Latest posts
-
“Sihir” Anak Kampung di Tepian Narosa

Oleh: Hendri Chaniago.Minggu: 23:08:2026. Ini bukan soal uang. Bukan pula soal piala. Ini soal harga diri nagoghi—kampung halaman. Bicara jujur saja. Di atas kertas, Bintang Emas Cahaya Intan 2023 itu menakutkan. Mentereng. Mewah. Mereka memboyong atlet dayung dari Jawa Barat. Bukan kaleng-kaleng. Ini atlet terlatih. Terbiasa dengan ilmu keolahragaan, gizi terukur, dan pola latihan modern.…
-
Melaju Kencang Tanpa Melupakan Akar

Oleh: Hendri Chaniago.Sabtu: 22:08:2026. Dulu, Pacu Jalur adalah panggung murni anak kampung. Tanpa pemusatan latihan, tanpa try out berbulan-bulan. Stamina mereka ditempa langsung oleh lumpur sawah dan kerja keras harian. Begitu hari H tiba di Tepian Narosa, hanya satu yang dipertaruhkan: marwah desa. Menang disyukuri, kalah ditertawakan bersama di warung kopi. Semua digerakkan oleh ikatan…
-
KETIKA HUKUM MULAI MENUSUK KE ATAS

Penulis : H. Marwan Yohanis, S.Sos,. M.I.Kom. Dulu kita sering mengeluhkan satu keadaan yang terasa begitu akrab dalam kehidupan bernegara: hukum tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Rakyat kecil mudah berhadapan dengan hukum, maling ayam ditangkap, diproses dan dihukum. Pelanggaran kecil cepat ditindak. Orang yang tidak punya kekuasaan sering kali tidak memiliki banyak pilihan…
-
Mantan Sopir Truk Mau Beli Bayan?

Oleh: Hendri Chaniago.Kamis: 20:08:2026. Geger. Pasar modal Indonesia mendadak jantungan. Namanya juga bursa, kalau nggak bikin deg-degan ya bukan bursa namanya. Kabar burung berhembus kencang: Haji Isam, pengusaha tangguh asal Kalimantan Selatan, dikabarkan bakal mencaplok 62 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Angka 62 persen itu bukan main-main. Itu porsi kepemilikan sang pengendali, Low…
-
MENJUAL KEBENCIAN

Penulis: H. Marwan Yohanis, S.Sos, M.I.Kom Ada satu hal yang patut kita renungkan ditengah kehidupan sosial yang semakin gaduh: mengapa ada orang yang begitu bersemangat mengajak orang lain membenci? Mengapa perbedaan pendapat harus diubah menjadi permusuhan? Mengapa kritik harus disertai penghinaan? Mengapa ketidaksetujuan harus berujung pada fitnah, penghakiman, bahkan ajakan melawan secara brutal? Pertanyaan-pertanyaan itu…
-
PAPAN CATUR

Penulis: H. Marwan Yohanis, S.Sos., M.I.Kom Diatas Papan Catur Berbeda.Di Dalam Kotak Semua Sama. Hidup ini barangkali hanyalah sebuah papan sunyi yang kita sebut permainan catur. Diatasnya, setiap bidak lahir dengan takdirnya sendiri. Di atas papan catur, kita mengenal perbedaan. Ada raja, ada menteri, ada benteng, kuda, gajah dan pion. Masing-masing memiliki fungsi, memiliki ruang…
-
Umpan Prabowo di Atas Podium: Cara Pintar Membaca Kawan dan Lawan

Oleh: Hendri Chaniago.Senin: 17:08:2026. Banyak orang geleng-geleng kepala. Tiap kali Pak Prabowo bicara di podium, besoknya jagat maya langsung heboh. Media riuh. Oposisi tepok jidat. Netizen sibuk bikin meme.Semua kompak bilang: “Waduh, Pak PS blunder lagi. Ngawur lagi.” Kenyataannya tidak sesederhana itu.Jangan terburu-buru menghakimi. Mari kita tarik napas panjang, seruput kopi item hangat, lalu pikirkan…
-
Ketika Garuda Terluka di Aceh

Oleh: Hendri Chaniago.Minggu: 16:08:2026. Nyes. Itu perasaan pertama waktu video itu lewat di layar HP saya. Lambang negara kita—Burung Garuda Pancasila—diinjak. Dibopong. Diperlakukan entah bagaimana di Aceh. Jujur saja, dada terasa sesak melihat itu. Garuda itu bukan sekadar benda mati. Dia simbol. Ada keringat, darah, dan air mata para pendiri bangsa yang dititipkan di sana.…
-
Salah ‘Lontiak’ di Astaka Mangkrak

Laporan: Hendri Chaniago.Minggu: 16:08:2026. Atapnya melengkung indah. Selembayung Melayu yang khas. Di atasnya bertengger kubah. Berundak-undak. Gaya Timur Tengah. Kombinasi yang anggun. Di atas kertas. Tapi cobalah berdiri di depannya hari ini. Di pinggir lapangan itu. Yang Anda lihat bukanlah keagungan, melainkan tumpukan sisa kayu bekisting. Puing-puing beton. Dan sisa perancah yang masih memeluk erat…
-
Sakralnya Pacu Jalur

Oleh: Hendri Chaniago.Senin: 11:08:2026. Orang Kuantan Singingi itu unik. Kalender mereka beda dengan orang kebanyakan. Kalau orang lain cuma punya satu musim mudik besar dalam setahun—ya Idulfitri itu—orang Kuansing punya dua. Satu lagi hadir di bulan Agustus. Tepat saat Festival Pacu Jalur digelar. Bagi anak rantau Kuansing, dua momen ini punya derajat yang hampir sejajar.…