Ketika Garuda Terluka di Aceh

Oleh: Hendri Chaniago.
Minggu: 16:08:2026.

Nyes. Itu perasaan pertama waktu video itu lewat di layar HP saya.

Lambang negara kita—Burung Garuda Pancasila—diinjak. Dibopong. Diperlakukan entah bagaimana di Aceh.

Jujur saja, dada terasa sesak melihat itu. Garuda itu bukan sekadar benda mati. Dia simbol. Ada keringat, darah, dan air mata para pendiri bangsa yang dititipkan di sana. Wajar kalau rasa geram muncul. Sangat wajar kalau emosi langsung naik ke ubun-ubun.

Mari kita ingat waktu masih duduk di bangku SD dulu. Hal pertama yang wajib kita hapal luar kepala adalah Pancasila. Bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng, hingga padi dan kapas yang ada di dalam perisai simbol itu.

Dulu, guru kita mengajarkannya dengan penuh rasa hormat. Kita mengeja setiap silanya setiap pagi Senin di bawah terik matahari lapangan sekolah. Nilai-nilai di dada Garuda itu bukan sekadar teks hafalan ujian, tapi fondasi berpikir kita sebagai manusia Indonesia.

Coba sejenak bayangkan. Jika simbol itu tidak pernah ada, atau jika cengkeraman Garuda pada pita Bhinneka Tunggal Ika itu terlepas, mungkin negara seluas dan sebesar ini sudah lama bercerai-berai.

Dari Sabang sampai Merauke, ratusan suku, bahasa, dan latar belakang dipersatukan oleh lambang dan nilai yang dibawanya. Tanpa pengikat sekuat Garuda, kita hanya serpihan-serpihan kecil yang sangat mudah diombang-ambingkan zaman.

Tapi, tarik napas sebentar.

Di era algoritma gila-gilaan seperti sekarang, emosi adalah barang dagangan paling laris. Makin banyak orang marah, makin tinggi angka tayangan. Makin banyak jempol mengetik caci maki, makin besar ‘panggung’ yang didapat si pembuat masalah.

Persoalannya, kita perlu melihat apakah ini murni aksi provokasi yang sengaja didesain supaya publik bertengkar, atau memang ada maksud lain di baliknya.

Sudut pandang pertama: ini aksi provokasi murahan. Ada pihak yang mencari perhatian atau kehabisan panggung, lalu memanfaatkan simbol negara untuk memancing amarah massa. Kalau publik langsung terbakar dan saling tuduh, skenario tersebut sukses besar. Publik masuk ke dalam perangkap.

Sudut pandang kedua: ada pesan tersirat yang melatarbelakanginya. Ungkapan frustrasi, kritik sosial yang tersumbat, atau kekecewaan mendalam atas suatu keadaan. Kejelasan soal pelaku, latar belakang, dan cerita utuhnya masih belum kita ketahui secara pasti.

Satu hal yang pasti: jangan terburu-buru menyimpulkan.

Menyimpulkan perkara sensitif di media sosial tanpa fakta utuh itu seperti memesan kopi yang baru diaduk setengah jalan. Rasanya dinilai pahit padahal gulanya masih mengendap di dasar cangkir.

Kini saatnya menunggu penjelasan resmi. Biarkan aparat penegak hukum bekerja dan pemerintah daerah memberikan keterangan. Biarkan fakta yang bicara, bukan asumsi liar yang berseliweran di grup WhatsApp.

Sikap sabar ini penting karena hal yang dipertaruhkan sangat besar: keutuhan sebagai sebuah bangsa. Ulah satu-dua orang jangan sampai membuat publik menaruh curiga pada saudara-saudara di Aceh. Nila setitik jangan sampai merusak persatuan satu Nusantara.

Tetaplah kritis. Rasa cinta pada simbol negara jangan sampai padam. Jika terbukti ada pelanggaran hukum, biarkan proses hukum berjalan setegas-tegasnya. Namun, pikiran dingin harus tetap diutamakan.

Jangan mau diadu domba. Jangan gampang terprovokasi.

Seruput kopi Anda, mari kawal kasus ini dengan tenang namun tetap awas. (***)


Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial
WhatsApp