Dapur Gizi Berasap Lagi, Manajemen Baru Justru Bikin Resah

Ditulis Oleh: Selpi Keswita

Libur sekolah sudah usai. Sudah dua hari, anak-anak kembali ke kelas. Tas baru. Sepatu baru. Dan yang paling ditunggu: kotak makan itu datang lagi. Anak-anak bilang: Mau lagi…., I am happy. Makasih MBG. Senang hati mendengarnya.

Senin kemarin, 13 Juli 2026. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi bergulir lagi. Serentak. Di seluruh Indonesia. Semua happy. Ekonomi desa kembali menyala. Ribuan kisah tumbuh kembali dari dapur-dapur makan bergizi gratis.

Benar. Program ini telah menjadi titik temu antara ibu-ibu lokal dan tenaga profesional yang bekerja bahu-membahu. Model pelibatan komunitas lokal telah membuat dapur MBG kami tak lagi sekadar tempat memasak, tapi juga menjadi ruang pertumbuhan sosial.

Kemarin, selama libur panjang dari Juni sampai awal Juli, dapur-dapur program ini sempat mati suri. Relawan kehilangan sumber penghasilan, mereka kebingungan untuk biaya hidup. Relawan itu dibayar harian. Ada anak-anak mereka yang harus di kasih makan. Mereka pusing cari pinjaman. Akhirnya beberapa relawan kami, menangis datang kerumah.

Diluar sana, banyak yang nyinyir, dan mencoba menebak-nebak. Program ini akan mandek. Berbagai cemooh pun datang silih berganti. Cemooh itu datang sekali tiba pada relawan dan para mitra. Mulut netizen memang suka bikin panas. Begini katanya; “Tulah…, gaji kalen besar. 3 juta lebih sebulan. Kami gaji cuma 3ratus. Kalen tu ngabisin uang negara aja, hh”. Sinis sekali pandangan netizen. Tapi relawan…, tetap ga ambil pusing. Dan terus saja berdoa, agar program MBG tetap dilanjutkan.

Begitu juga petani. Peternak. UMKM. Semua berharap pada Program Makan Bergizi Gratis. Termasuk kami para mitra MBG. Kami sudah menghabiskan uang pribadi kami untuk mensukseskan program pemerintah. Ada sekitar 1,5 Milyar ke atas setiap dapur. Tapi kami di ejek-ejek. Dituduh, kami lah penjahatnya.

Siapa yang menuduh? Selain emak-emak yang sukanya kasih sein kiri lalu belok kanan, ada juga emak-emak yang kayak nenek sihir datang-datang tengah malam buta hanya untuk menyalah-nyalah SPPG. Ia datang selalu mengamuk. Entah karena apa.

Selalu ingin menggertak. Nanti saya suspend. Suspend. Suspend. Kain lap dicampakkan. Ugh, ruang ini sempit, pengap, busuk. Hhmmm. Nampak galon, galon dihina. Pakai air bermerek dong…! Nampak sayur dan ayam abis dipotong relawan, padahal 5 menit lagi mau masuk ke kuali tu. Besok beli chiller ya! Ya Allah, buat apa ta klo cuma buat naruh bahan cuma 5 menit doang. Nampak telor banyak sedang dikupas pakai tangan, eh tangan kalen tidak higienis. Besok beli pengupas telor lagi. Padahal…, masukkan telor toh juga pake tangan.

Tiada hari tanpa menghina relawan dan mitra SPPG. Lupa, bahwa para pemilik dapur adalah penyumbang terbesar pada negara untuk mensukseskan program MBG. Mitra lah yang memberikan fasilitas dapur dan bangunan pada negara. Tapi mitra juga yang dituduhnya korupsi 10 ribu. Disama-samakannya uang 10 ribu dengan 100 ribu. Emangnya 10 ribu kalo dibawa ke pasar dapat nasi sebungkus?

Nampak burger, eh ga usah menu burger burger segala. Nampak nasi uduk, ga boleh, nasi goreng ga boleh. Semua serba ga boleh. Jadi apa? Menu harus seragam sak jagad raya. Beli ini, beli itu. Chef harus dua. Suplier minimal 15. Dua hari sudah itu, eh supplier boleh 5. Suka betul ngomong pake dengkul.

Terbayang kantin sekolah, besok akan di bangun SPPG 3T di kantin sekolah. Besok akan diminta CSR bangun kantin jadi SPPG 3T. Emangnya CSR perusahaan ga ada prosedurnya? Kantin 3T teringat, lalu terlupakan lah SPPG 3T yang sudah jadi itu. Lupa klo belum dibayar 100 persen.

Cerita di publik bla bla blaa blaaa. Akan ini akan itu. Semua akan-akan. Akan dipercepat MBG di daerah 3T. Ya di percepat lah kalo gitu! Apa jugak lagi? Orang lah menanti lama. Ada yang sudah 7 bulan jadi, belum juga dibayar tuntas. Ya dipercepat bayar SPPG 3T yang sudah jadi itu. Cepat dioperasionalkan. Ndak usah banyak ngomong, langsung aja action, nek, nek! Kebanyakkan omong, malah banyak menyesatkan.

Ada pulak disertai kata mungkin. Ada pulak mungkin-mungkin. Awak pejabat publik. Dan ha ho ha ho, cengengesan ga jelas, sok nangis, ceeediiih. Drakor aja. Ini program nasional. Bukan warung kopi. Ngomong afiliasi aja, payah-payah. Pening orang dengarnya. Pagi A siang B.

Kadang mitra ketawa bercampur bengis. Siapa yang mau menyulap kantin sekolah tu jadi SPPG? Anggaran dari mana? Jangan pura-pura lupa, dapur 3T sudah banyak yang jadi, dan belum dibayar tuntas.

Macam-macam aja perangai diatas sana. Disuruhnya banyak-banyak menyumbang. Hhmm. Kami diawal, bukan donatur. Kami diminta berinvestasi dalam program pemerintah. Dan itu tidak mudah, butuh banyak biaya. Tidak semua orang bisa.

Dari sumbangan, mari kita bahas ayam. Ayam kurus disuruhnya potong minimal 11. Oops oops. Ga tau aja mana yang benar lagi jadi acuan. Si A ngomong B, si C ngomong D. Presiden Prabowo bilang di Sentul Ayam 2 kg, potong 14. Kini ayam sekilo nak disuruhnya potong 11. Minimal pulak. Hahaha. Emangnya mau buat sup? Ancoor Minah.

Terlalu banyak betul ragam. Sekali ditanya juknis, pake njawab di depan publik ga ngerti juknis-juknis. PKS-PKS apa itu…, oh itu orang terdahulu yang buat. Mbok ya belajar toh apa itu PKS. Apa isinya? Lihat kepentingan mitra, ditimbang dulu berat badan ya, baru ngomong. Pikirkan apa efek ngomong tu. Belajar birokrasi yang benar, belajar administrasi yang teliti, dan belajar produk hukum. Yang mana yang lebih tinggi.

Lucu sekali, sekelas Pejabat Mentri/Badan sanggup bilang ga ngerti juknis-juknis di depan publik. Dan itu dipertontonkan. Owwalaah. Tanpa sadar, inilah yang merusak citra BGN selama ini.

Awalnya kami maklum, ada pergantian manajemen. Tapi lama-lama bikin resah. Kami pada dasarnya mendukung efisiensi itu, jika sifatnya memang urgen. Tapi kalo kebanyakan taktik dan drama, Badan Gizi Nasional (BGN) akan terus jadi bulan-bulanan demo banyak orang.

Silakan sengaja mengerem distribusi atas nama efisiensi, tapi jangan sengaja abai terhadap PKS, dan merubah juknis tanpa kajian. Ini merugikan kami sebagai mitra, kami mitra butuh pengembalian nilai investasi. Karena diawal, kami bukan donatur. Kami investor dalam program pemerintah.

Gara-gara kebablasan. BGN jadi semangat-semangatnya efisiensi. Tapi dalam waktu bersamaan, para mitra disuruhnya royal-royal. Sewa dapur tidak dibayarnya selama libur. Mitra disuruhnya beli ini beli itu. Tidak masuk akal.

Padahal ya, yang nyewa BGN. Mitra lah pemilik bangunan dan fasilitas dapur sebenarnya. Tapi yang nyewa tidak tahu diri. Hasilnya nyata, katanya. Anggaran negara hemat Rp 3 triliun lebih. Angka yang bikin mata terbelalak. Dari mana didapat?

Ya itulah, ada hasil sewa dapur 27 ribuan mitra yang tidak dibayarnya selama 3 minggu libur. Itu bukan prestasi.

Morotarium katanya. Efek kebablasan. Berapa orang yang jadi korban? Sekarang morotarium, kemaren kenapa jual beli titik? Sekarang efisiensi, kemaren kenapa beli kaus kaki, beli cctv, beli-beli motor listrik. Buat apa? Ugal-ugalan.

Bicara asal aja. Tanpa memikirkan dampaknya. Berapa banyak pengusaha yang tadinya sudah berjaya dari usahanya terdahulu, lalu bangkrut karena beli titik SPPG. Tambah pulak kena morotarium. Ini tidak adil bagi para mitra. Apalagi, PKS tanpa ada amandemen, tiba-tiba keluar SE. Juknis akan dirubah. Itupun diumumkan duluan. Bernafsu kali mau pencitraan. Show up mulu. Ga tau tempat dan waktu. Tidak sesuai momen. Bukankah itu pembahasan internal baru di publikasikan?

Semuanya itu, memberatkan para mitra saja. Manajemen baru benar-benar bikin resah.

Ini bukan soal manajemen warung kopi, tapi skala nasional. Dulu, makanan dibagikan sampai hari Sabtu. Sekarang dievaluasi. Jadwalnya dipangkas. Cukup Senin sampai Jumat. Sabtu libur. “Kami sesuaikan dengan hari efektif sekolah, sembari mematangkan juknis final,” ujar seorang pejabat di lingkungan BGN saat berbincang dengan media. Masuk akal.

Nah, bagi sekolah yang air liurnya sudah terlanjur menetes tapi belum kebagian, pintu pengajuan baru ditutup. Morotarium. Morotarium katanya. Efek kebablasan. Ada ribuan dapur yang sedang tahap persiapan. Kenapa mereka yang jadi korban? Kemaren kok jual beli titik? Sekarang morotarium, efisiensi. Kemaren kok beli kaus kaki, beli cctv, royal-royal beli motor listrik. Entah untuk apa. Ugal-ugalan. Tanpa memikirkan dampaknya.

Berapa banyak pengusaha Indonesia yang sudah berjaya tadinya, lalu jatuh tapai. Bangkrut karena beli titik SPPG, lalu kena morotarium. Ini tidak adil bagi para mitra. Mendadak, PKS tanpa ada amandemen, _keluar SE. Juknis akan dirubah. Sebelum dirubah, dipublikasikan tanpa diajak mitra mempertahankan kepentingan pengembalian nilai investasinya. Semuanya itu, memberatkan para mitra saja.

Sebenarnya mitra resah, entah kapan nilai investasi kembali. Jika digunakan untuk ekspansi bisnis produktifnya, tentu tidak akan selama ini. Ini yang netizen tidak tau. Dikiranya, SPPG dapat untung 6 juta sehari. Padahal, Pemerintahan lah yang menyicil kepada mitra senilai itu. Entah sampai kapan. Kalo mitra teriak, justru mitra yang dibilang lapar.

Bapak presiden,

Tolong dengarkan kami para mitra SPPG. Kami hanya ingin berpartisipasi berbuat nyata terhadap negara dengan ikut mensukseskan program strategis pemerintah. Karena kami tau ini program mulia. Program inilah yang bikin gairah ekonomi desa kami menyala.

SPPG kami butuh telur. Butuh beras. Butuh ayam dan sayur. Jumlahnya ton-ton an seminggu. Maka, terbukalah peluang usaha untuk kelompok tani, peternak lokal, dan UMKM. Uang negara ini telah berputar di bawah. Kami ingin petani di desa kami hasilnya sampai ke dalam ompreng, kami ingin peternak di desa kami hasilnya sampai ke dapur kami, dan hasil produk UMKM di tempat kami, masuk ke dapur kami.

Kami juga tidak ingin monopoli, seperti yang nenek sihir itu bilang. Siapa saja bisa jadi suplier. Selama ada legalitas. Ada kurasi. Harus bersih. Harus higienis. Dan yang paling penting: sanggup, konsisten. Dapur kami itu memasak ribuan porsi setiap subuh. Kalau ayamnya telat datang karena peternaknya ketiduran, bisa kacau-kacau mania. Kalau pisangnya datang cuma dua tandan, malah kicau-kicau mania.

Kini, para elit berdebat di ruang sidang DPR RI yang dingin. Kini, giliran dapur-dapur MBG di tiap daerah yang bersiap mengepulkan asapnya. Tapi mitra masih tetap resah. Keadilan para mitra memang harus tegak. Karena BGN tidak punya dapur, tapi mitra lah pemilik dapur MBG yang sebenarnya. Mitra bertahan hanya karena anak-anak di pelosok daerah, dan relawan yang menggantungkan hidupnya dari Program MBG.

Urusannya sederhana: perut kenyang, belajar tenang, orang tua tenang.(***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp