Telepon Terakhir Purbaya

Oleh: Hendri Chaniago.
Senin : 14:09:2026.

Senin pagi, 14 September 2026. Jam baru menunjuk angka 10 pagi. Di gedung DPD-DPR RI, Purbaya Yudhi Sadewa masih sibuk luar biasa. Beliau memimpin rapat gabungan. Senyumnya masih mengembang. Bicaranya lugas seperti biasa.
Ia bekerja. Sungguh-sungguh bekerja.

Bahkan sampai jam 3 sore, rapat marathon itu baru rampung. Purbaya sempat disapa wartawan. Tersenyum. Menjawab santai. Tidak ada gesture orang panic. Tidak ada raut muka menteri yang sedang di ujung tanduk.

Lalu, momen itu datang.

Tepat sebelum melangkah keluar gedung DPD, ponsel di saku Purbaya berdering. Ia merogohnya. Melihat layar. Mengangkatnya dengan takzim.

“Halo, Pak. Iya, siap-siap. Saya masih di DPD, Pak,” ucap Purbaya.

Singkat. Ringkas. Tapi maknanya dalam sekali. Siapa “Bapak” di balik telepon itu? Kita semua bisa menebaknya.

Usai menutup telepon, Purbaya tidak langsung ngacir. Ia berdiri sebentar. Lalu membungkukkan badannya. Beberapa kali. Sebuah gestur pamit? Bisa jadi. Sebuah bentuk penghormatan terakhir untuk tugas yang baru saja ia selesaikan? Sangat mungkin.

Tak sampai hitungan hari—hanya berselang beberapa jam—panggung politik berganti set.
Dari Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto mengetok palu. Purbaya dicopot dari kursi Menteri Keuangan. Posisinya digantikan oleh sang wakil, Suahasil Nazara.

Begitulah politik. Pagi masih memimpin rapat negara, sore sudah jadi mantan.

Tapi lihat cara Purbaya pamit. Tidak ada drama lebay. Tidak ada banting pintu. Telepon berdering, ia menjawab “siap”, membungkuk sopan, lalu melangkah keluar.

Di negeri ini, jabatan memang cuma masalah giliran. Yang mahal itu satu: tahu cara datang dengan terhormat, dan tahu cara pergi dengan bermartabat. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp