Gagal Jadi ASN, Takut Jadi Pengusaha

Oleh: Hendri Chaniago.
Minggu: 20:09:2026.

Tiap tahun polanya sama. Acara perpisahan sekolah usai. Tangis haru menyapu pipi. Foto bersama diunggah ke Instagram.

Lalu, besoknya kebingungan datang.

Lulusan SMA dan SMK di Kuantan Singingi kembali menumpuk. Jumlahnya terus bertambah. Sementara lapangan kerja di daerah begitu-begitu saja. Sangat minim.

Menunggu seleksi ASN atau PPPK jadi pilihan paling populer. Seragam cokelat masih jadi mimpi tertinggi. Ada rasa aman di sana. Ada jaminan masa depan, kata orang tua.

Padahal kuota yang diterima sangat sedikit dibanding ribuan anak muda yang antre tiap tahun. Matematika sederhananya jelas tak masuk akal. Lebih banyak yang gigit jari dibanding yang lulus.

Pilihan menjadi pengusaha jarang diambil. Sewaktu ditanya, alasannya selalu seragam: tidak ada ilmunya.

Rasa takut mereka riil. Takut rugi. Takut modal habis. Takut diketawain tetangga kalau usahanya gulung tikar. Dari kecil kita memang jarang diajari cara berdagang. Di sekolah, kita lebih banyak disuruh menghafal ketimbang mempraktikkan.

Perbedaan dengan pola pendidikan di luar negeri terasa sangat kontras. Anak mudanya begitu percaya diri berbisnis karena mereka tidak belajar bisnis dari papan tulis.

Di negara-negara seperti Amerika, Jerman, atau Singapura, pelajaran kewirausahaan bukan teori hafalan yang diuji lewat soal pilihan ganda. Mereka memakai pendekatan Project-Based Learning.

Pakar pendidikan kawakan dari Harvard University, Howard Gardner, pernah berpesan bahwa anak-anak belajar paling efektif ketika mereka melakukan sesuatu yang benar-benar nyata bagi mereka, bukan sekadar menghafal jawaban untuk ujian.

Prinsip itulah yang mereka terapkan. Sejak bangku sekolah menengah, siswa sudah diberi tantangan nyata. Tiap kelompok diberi modal beberapa Dolar, lalu diminta membuat produk. Terserah mau membuat kerajinan, olahan makanan, atau jasa digital. Setelah itu, mereka benar-benar diterjunkan ke pasar. Ada program Business Day di sekolah, tempat masyarakat umum datang dan membeli karya mereka.

Dari situ, anak-anak belajar hal paling mendasar. Mereka belajar cara berbicara dengan pembeli, menentukan harga, hingga menghadapi situasi saat barangnya ternyata tidak laku. Mereka diajari langsung berdarah-darah di lapangan, tetapi dalam pengawasan.

Sistem di sana juga sangat menghargai mentorship. Sekolah rajin mendatangkan pengusaha lokal, pemilik toko, hingga alumnus yang sukses berbisnis untuk duduk bersama siswa. Bukan untuk ceramah dua jam yang membuat mengantuk, melainkan untuk membedah masalah di lapangan.

Cara mereka memandang kegagalan pun jauh berbeda. Di tempat kita, anak muda yang mencoba buka usaha lalu rugi dan tutup langsung diberi cap gagal. Tetangga mulai berbisik-bisik. Orang tua mulai menyindir agar lebih baik ikut tes pegawai saja.

Di luar negeri, mentalitasnya dibalik. Prof. Carol Dweck dari Stanford University menyebut ini sebagai Growth Mindset—pola pikir bertumbuh. Dalam bukunya, ia menegaskan bahwa kegagalan bukanlah identitas bahwa seseorang gagal, melainkan sebuah informasi bahwa ia sedang belajar.

Gagal dalam bisnis pertama di usia belasan tahun justru dianggap prestise di sana. Itu bukti bahwa si anak punya keberanian untuk mencoba. Guru dan orang tua akan menepuk bahu mereka sebagai bentuk dukungan atas proses belajar tersebut.

Ekosistem inilah yang membentuk ilmu dan mental mereka sekaligus. Begitu memegang ijazah kelulusan, mereka tidak cuma membawa lembaran kertas berisi nilai angka. Mereka membawa pengalaman, portofolio, dan rasa percaya diri bahwa mereka bisa memberi makan diri sendiri tanpa bergantung pada lowongan kerja.

Inilah hal fundamental yang mestinya dipikirkan oleh Pemda Kuansing.

Pakar ekonomi dan bapak corporate entrepreneurship, Peter Drucker, pernah menyatakan bahwa cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.

Pemerintah daerah tidak bisa lagi cuma duduk manis menunggu laporan. Atau sekadar membuat seminar sehari, memotong pita, lalu selesai. Pemda harus turun tangan membidangi lahirnya pengusaha muda untuk menciptakan masa depan Kuansing.

Kurikulum muatan lokal perlu diubah. Anak-anak sekolah harus diajari cara jualan digital dan mengelola modal. Pusat inkubasi bisnis di daerah harus dibangun dengan merangkul para pelaku UMKM senior sebagai mentor.

Anak muda tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian tanpa arah. Kasih mereka pendampingan dan permudah akses modalnya.

Kalau ekosistem ini hidup, wajah Kuansing akan berbeda. Anak-anak muda tidak lagi menggantungkan nasib pada lembar pengumuman tes pegawai. Mereka punya taji dan keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Sudah saatnya mengubah jalan pikiran. Negeri ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang yang berani membuka jalan. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp