Satu Perahu Menyapa Dunia

Oleh; Hendri Chaniago.
Sabtu: 25:07:2026.

Dua turis Korea itu nekat.
Mereka naik ke atas jalur. Mengambil pendayung. Lalu ikut berdayung.

Kejadiannya baru kemarin. Di Tepian Datuk Bandaro. Kecamatan Gunung Toar. Bayangkan. Orang Korea. Kulit putih, biasa makan kimchi, tiba-tiba duduk di atas kayu panjang. Kena cipratan air Sungai Kuantan. Kaosnya basah kuyup. Mukanya merah padam menahan beratnya kayuhan.

Tapi matanya cerah. Tertawa lebar.
Mereka tidak cuma menonton. Mereka ingin merasakan sensasinya. Ingin tahu bagaimana rasanya jadi anak jalur. Bagaimana rasanya dada mau pecah saat melintasi pancang pemisah. Bagi saya, ini luar biasa.

Ini bukan lagi soal tontonan. Ini sudah soal experience*. Wisata pengalaman. Dan di situlah daya magis Pacu Jalur yang sebenarnya. Orang luar bukan cuma mau foto-foto. Mereka mau ikut berkeringat.

Makanya, orang Kuansing harus makin terbuka. Jangan alergi kalau ada asing yang mendekat. Tradisi itu, kalau mau besar, jalannya memang harus menyapa dunia.

Kalau cuma disimpan di kandang sendiri, ya begitu-begitu saja. Hebohnya cuma di kita. Momentum Gunung Toar ini harus ditangkap panitia. Jangan cuma berhenti di rasa heran atau bangga sesaat.

Ke depan, buatkan agenda khusus. Rancang Pacu Eksebisi Antarnegara.

Ini eksebisi. Bedakan dengan pacu tradisional yang utama.

Pacu tradisional tetap jadi ‘menu utama’. Tetap sakral. Tetap jadi ajang adu gengsi antar-desa dan antar-kecamatan. Marwah lokalnya tidak boleh hilang sedikit pun.

Tapi, sediakan satu sesi khusus. Jalur Eksebisi.

Undang negara-negara tetangga. Undang tim dari Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan Korea sekalian. Suruh mereka bawa tim, atau biarkan mereka menjajal jalur yang sudah kita siapkan.

Bayangkan serunya. Di pinggir sungai, warga Kuansing bersorak. Di atas air, orang Korea adu cepat lawan orang Thailand naik jalur. Lucu, tapi liputan medianya bakal terbang ke mana-mana.

Tradisi yang hebat itu bukan tradisi yang dikurung rapat-rapat karena takut rusak. Tradisi yang hebat itu seperti air Sungai Kuantan. Terus mengalir, menembus batas, tapi tidak pernah kehilangan induknya.

Kemarin Gunung Toar sudah memberi contoh. Dua turis Korea sudah memulainya.

Sekarang tinggal kita. Pilihannya cuma satu: berani mengajak dunia duduk satu perahu.

Mari kita selesaikan diskusi ini sambil menyeruput kopi hangat. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp