
Oleh: Hendri Chaniago.
Jumat siang kemarin (26/6/2026). Kuala Lumpur riuh. Di lantai bursa, para pialang mendadak tegak. Jari-jari mereka menari lebih cepat di atas papan ketik. Ada setruman dari Jakarta.
Pemerintah Indonesia ketok palu. Tegas. Tanpa ragu. Program mandatori biodiesel B50 jalan terus. Sesuai jadwal: 1 Juli.
Kabar itu seperti siraman air segar di tengah cuaca bursa yang lagi gerah. Efeknya instan. Kontrak acuan minyak sawit mentah (CPO) untuk pengiriman September langsung melonjak. Naik 40 ringgit. Atau sekitar 0,88 persen.
Angkanya nangkring di 4.597 ringgit per metrik ton. Setara USD 1.121,77. Lumayan. Ada senyum tipis di wajah para spekulan.
Padahal, kalau mau jujur, pekan ini sebetulnya agak kelabu bagi CPO. Secara akumulatif, harganya masih tekor 1,05 persen. Tapi ya itulah pasar. Selalu butuh alasan untuk kembali bergairah. Dan Indonesia baru saja memberikan alasan yang sangat seksi.
Anilkumar Bagani, Kepala Riset Sunvin Group yang markasnya di Mumbai, langsung menganalisis. Lewat catatan rutinnya, dia menyebut kepastian dari Jakarta inilah magnet utamanya. Ditambah lagi, data ekspor Malaysia sepanjang Juni ini memang lagi gagah-gagahnya.
AmSpec Agri Malaysia melaporkan ekspor melonjak 11,1 persen. Lembaga survei Intertek Testing Services (ITS) juga senada: naik 10,6 persen. Pasar jelas riang kalau barang dagangannya laku keras.
Apalagi, Kamis malamnya, harga minyak kedelai di Bursa Chicago juga sempat genit, ikutan naik. Di Bursa Dalian, China, minyak sawit juga ikutan melompat 1,22 persen.
Di dunia minyak nabati, mereka ini seperti saudara sepupu. Kalau yang satu dandan cantik, yang lain biasanya ikut ketularan wangi. Mereka berkompetisi, tapi nasibnya sering kali seiring sejalan.
Kementerian ESDM di Jakarta rupanya tahu cara main yang cantik. Mereka paham, mengubah kebijakan tidak bisa seperti membalik telapak tangan. Pengusaha butuh napas. Peritel butuh waktu.
Maka, dibuatlah masa transisi tiga bulan. Peritel diberi kelonggaran sampai September untuk menghabiskan stok biodiesel lama yang komposisinya masih di bawah B50. Ini bijak. Tidak bikin panik.
Tapi pesan utamanya sampai: setelah itu, CPO lokal bakal tersedot hebat untuk kebutuhan perut mesin di dalam negeri. Pasokan global otomatis mengetat. Hukum ekonomi tua berlaku: barang berkurang, harga melambung.
Namun, bandul pasar selalu punya dua sisi. Pesta pora hari Jumat itu sedikit tertahan. Di sudut lain, ada si “abang tertua” yang lagi merengut: minyak mentah dunia. Harganya anjlok sampai 2 persen di hari yang sama. Tekor banyak dalam sepekan.
Ketegangan di Selat Hormuz mulai adem. Kapal-kapal tanker yang kemarin sempat mandek, sekarang sudah bisa melenggang keluar. Memang ada kabar kapal kargo sempat kena hantam di dekat Oman hari Kamisnya. Tapi pasar menilai, pasokan minyak bumi aman-aman saja.
Ketika harga minyak bumi jatuh, sawit ketiban apesnya. Selisih keekonomiannya jadi makin tipis. Produsen akan menghitung ulang ongkos pembuatan biodiesel dari sawit karena minyak fosil konvensional ternyata lagi murah. Ini yang mengerem laju kenaikan CPO Jumat kemarin.
Analis teknikal dari Reuters, Wang Tao, punya teropong sendiri soal arah harga ke depan. Menurut hitung-hitungannya, CPO masih punya nyali untuk menguji lagi level tertingginya yang sempat disentuh 23 Juni lalu—di kisaran 4.710 ringgit.
Tapi, kalau ternyata yang jualan lebih banyak daripada yang beli, harga siap-siap melorot ke level support 4.542 ringgit.
Pasar CPO memang mirip dinamika di warung kopi. Penuh gosip, penuh kalkulasi, kadang penuh kejutan. Hari ini untung, besok belum tentu. Yang pasti, per 1 Juli nanti, mesin-mesin di Indonesia akan mulai meneguk solar yang lebih banyak “darah” sawitnya. (***)





