Ditulis Oleh: Hendri Chaniago.
Senin: 20:07:2027.
Ini tentang bocah yang baru saja mengguncang dunia. Kemarin dini hari. Di Stadion MetLife, New Jersey.
Lamine Yamal namanya. Masih remaja. Tapi di tangannya, trofi Piala Dunia 2026 itu kini sah milik Spanyol. Argentina—sang juara bertahan—harus menangis. Skornya tipis: 1-0. Lewat drama perpanjangan waktu.
Yang cetak gol bukan Lamine. Bukan pula Nico Williams. Tapi Ferran Torres di menit ke-106. Berawal dari umpan silang Pedro Porro ke tiang jauh, bola ditanduk Nico Williams ke tengah kotak penalti sebelum disambar kaki kiri Ferran. Persis seperti momen Andres Iniesta di Afrika Selatan tahun 2010 dulu. Sebuah pengulangan sejarah yang sempurna.
Tapi, mata dunia tetap tertuju pada bocah ini. Lamine Yamal.
Bayangkan. Umurnya belum genap 20 tahun. Di usia begitu, sebagian besar dari kita mungkin masih bingung memilih jurusan kuliah. Atau masih pusing memikirkan cicilan motor. Lamine sudah memegang trofi Euro 2024, mengawinkannya dengan Piala Dunia 2026, dan punya klausul rilis kontrak senilai satu miliar euro.
Satu miliar euro. Kalau dikonversi ke rupiah, kalkulator handphone kita akan langsung macet karena digitnya terlalu panjang.
Tapi jangan lihat mewahnya sekarang. Mari kita mundur ke belakang. Ke sebuah foto yang beberapa waktu lalu viral.
Tahun 2007. Ada bayi mungil dimandikan oleh pemuda gondrong berusia 20 tahun. Sesi foto amal UNICEF. Bayi itu Lamine. Pemuda gondrong itu adalah Lionel Messi.
Takdir kadang suka bercanda. Kemarin dini hari, sang bayi bertarung langsung melawan sang “pembaptis” di final Piala Dunia. Messi yang sudah sangat senior harus rela melihat tongkat estafet kebesaran itu direbut oleh si bayi.
Lamine bukan anak orang kaya. Ayahnya imigran Maroko. Ibunya dari Guinea Ekuatorial. Mereka cerai saat Lamine masih balita. Ibunya bahkan sempat kerja di restoran cepat saji. Lamine tumbuh besar di Rocafonda. Itu lingkungan pekerja keras di Catalonia. Miskin dan keras.
Di sanalah bakatnya lahir. Bukan di lapangan rumput akademi yang wangi, melainkan di lapangan beton. Lapangan semen yang kalau kaki tergelincir, dengkul langsung robek.
Di lapangan semen itu tidak ada wasit. Tidak ada pula istilah pelanggaran. Lamine kecil dipaksa belajar meliuk, melompat, dan berpikir secepat kilat agar tidak dihantam anak-anak yang badannya dua kali lipat lebih besar. Itulah mengapa gocekannya sekarang begitu lincah. Seperti belut. Licin sekali.
Makanya, setiap kali cetak gol, jarinya selalu membentuk angka 304. Itu kode pos Rocafonda. Dia ingin menegaskan bahwa dia anak gang miskin, dan dia bangga akan hal itu.
Lalu pencari bakat Barcelona datang. Lamine diangkut ke La Masia pada usia 7 tahun. Setelah itu, sejarah ditulis dengan tinta emas. Dia memecahkan rekor debut termuda. Dia meraih Kopa Trophy dua tahun berturut-turut—2024 dan 2025. Sesuatu yang bahkan Messi pun tidak pernah lakukan di usia segitu.
Kini gajinya di Barcelona mencapai 16,6 juta euro per tahun. Hampir 300 miliar rupiah. Klub kaya seperti PSG sempat frustrasi hingga menyodorkan cek kosong senilai 250 juta euro untuk membelinya. Rekor dunia. Tapi Barcelona bilang tidak. Lamine juga bilang tidak. Dia hanya ingin jadi legenda di Camp Nou.
Hebatnya, di luar lapangan, dia tetaplah bocah kemarin sore. Waktu Euro 2024 lalu, dia sempat kedapatan membawa PR sekolah ke hotel. Dia takut dimarahi gurunya kalau tidak mengerjakan tugas daring.
Dini hari tadi, dunia melihat air mata kebahagiaan Spanyol, sekaligus air mata perpisahan dari Lionel Messi yang tampaknya mustahil tampil lagi di Piala Dunia 2030 nanti.
Spanyol menang mutlak secara statistik, melepaskan 20 tembakan sementara lini serang Argentina dibuat frustrasi tanpa satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang 90 menit waktu normal. Rekor mereka kian sahih, menjadi tim pertama yang juara dunia dengan hanya kebobolan 1 gol sepanjang turnamen.
Zaman sudah berubah. Era baru telah datang. Dipimpin oleh anak jalanan dari Rocafonda yang dulu dimandikan Messi di dalam bak plastik.
Begitulah hidup. Kadang-kadang, takdir memang menulis skenario yang jauh lebih indah daripada novel fiksi terbaik sekalipun. (***)





