Latest posts
-
Pria Tanpa HP yang Membangun Kota

Oleh: Hendri ChaniagoSelasa, 25:08:2026 Pagi itu, pertengahan tahun 2006-an. Di kawasan Bintan Centre, Batu 9. Saya duduk di kantornya. Saya diundangnya untuk wawancara. Bertatap muka langsung dengan owner CV Sinar Bahagia, Suyono—atau yang lebih akrab disapa Pak Yono. Waktu itu, zaman sudah mulai canggih. Orang-orang sibuk pamer ponsel. Pegang HP di mana-mana. Biar kelihatan seperti…
-
Referensi Membentuk Persepsi

Penulis: H. Marwan Yohanis, S.Sos,. M.I.Kom Dua anak kecil sedang diajak pulang kampung oleh orang tuanya.Sebelumnya mereka belum pernah melihat kerbau. Pada saat sedang bermain, tiba-tiba dari arah yang berbeda, keduanya melihat seekor kerbau. Mereka terkejut lalu berlari pulang dan menceritakan apa yang mereka lihat kepada orang tuanya. Dengan penuh semangat Andra berkata, “Kerbau itu…
-
Belajar Al-Amin di Era Centang Biru

Oleh: Hendri Chaniago.Senin: 24:08:2026. Besok Selasa, 25 Agustus 2026. Kalender merah. Hari Maulid Nabi. Biasanya, jempol kita mendadak lincah. Sibuk copy-paste ucapan selamat di story WhatsApp. Pakai gambar kubah masjid plus ornamen hijau. Estetik. Setelah itu selesai. Kembali scrolling TikTok, mengeluh harga beras naik, atau merutuki jalan raya yang berlubang tapi tak kunjung ditambal. Padahal,…
-
Kami Tidak Berburu Kasus, Kami Merawat Harapan

Oleh: Hendri Chaniago.Senin: 24:08:2026. Layar ponsel redaksi TintaKita.com mendadak berkedip. Pesan WhatsApp masuk bertubi-tubi. Isinya senada. Banyak pembaca menanyakan alasan TintaKita jarang menulis berita investigasi. Ada juga yang penasaran kenapa kami tidak pernah membongkar kasus korupsi atau kejahatan. Saya tersenyum membaca pesan-pesan itu. Dalam hati, saya bersyukur. Pesan itu bukti bahwa TintaKita dibaca. Dicari. Dibutuhkan.…
-
Secukupnya, Bukan Semaunya

Oleh: Hendri Chaniago.Minggu: 23;08:2026. Kopi itu nikmat. Asal secangkir. Coba kalau segalon. Mual. Bakso juga begitu. Semangkuk terasa gurih. Dagingnya kenyal. Kuahnya hangat. Tapi kalau disajikan sebaskom, itu bukan makan enak. Itu siksaan. Sama seperti pelangi. Ia indah justru karena cuma menumpang lewat. Paling sepuluh menit. Setelah hujan teduh. Lalu hilang. Bayangkan kalau pelangi mejeng…
-
“Sihir” Anak Kampung di Tepian Narosa

Oleh: Hendri Chaniago.Minggu: 23:08:2026. Ini bukan soal uang. Bukan pula soal piala. Ini soal harga diri nagoghi—kampung halaman. Bicara jujur saja. Di atas kertas, Bintang Emas Cahaya Intan 2023 itu menakutkan. Mentereng. Mewah. Mereka memboyong atlet dayung dari Jawa Barat. Bukan kaleng-kaleng. Ini atlet terlatih. Terbiasa dengan ilmu keolahragaan, gizi terukur, dan pola latihan modern.…
-
Melaju Kencang Tanpa Melupakan Akar

Oleh: Hendri Chaniago.Sabtu: 22:08:2026. Dulu, Pacu Jalur adalah panggung murni anak kampung. Tanpa pemusatan latihan, tanpa try out berbulan-bulan. Stamina mereka ditempa langsung oleh lumpur sawah dan kerja keras harian. Begitu hari H tiba di Tepian Narosa, hanya satu yang dipertaruhkan: marwah desa. Menang disyukuri, kalah ditertawakan bersama di warung kopi. Semua digerakkan oleh ikatan…
-
KETIKA HUKUM MULAI MENUSUK KE ATAS

Penulis : H. Marwan Yohanis, S.Sos,. M.I.Kom. Dulu kita sering mengeluhkan satu keadaan yang terasa begitu akrab dalam kehidupan bernegara: hukum tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Rakyat kecil mudah berhadapan dengan hukum, maling ayam ditangkap, diproses dan dihukum. Pelanggaran kecil cepat ditindak. Orang yang tidak punya kekuasaan sering kali tidak memiliki banyak pilihan…
-
Mantan Sopir Truk Mau Beli Bayan?

Oleh: Hendri Chaniago.Kamis: 20:08:2026. Geger. Pasar modal Indonesia mendadak jantungan. Namanya juga bursa, kalau nggak bikin deg-degan ya bukan bursa namanya. Kabar burung berhembus kencang: Haji Isam, pengusaha tangguh asal Kalimantan Selatan, dikabarkan bakal mencaplok 62 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Angka 62 persen itu bukan main-main. Itu porsi kepemilikan sang pengendali, Low…
-
MENJUAL KEBENCIAN

Penulis: H. Marwan Yohanis, S.Sos, M.I.Kom Ada satu hal yang patut kita renungkan ditengah kehidupan sosial yang semakin gaduh: mengapa ada orang yang begitu bersemangat mengajak orang lain membenci? Mengapa perbedaan pendapat harus diubah menjadi permusuhan? Mengapa kritik harus disertai penghinaan? Mengapa ketidaksetujuan harus berujung pada fitnah, penghakiman, bahkan ajakan melawan secara brutal? Pertanyaan-pertanyaan itu…