonan yang mikir berat atau bersyarat rumit.
Mereka hanya butuh pelarian murah dua menitan. Untuk melupakan cicilan, menunda penat, atau sekadar menjadi “Raja Utara” di kamar sewaan mereka yang sempit.
Jadi, kalau malam ini teman Anda mendadak hilang kontak, jangan dituduh yang-yang. Dia mungkin lagi sibuk menyelamatkan kerajaan di balik layar ponselnya. (***)





