Oleh: Hendri Chaniago.
Senin: 14:09:2026.
Kursi Menteri Keuangan itu memang panas. Siapa pun yang duduk di situ pasti merasakannya. Purbaya Yudhi Sadewa baru saja merasakan sengatan kursi tersebut. Presiden Prabowo Subianto akhirnya mengambil keputusan tegas untuk menggantinya.
Di warung kopi, orang-orang sibuk menebak-nebak alasannya. Namun di balik tembok Kemenkeu, persoalannya sangat jelas: ini tentang ritme kerja dan gaya komunikasi.
Gaya bicara Purbaya dikenal spontan dan ceplos-ceplos. Untuk obrolan santai, gaya itu terasa akrab. Namun untuk urusan sensitif seperti utang Kereta Cepat Whoosh dan stabilitas APBN, pasar bisa langsung kaget. Tambah lagi, koordinasi internal di Kemenkeu sempat terasa kurang harmonis.
Begitu kabar reshuffle berembus, pasar saham langsung merespons dengan gejolak. IHSG sempat anjlok ke level 6.377 dan Rupiah tertekan ke Rp17.669 per dolar AS. Orang-orang di lantai bursa sempat menahan napas.
Kepanikan itu surut begitu nama penggantinya diumumkan: Suahasil Nazara. Seketika pasar helan napas lega. IHSG langsung memantul naik ke level 6.534. Pasar paham betul siapa Suahasil.
Dia bukan orang baru di Gedung Juanda. Suahasil adalah teknokrat murni, pria keturunan Nias yang lahir di Jakarta, 23 November 1970. Gelar Profesor Ekonomi UI menyatu dengan ijazah doktor dari Cornell dan University of Illinois.
Sepak terjangnya di Kemenkeu sudah sangat panjang. Dia pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal, lalu dipercaya menjadi Wakil Menteri Keuangan mendampingi Sri Mulyani, hingga berlanjut di Kabinet Merah Putih. Dia paham luar-dalam seluk-beluk angka negara.
Pasar menyukai kepastian. Penunjukan Suahasil memberi sinyal kuat bahwa disiplin fiskal tetap terjaga, defisit APBN ditahan di bawah 3 persen, dan kegaduhan komunikasi publik segera berakhir.
Purbaya sudah menjalankan perannya memicu perhatian. Ibarat weker, bunyinya sudah cukup nyaring. Kini giliran Suahasil yang merapikan meja kerja dan memastikan mesin keuangan negara tetap berjalan tenang, stabil, dan terukur. (***)





