Oleh: Hendri Chaniago.
Minggu: 30:08:2026.
Pesta Pacu Jalur selalu usai dengan cara yang sama. Meriam karbit dingin. Sungai Kuantan kembali tenang. Yang tertinggal hanya sampah dan dompet warga yang kembali sepi. Perputaran uang miliaran rupiah seperti cuma menumpang lewat. Fenomena ganjil inilah yang dibongkar habis oleh Dr. Dini Handayani lewat riset disertasinya di FISIP Universitas Riau.
Gelaran Pacu Jalur di Sungai Kuantan memang selalu bikin merinding. Dahsyat.
Bukan cuma soal ribuan pendayung yang mengayuh seirama. Bukan sekadar dentuman meriam karbit yang menggetarkan dada. Tapi ada lautan manusia. Ada sorak-sorai. Ada emosi yang membakar Tepian Narosa.
Duit berputar deras. Miliaran rupiah.
Pedagang es kelapa panen. Penjual kerupuk kuah tersenyum lebar. Penginapan penuh. Parkiran melimpah.
Tapi mari tengok suasana seminggu setelah bendera finish terakhir dikibarkan. Meriam karbit sudah dingin. Sampah sisa penonton selesai dibersihkan. Sungai Kuantan kembali tenang. Di sinilah letak persoalan utamanya. Dompet warga lokal kembali sepi. Kondisi ekonomi berbalik ke setelan awal.
Roda ekonomi yang tadinya berputar secepat kayu jalur di atas air mendadak berhenti total. Manfaat ekonominya musiman. Cuma numpang lewat seperti angin malam.
Kondisi inilah yang membuat Dr. Dini Handayani resah. Beliau tak cuma menonton kemeriahan. Melalui riset disertasi doktoralnya di FISIP Universitas Riau, beliau turun langsung ke lapangan. Meneliti. Merumuskan jawaban atas penyebab pesta semegah ini belum sanggup membuat warga Kuansing sejahtera secara permanen.
Di dunia akademis, ada teori kondang dari David C. Korten tentang pembangunan masyarakat. Kata Korten, ada lima kunci: cara ambil keputusan, kapasitas warga, variasi lokal, pembelajaran sosial, dan jaringan kelembagaan.
Bahasanya memang agak berat. Tapi intinya sederhana: kalau mau warga maju, lima mesin itu harus jalan bareng.
Hasil riset Dini menemukan fakta pahit. Di Kuansing, mesin-mesin itu belum nyambung. Kapasitas UMKM kita masih pas-pasan. Begitu event selesai, warga bingung mau jualan apa lagi. Akses teknologi dan digitalisasi masih minim. Promosi masih gaya lama.
Hal yang paling bikin elus dada adalah ketergantungan pada pemerintah yang masih sangat tinggi. Apa-apa menunggu APBD. Ada anggaran, jalan. Tak ada anggaran, padam.
Lebih tragis lagi nasib lembaga adat. Pemangku adat sering kali cuma dipakai buat pemanis acara. Duduk di panggung kehormatan. Pakai pakaian adat yang gagah. Tepuk tangan saat pembukaan.
Setelah itu, suara mereka tak pernah benar-benar didengar dalam perencanaan pembangunan.
“Pacu Jalur tak akan pernah memberi kesejahteraan permanen jika lembaga adat hanya dijadikan ornamen seremonial, bukan subjek penggerak pembangunan.” kata, Dr. Dini Handayani, S.E., M.Si.
Padahal, Pacu Jalur itu lahir dari rahim adat. Dari keringat gotong royong anak kemanakan. Kalau adat cuma dijadikan ornamen seremonial, pembangunan Kuansing itu seperti pohon besar tanpa akar. Tampak rindang dari luar, tapi rentan tumbang dipukul angin.
Nah, di sinilah menariknya pemikiran Dr. Dini Handayani. Lewat ujian doktoralnya, beliau tak cuma datang membawa kritik. Beliau menawarkan solusi nyata. Teori Korten tadi dibongkar. Ditambahi satu pilar utama yang selama ini hilang: Penguatan Kelembagaan Adat.
Judul konsepnya mentereng: Local Community Development Based on Customary Institutional Strengthening Model.
Bahasanya boleh saja berbahasa Inggris, tapi intinya sangat simpel. Dini ingin menegaskan bahwa kalau mau Pacu Jalur memakmurkan warga, peran pemangku adat harus dikembalikan sebagai nahkoda. Bukan sekadar penonton VIP.
Ada empat hal besar yang ditawarkan. Pertama, partisipasi asli. Pemangku adat harus punya hak suara dalam Musrenbang, dari tingkat desa sampai kabupaten. Bukan cuma formalitas setor muka.
Kedua, menjaga budaya. Boleh cari uang dari pariwisata, tapi komersialisasi tidak boleh merusak nilai luhur dan norma lokal.
Ketiga, memperkuat ikatan sosial. Semangat batobo—gotong royong khas kita—harus dihidupkan kembali.
Keempat, kesejahteraan yang tahan lama. Duit musiman dari Pacu Jalur disuntikkan untuk membangun unit bisnis berbasis adat yang terus beroperasi 365 hari setahun. Bukan cuma 4 hari saat event berlangsung.
“Ekonomi Pacu Jalur tidak boleh berhenti saat meriam karbit dingin. Rezeki musiman ini harus diubah menjadi unit usaha produktif berbasis komunitas adat yang bertahan sepanjang tahun, ” sambung Dr. Dini.
Langkah yang harus diambil Pemkab Kuansing sudah sangat jelas. Dr. Dini memberikan rekomendasi yang konkret dan realistis lewat hasil kajian disertasinya.
Pemkab perlu membentuk Badan Pengelola Pacu Jalur Satu Pintu. Festival megah ini tidak boleh lagi dikelola secara ketengan. Harus ada wadah terpadu dengan keanggotaan yang lengkap: Pemerintah, Akademisi, Lembaga Adat, dan Masyarakat.
Langkah ini membumikan kembali pilar hidup warga Kuansing sendiri: Tigo Tungku Sajorangan dan Batobo. Bersatunya pemerintah, ulama/akademisi, dan adat.
Selain itu, Pemkab dan kampus harus turun tangan membina UMKM lokal. Mengajari manajemen bisnis, pembukuan, hingga cara jualan di TikTok dan Instagram. Produk lokal Kuansing harus tetap laku dibeli orang luar daerah walau event Pacu Jalur sudah lewat berbulan-bulan.
Retribusi dan keuntungan event juga harus dikelola secara transparan lewat ekosistem berbasis adat. Hasilnya harus benar-benar menetes sampai ke anak kemanakan di ceruk-ceruk kampung.
Pacu Jalur itu karya agung leluhur. Sebuah mahakarya. Namun, kebanggaan tak bisa dimakan untuk bayar uang sekolah anak. Sorak-sorai di tepi sungai tak otomatis mengisi piring di dapur.
Saatnya Pacu Jalur ditata ulang agar tidak cuma menjadi tontonan yang menghibur mata, tapi menjadi mesin yang menyejahterakan perut.
Sungai Kuantan sudah memberi kita tradisi yang luar biasa. Sekarang tinggal bergantung pada keberanian kita bersama: memilih terus puas menjadi penonton kemeriahan musiman, atau berani melangkah menata masa depan. (***)





