Tuah Tanah Kudus: Dari Raja Gula Hingga Raja Jalanan

Oleh: Hendri Chaniago.
Senin: 24:08:2026.

Dulu dia cuma anak tukang rumput. Anak keenam dari 11 bersaudara. Rumahnya di Kudus. Melaratnya tidak tanggung-tanggung. Namanya Haryanto.

Siapa sangka, bocah pencari rumput itu kelak punya bus berderet-deret. Lebih dari 300 unit. Gagah. Menguasai jalur Pantura.

Tapi jalurnya tidak seperti jalan tol yang lurus dan mulus. Berkelok. Terjal.

Tahun 1979, dia diterima jadi prajurit TNI AD. Pangkatnya Bintara. Tugasnya di Tangerang. Jadi sopir kendaraan berat. Gaji tentara zaman itu? Ya cukup buat makan. Tapi Haryanto punya mimpi yang lebih besar dari gaji bulanannya.

Lepas dinas malam, dia tidak tidur. Malah narik angkot. Jadi sopir tembak. Tubuhnya capai? Jelas. Tapi mimpinya lebih keras dari rasa kantuknya.

Dari hasil peras keringat itu, dia menabung. Dapat Rp 1,3 juta di awal 80-an. Dia belikan angkot bekas satu unit. Narik sendiri. Diputar lagi. Tambah lagi. Sampai akhirnya punya puluhan angkot di Tangerang.

Pria Kudus ini nekat. Tahun 2002, bisnis angkotnya dilepas. Dia mau naik kelas: bisnis bus antar-kota. Kumpul-kumpul modal, dapat Rp 2,5 miliar. Hasil jual angkot, tabungan, plus nekat pinjam bank. Belilah 5 unit bus bekas. Rutenya Cikarang–Cimone.

Apes. Busnya sepi. Penumpang enggan naik. Saban bulan pusing dikejar tagihan bank. Napasnya hampir putus. Boleh dikata, dia nyaris gulung tikar.

Di titik kritis itulah nalurinya bekerja. Rute diubah total. Dia balik ke kampung halaman: jalur Pantura. Jakarta–Kudus–Pati.

Ajaib. Busnya mulai terisi.

Tapi buat Haryanto, bisnis bus bukan cuma soal mesin Diesel dan setir bundar. Ada resep rahasia yang bikin PO Haryanto kesohor sampai sekarang. Resepnya sederhana: “Jalur Langit”.

Coba saja naik busnya. Begitu azan berkumandang, bus wajib pinggir jalan. Berhenti. Entah di masjid atau rumah makan. Kru dan penumpang disuruh salat dulu.

Ada sopir yang coba nekat menerobos waktu salat demi ngejar jam tiba? Siap-siap. Bisa langsung di-PHK di tempat. Tanpa ampun. Bagi Haryanto, rezeki itu datang dari yang Maha Kuasa.

Mengabaikan Sang Pemilik Rezeki demi setoran adalah kebodohan paling nyata. Satu lagi: sedekah. Ribuan anak yatim dia santuni rutin. Rumah-rumah ibadah dia bangun. Dia yakin betul, doa anak-anak yatim itulah yang jadi “benteng” armada busnya di jalan raya.

Dulu dia hampir mati berdiri gara-gara utang bank di awal usaha. Sejak itu dia kapok. Bisnisnya harus bersih dari riba. Beli bus baru? Usahakan cash. Arus kas harus sehat.

Sebenarnya, Haryanto tidak sendirian. Tanah lahirnya, Kudus, memang unik. Kabupatennya kecil—paling imut di Jawa Tengah. Tapi urusan melahirkan orang sakti di dunia usaha? Jangan tanya.

Tanah Kudus itu seperti punya tuah tersendiri: dingin di mata, panas di semangat kerja.

Jauh sebelum Haryanto lahir, Kudus sudah punya Oei Tiong Ham. Zaman kolonial dulu, dia dijuluki The Sugar King—Raja Gula dari Asia Tenggara. Menguasai perdagangan gula sampai ke pelosok dunia.

Masih dari urusan tembakau dan asap, ada Nitisemito, Sang Raja Kretek pemilik merek Bal Tiga di awal abad ke-20. Dialah yang meletakkan batu pertama industri kretek modern hingga Kudus bergelar Kota Kretek.

Dari rahim kota yang sama, lahir nama-nama besar seperti Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono (Djarum Group). Meski gurita bisnisnya kini sampai ke perbankan raksasa seperti BCA, komitmen mereka pada tanah kelahiran tak pernah luntur.

Orang Kudus itu memegang teguh filosofi tua: Gusjigang. Gus (bagus akhlaknya), Ji (pinter ngaji), Gang (pinter dagang).

Jadi kalau Haryanto bisa sukses dengan kombinasi “Jalur Langit” dan kerja gila-gilaan, dia sebenarnya sedang menjalankan warisan genetik para pendahulunya. Uletnya minta ampun, ngajinya tidak lepas, dagangnya lincah.

Kini, kalau Anda lewat Pantura dan melihat bus warna hijau atau biru dengan lukisan Menara Kudus di badannya, itulah buah keringat si anak pencari rumput.

Hidup memang ajaib. Asal mau jujur, disiplin, dan tidak lupa “menyapa” yang di atas. Udut dulu, sruput kopinya. Jalani hidup tidak usah kebanyakan mengeluh. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp